Skip to content

PERBEDAAN KATA WAFAT-MATI DAN TEWAS

Selamat datang sobat dumay semuanya…..
Kali ini saya akan mengupas sedikit tentang sebuah kata dengan makna yang sama namun dalam pemakaiannya “seharusnya” dibedakan. Memang dalam pada itu, arti sebenarnya sama dan tidak beda sedikitpun. Pada saat saya sekolah dulu pernah diajarkan tentang tata bahasa dan penempatannya pada sebuah kalimat.
Dan sesuai judul diatas, kata WAFAT sudah selayaknya disematkan bagi mereka yang meninggal dunia dalam keadaan berbuat baik, dan orang tersebut terpandang, dimuliakan oleh pribadi atau masyarakat setempat. Sedangkan untuk kata MATI, biasa disematkan pada kebanyakan orang yang meninggal dunia. Dan kedudukan mereka adalah orang biasa.
Sedangkan untuk kata TEWAS, yang pantas menyandang adalah bagi mereka para pencuri, perampok, maling, koruptor dan sekumpulan orang-orang seperti mereka. Dan yang menjadi miris adalah saat orang-orang menunaikan ibadah haji, dan sedang terjadi kecelakaan sehingga menyebabkan kematian ratusan orang, banyak media televisi yang menyatakan bahwa ” RATUSAN JAMAAH HAJI TEWAS KARENA TERJADI KECELAKAAN “. Sebagai seorang muslim, saya pribadi sangat menyayangkan kata tewas yang disematkan pada mereka para jamaah haji. Mendengar hal itu, saya jadi bertanya : apakah sudah ada pergeseran nilai makna suatu kata dalam bahasa indonesia, ataukah mereka para reporter, para penyiar televisi kurang memahami pemakaian kata dalam suatu kalimat…?.
Untuk saat ini, saya perhatikan di beberapa sekolah ternyata sudah ada pergeseran tugas seorang guru. Kalau dahulu,menjadi seorang guru adalah tugas mulia. Mereka mendidik serta mengajar. Akan tetapi untuk saat ini, kebanyakan dari mereka hanya mengajar supaya anak didik mereka menjadi pintar. Mereka berlomba-lomba mempromosikan bahwa sekolah mereka adalah sekolah terbaik dan paling baik dengan berbagai macam atribut, piala yang pernah diraih.
Semua ini tidak seluruhnya salah, akan tetapi, akan lebih bijak jika mereka memberi contoh yang baik, dan bukannya mengajari siswa untuk belajar demo dijalanan. Dari sini bisa kita tarik benang merah…kurangnya moral para generasi muda tidak lepas dari peran seorang guru di sekolah yang kian hari kian memudar. Hanya mengajari supaya siswa pintar dan kurang menekankan nilai tata krama pada siswa. Dari ilustrasi ini bisa disimpulkan ” kemungkinan mereka yang kurang mengerti tata bahasa serta penempatannya dalam kalimat yang benar adalah sekelompok orang yang pandai dan pintar namun kurang mengerti etika dan tata krama yang baik”.
Dan sebagai akhir tulisan ini, saya menghimbau kepada siapa saja yang membaca tulisan ini, entah anda seorang guru, mahasiswa, pejabat ataupun seorang rakyat, marilah kita didik anak-anak kita, generasi muda kita agar menjadi generasi yang punya tata krama serta etika kesopanan. Karena hal ini sudah dianjurkan oleh beliau Rosululloh SAW ” Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia “.
Tulisan ini tidak untuk menyinggung ataupun menghina seseorang atau instansi tertentu. Tulisan ini hanyalah ungkapan seorang rakyat biasa yang menjadi orang tua yang prihatin terhadap generasi masa depan bangsa. Jika ada yang merasa tersinggung, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Semoga bermanfaat…!

CARA DAPAT DOLLAR DARI APLIKASI ANDROID

Selamat datang sobat blogger semuanya…..

Pernahkah terpikir oleh Anda untuk mendapatkan pekerjaan yang :

– Memiliki potensi penghasilan TIDAK TERBATAS
– Bisa Dikerjakan dari rumah
– Tidak memerlukan modal hingga PULUHAN JUTA RUPIAH, dan juga…
– Tidak akan mengurangi waktu kebersamaan Anda dengan orang terkasih ?

Bukanlah hal yang mengherankan kok, jika Anda mengharapkan memiliki karir dengan hal-hal diatas.

Itu sangat wajar…Kenapa wajar?

Karena pekerjaan seperti di atas memang ADA di kehidupan kita..!

*Jika Anda tetap meneruskan membaca tulisan ini, maka Anda SELANGKAH lagi akan mengetahui pekerjaan Apa itu….!

BUKAN! Ini Bukan MLM..

Dan NO TIPU-TIPU..!

Pekerjaan ini adalah menjadi Publisher.

Apa itu Publisher ?

Publisher adalah orang yang mencari penghasilan secara online tanpa menjual atau mempunyai produk. Salah satu sumber penghasilannya adalah dari iklan. Iklan yang dimaksud disini adalah iklan yang berasal dari Google.

Jika Anda sudah punya laptop/komputer serta koneksi internet, maka Anda pun bisa dengan mudah menjadi seorang Publisher.

Ada 3 “Sumber Penghasilan” yang bisa seorang Publisher dapat dari Google, yaitu :

Google Adsense Content
Google Adsense YouTube, dan yang terakhir…
Google Adsense Mobile (Admob)

Untuk Google Adsense Mobile sendiri, ialah iklan yang terpasang di dalam aplikasi mobile berbasis Android. Umumnya aplikasi ini adalah yang dipasarkan secara GRATIS melalui Google Play Store. Pembuat aplikasi kemudian mendapat pemasukan uang dari iklan-iklan yang ada.

Tapi…

Potensi penghasilan seorang publisher di AdMob tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurut laporan resmi dari Google Adsense Mobile pada tahun 2010, sebuah perusahaan bernama Backflip Studios telah sukses mendapatkan penghasilan sebesar 100.000 US DOLLAR PER-BULANNYA hanya dari iklan Admob saja, lalu apakah Anda ingin menjadi seorang Publisher juga…?

Dan Ingin mengetahui RAHASIA serta LANGKAH-LANGKAH menjadi Publisher sukses meskipun Anda masih PEMULA ?

Jawabannya akan Anda temukan di e-book….”Rahasia Tambah Penghasilan Ratusan Dollar Per-Bulan Secara Mudah Dengan Aplikasi Android”.

Di dalam e-book karya Phitronic ini, berisi :

– Penjelasan tentang apa saja aktivitas seorang Publisher
– Langkah-langkah mudah untuk menjadi Publisher melalui Google AdMob
– Cara PRAKTIS membuat aplikasi berbasis Android tanpa harus mahir bahasa pemrograman
– Beragam informasi tentang aplikasi GRATIS untuk membantu kegiatan Anda sebagai Publisher, serta…
– Teknik-teknik untuk memasarkan aplikasi Anda melalui Google Play Store & di-download oleh banyak orang.

APA RUGINYA membeli e-book ini ?

Silahkan Tanyakan sebaliknya: “Apa ruginya jika Anda TIDAK MEMBELI e-book ini “ :

Kehilangan momentum, karena Publisher AdMob Indonesia saat ini masih terbatas
Waktu yang lama untuk mencari langkah TEPAT menjadi seorang Publisher
Resiko disalip oleh Publisher baru yang terus bermunculan setiap saat
Frustasi karena tidak kunjung menjadi Publisher yang sukses

Tunggu apa lagi? Pelajari bagaimana Google Adsense Mobile bisa menjadi mesin penghasil DOLLAR bagi Anda sekarang juga…!

Spesifikasi

Ebook berupa file pdf setebal 84 halaman .dengan ukuran file 9,9 MB. Jika berminat untuk memiliki EBOOK CARA DAPAT DOLLAR DARI APLIKASI ANDROID , silahkan anda berkunjung ke sini…!
Ok sob, itu tadi sekedar informasi tentang cara dapat dollar dari aplikasi android. Dan perlu anda catat bahwa tidak ada kepastian anda pasti berhasil setelah membeli ebook ini, karena berhasil atau tidaknya suatu usaha adalah kehendak Tuhan YME. Dan yang terpenting tetaplah berusaha dan pantang menyerah. Selamat mencoba…!!!

CARA MUDAH DAPATKAN UANG DARI INTERNET BAGI PEMULA|BISNIS ONLINE GRATIS TERPERCAYA

Selamat datang sobat lekabunajwa semuanya….
kali ini saya akan memberikan informasi yang saya rasa cukup menarik bagi anda yang ingin mendapatkan uang dari internet. Bagi anda yang sudah disebut mastah, mungkin informasi ini sudah basi. Akan tetapi tak ada salahnya info ini saya bagi bagi mereka yang masih butuh cara gratis dapat uang dari bisnis online. Menurut pengamatan saya pribadi, salah satu situs yang tetap eksis di dunia maya saat ini adalah RWP GRUP. Saya katakan demikian, karena situs ini mengajarkan member-membernya untuk menjadi pebisnis-pebisnis baru. Mengajari anggotanya menjadi pedagang online yang handal dengan cara mengoptimalkan website, baik website itu gratisan ataupun website berbayar. Jika di luaran sana para member hanya diajari cara dapat uang dari sebar link affiliasi saja, namun disini lebih daripada itu. Salah satu cara dapatkan uang dari RWP GRUP dari puluhan cara lainnya adalah ikut program affiliasinya.

Ada 2 Jenis Komisi Affiliate yg bisa Sobat dapatkan dari Web RWP ini :
Komisi Affiliate PPL Gratis :
> Komisi Rp. 1.000,-/Lead utk Member Free.
> Komisi Rp. 3.000,-/Lead utk Member Premium.
> Lead = Prospek yang isi biodata dengan data Valid.
Komisi Affiliate PPS :
> Komisi 30%/Sales untuk Member Free.
> Komisi 60%/Sales untuk Member Premium.

Berikut Penjelasan Komisi PPL & Komisi PPS :
Komisi PPL = Pay Per Lead.

PPL, Dapat Komisi Duit sebelum Terjadi Penjualan.
Hanya dengan merekomendasikan orang lain isi Biodata FREE melalui Link Affiliate Sobat, maka Sobat bisa dapat duit meskipun orang tersebut belum membeli produk RWP. Inilah Program PPL (Pay Per Lead) untuk Member Free & Member Premium RWP sebagai penghargaan dari Kami pada HUT RWP yg ke-6 ini (RWP : 2009 – 2015).

Dalam Komisi PPL ini, Sobat berpotensi dapat Komisi dari RWP dg hanya mengajak orang lain isi Biodata Free di Web RWP. Potensinya bisa puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah per bulan.

Untuk Member Free, jika ada 100 orang saja yg Sobat referensikan utk isi Biodata Gratis di Web RWP, maka Komisi PPL Sobat = Rp. 100.000,- (Rp. 1.000,- x 100).

Untuk Member Premium, jika ada 100 orang saja yg Sobat referensikan utk isi Biodata Gratis di Web RWP, maka Komisi PPL Sobat = Rp. 300.000,- (Rp. 3.000,- x 100).
Sangat Lumayan kan utk kerja yg cukup ringan tsb???
Sistem PPL ini memberikan komisi karena Sobat sudah memberikan referensi agar orang lain isi Biodata Gratis di Web RWP melalui Link Affiliate Sobat. Dari pada Saya pasang iklan berbayar, lebih baik Saya berbagi penghasilan dg Sobat, iya nggak???

CARA KLAIM HADIAH UANG TUNAI (KOMISI GRATIS PPL) :

1. Komisi PPL ini bisa Sobat klaim setiap awal bulan antara tanggal 1 s/d 10 selama masa promo, dg Format SMS/BBM ke HP Admin sbb :
Klaim Komisi PPL#Member Free/Member Premium RWP#Nama Sobat#Username#Jumlah Prospek PPL yg sudah isi biodata Form Join Free.
(Data Prospek yg sudah isi Form Join Free bisa dilihat pada Member Area Sobat, di Menu Reseller Area> Data Calon Member) Untuk Info Lengkap, bisa Sobat lihat pada Artikel di Blog RWP Grup berikut : http://rwpgrup.com/blog/komisi-gratis-ppl-untuk-member-free/

ATURAN MAIN KOMISI GRATIS PPL :

1. Silahkan Promosikan Link Affiliate Premium RWP Sobat sekarang juga ke teman kantor, saudara, atau promosi lewat website, blog, media sosial, dll.

2. Pastikan anda melengkapi seluruh form isian data gratis pada Menu JOIN FREE sbb :
> Form Biodata Order (Join Free) yg ada di menu atas web RWP
> Biodata order ini harus lengkap diisi sampai selesai
> Wajib mencantumkan Nomor Hp/Telp untuk Verifikasi Admin RWP nanti
3. Data yg diisi wajib Valid, termasuk Nama & Email (supaya hadiahnya bisa valid).
4. Tidak dibenarkan isi Form JOIN FREE oleh Sobat sendiri.
5. Tidak dibenarkan isi Form JOIN FREE dg data email palsu, email sendiri, atau dg email yg tidak valid keberadaannya (Tim RWP akan melakukan kroscek terhadap data Join Free yg sudah masuk).
6. Jika ada 1 pelanggaran saja yg sengaja Sobat langgar, maka Komisi PPL ini tidak bisa kami transfer meskipun Sobat sudah klaim hadiah ratusan ribu rupiah!

Komisi PPS = Pay Per Sale.

PPS, Dapat Komisi Duit setelah Terjadi Penjualan.
Berbeda dengan Komisi PPL, pada sistem Komisi PPS ini Sobat bisa dapat komisi hanya jika terjadi penjualan melalui Link Affiliate Sobat.

Harga Paket 11 Ebook & 22 Video Tutorial RWP saat ini adalah Rp. 350.000,-
Besaran Komisi Affiliate PPS :
> Komisi 30% per Sales utk Member Free ( = Rp. 105.000,-/Sales).
> Komisi Rp. 60% per Sales utk Member Premium ( = Rp. 210.000,-/Sales).

Segera daftar dan Ambil Link Affiliate Sobat di Member Area Free atau Premium di affiliasi gratis rwp

Bergabunglah bersama 10.000 lebih member RWP…!
Sobat bisa cek KOMISI YG SUDAH DITRANSFER Admin RWP di Halaman Fanpage CMW sbb : https://www.facebook.com/caramembuatwebsite
Jadi tunggu apalagi, segera daftar dan Dapatkan Link Affiliate RWP Sobat dengan mengisi biodata JOIN FREE atau langsung menjadi Member Premium hanya di affiliasi gratis rwp
Ok sob, itu tadi informasi CARA MUDAH MENDAPATKAN UANG DARI INTERNET BAGI PEMULA. Jika berminat, langsung aja gabung. Masalah hasil, itu adalah urusan Tuhan. Yang terpenting tetap berusaha, terus belajar dan jangan pernah menyerah.

4 CARA BERDZIKIR DALAM KITAB AL-HIKAM

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM…..
Segala puji bagi Alloh Swt, Dzat yang telah melimpahkan Rahmat-Nya bagi kita semua. Dzat yang memberi kita kenikmatan pagi, siang, malam, tiap waktu, tiap saat tanpa hitungan. Dzat Yang Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada beliau Rosululloh Muhammad Saw. Nabi akhiruz zaman, pemimpin para Nabi, pemimpin para Rosul. Satu-satunya orang yang selalu diharapkan Syafaatnya di hari kiamat kelak .
Saudaraku…perkenankanlah kali ini, orang bodoh ini menjelaskan tentang sedikit hal tentang Dzikir beserta tingkatannya. Dalam tulisan ini, saya yakin ‘ainul yakin banyak sekali kekurangan ataupun kesalahan, maka dari itu, sudilah kiranya setelah anda membaca tulisan ini untuk memberikan masukan ataupun komentar sebagai koreksi untuk pribadi saya. Keterangan yang akan saya tulis ini, saya dapat dari kitab Al-Hikam. Dalam rangka memahami kitab yang penuh dengan hikmah-hikmah yang dalam ini, saya mencoba menguraikan sebatas yang saya pahami saja. Jika ada kekeliruan, mohon diingatkan…..
DZIKIR berarti ingat. Sedangkan Dzikrulloh berarti ingat kepada Alloh. Dzikrulloh atau ingat kepada Alloh dapat kita laksanakan dengan berbagai macam cara. Ada yang berdzikir dengan lisan, ada yang berdzikir dengan perbuatan, dan ada juga yang berdzikir dengan hati.
Dzikir dengan lisan biasa kita lakukan sendiri-sendiri ataupun berjamaah. Berjamaah dalam artian kita berdzikir bersama-sama dengan orang banyak. Dzikir bil lisan atau dzikir dengan ucapan lebih mengedepankan suara. Dengan mengucap Basmalah tatkala akan melakukan sesuatu, berarti anda telah berdzikir. Mengucap Alhamdulillah setiap akhir pekerjaan, anda-pun sudah dikatakan telah berdzikir kepada Alloh. Intinya adalah setiap keadaan, setiap situasi, dimanapun anda berada, tatkala anda ingat kepada Alloh, maka anda telah berdzikir. Jadi…dalam berdzikir, kita tidak harus memakai jubah, memakai sarung, memakai kopyah, berkumpul dengan para ustadz ataupun atribut-atribut keagamaan yang lain. Memang…berkumpul dengan para Kyai adalah keutamaan, berkumpul dengan para Habaib adalah ke”Afdholan”, berkumpul dengan para Ulama sangat dianjurkan. Akan tetapi…berapa lama sich kita bisa berkumpul dengan mereka, berapa jam kita mampu bersandingan dengan beliau-beliau yang mulia…?
Saudaraku…dalam konteks kehidupan yang sekarang ini, Dzikir sangat dibutuhkan bagi setiap individu. Carut-marutnya kehidupan, perekonomian yang sangat sulit, persaingan usaha yang cukup ketat, mau tidak mau membuat akal sehat kita jadi sakit. Sakit disini saya artikan sebagai akal yang sudah tidak waras. Tidak tahu atau tidak mau tahu sesuatu itu dilarang atau tidak oleh agama. Setiap hari, setiap saat saat…yang ada dalam pikirannya adalah Cuma dunia serta bagaimana cara mendapatkannya. Entah itu cara halal atau haram, langsung diterjang.
Dalam hal demikian, peran dari ber-Dzikir sangat penting. Sebagaimana yang telah tercantum dalam Al-Quranul karim, bahwa “ hanya dengan mengingat Alloh, hati akan menjadi tentram”.
Saudaraku…dalam kitab Al-Hikam karangan Ibnu Athoilah telah dijelaskan bahwa Dzikir ada 4 tingkatan. Dan tidak akan ada yang mampu melewati 4 tingkatan tersebut kecuali orang-orang yang mendapat pertolongan dari Alloh SWT. Empat tingkatan Dzikir tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dzikir dengan lisan, namun hatinya lalai/lupa (DZIKRIN MA’A WUJUDI GOFLATIN)
Dzikir dengan hati yang lalai maksudnya adalah lisan berdzikir, bibir bergerak komat kamit membaca kalimah toyyibah, namun hatinya tidak sambung, hatinya tidak tembus dengan apa yang sedang ia baca. Semisal bibir dan lidah membaca SUBHANALLOH…hatinya melayang kemana-mana, akal pikirannya masih terus terisi urusan duniawi yang tiada habisnya. Adakalanya lidah mengucap ALHAMDULILLAH…akan tetapi hatinya masih merasa kurang akan kenikmatan yang telah Alloh berikan kepadanya. Akal pikirannya berputar-putar mencari solusi untuk membayar hutang, kepalanya penuh dengan berbagai macam tehnik atau cara mengembangkan usahanya. Hatinya tertutup oleh segala hal yang berkaitan dengan harta, tahta/kekuasaan ataupun wanita yang ingin dinikahinya.
Saudaraku, jika anda sedang mengalami hal demikian, jangan tinggalkan Dzikir anda, karena hal ini lebih baik daripada kita “ngomong ngalor-ngidul” yang tiada gunanya. Teruskan Dzikir anda, karena bahaya yang ditimbulkan jika anda tidak ber-Dzikir lebih besar daripada anda ber-Dzikir meski hati masih lalai. Namun, tetaplah selalu memohon pertolongan kepada Alloh SWT, supaya kita dapat selalu berDzikir kepada-Nya, selalu menyebut nama-Nya meski hanya sebatas di bibir saja. Hal ini dikarenakan karena hanya Alloh sajalah yang dapat mengangkat derajat kita ke level Dzikir yang ke-dua. Jika anda bertanya “kapan kita dapat berDzikir kepada Alloh dengan tanpa kelalaian hati…?. Maka ketahuilah, itu adalah murni ketetapan Alloh ‘azza Wajalla, hanya Dia yang mengetahuinya. Tugas kita adalah selalu berusaha untuk mengingat-Nya, meski masih melalui bibir saja.
2. Dzikir dengan hati dan akal yang ingat/sadar (DZIKRIN MA’A WUJUDI YAQDHOTIN)
Dzikir dengan hati dan akal yang sadar adalah Dzikir yang dilakukan oleh seseorang yang mana bibirnya berucap, sedang hati dan akalnya tertuju dengan apa yang sedang dibaca, mencoba mengartikan ucapan Dzikir yang sedang dilafadzkan. Dzikir ini merupakan kelanjutan tingkat dari Dzikir yang pertama. Sebagai contoh jika seseorang mengucap SUBHANALLOH…akalnya juga ikut membayangkan lafadz SUBHANALLOH. Begitupun juga hatinya, ia akan perlahan-lahan mengikuti gerakan bibir dan bayangan akal. Meski awalnya memang sulit, hal ini disebabkan hati kita yang telah tertutup oleh aneka kotoran dunia. Jika seseorang sudah sampai ke tingkat ini, Insya Alloh tubuhnya akan tenang dalam berdzikir, tidak tengak-tengok kanan kiri. Matanya tidak menoleh kesana kemari. Hal ini disebabkan raga/jasmaninya sudah sibuk berDzikir, sedang akal dan hatinya mengikuti gerak bibirnya. Jika telah demikian, tetaplah istiqomah sambil selalu berharap akan Kemurahan dari Alloh Swt. Sebab hanya Dia yang bisa menjadikan istiqomah dan mengangkat kita ke level Dzikir yang berikutnya.
3. Dzikir dengan merasa kehadiran Alloh Swt (DZIKRIN MA’A WUJUDI HUDURIN)
Saudaraku…jika sebagian dari anda telah mencapai tingkatan Dzikir yang ke-tiga ini, maka bersyukurlah kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Karena Dia telah telah menempatkan anda dalam golongan orang-orang yang ahli Dzikir. Barangsiapa sudah sampai ke tingkatan ini, meski tanpa gerakan bibir, hatinya sudah berputar laksana tasbih para ‘Alim. Hatinya tidak pernah lalai ataupun lupa. Hatinya selalu ingat akan Dzat Yang Maha Kuasa. Ia akan selalu merasa diawasi dan disaksikan oleh Dzat Yang Maha Melihat. Dalam hal ini, hatinya tidak saja melafadzkan kalimah SUBHANALLOH saja, akan tetapi lebih daripada itu. Hatinya akan mengartikan, memahami lafadz yang diucapkan.
Dan sebagai contoh jika bibirnya berkata SUBHANALLOH, Hatinya lalu berkata “Maha Suci Engkau Ya Robb…Engkaulah Dzat Yang Maha Suci, tidak menerima sesuatu kecuali sesuatu itu suci pula. Engkau Dzat Yang Maha Suci dari segala kekurangan. Yang Maha Suci dari sifat tercela, Suci dari segala sesuatu yang ada dalam pikiran hamba. Dan hanya Engkau Yang Maha Suci dari segala persekutuan………………dan seterusnya.
4. Dzikir dengan lenyapnya segala sesuatu selain Alloh Swt (DZIKRIN MA’A WUJUDI GHOIBATIN ‘AMMA SIWAL MADZKUR)
Golongan ke empat ialah mereka yang telah sepenuhnya dikuasai oleh Haq atau hal
ketuhanan. Mereka sudah keluar dari TIPUAN dan alam maujud dan masuk ke dalam
hal yang tidak ada alam, yang ada hanya Allah s.w.t. Tubuh kasar mereka masih
berada di atas muka bumi, bersama-sama makhluk yang lain. Tetapi, kesadarannya
terhadap dirinya dan makhluk sekaliannya sudah tidak ada, maka kewujudan
sekalian yang maujud tidak sedikit pun mempengaruhi hatinya. Mereka karam dalam
Dzikir dan yang diDzikirkan. Mereka yang berada pada tahap ini telah terlepas dari
ikatan manusiawi dan seterusnya mencapai penglihatan hakiki mata hati.
Mereka yang mempunyai penglihatan hakiki mata hati ada dua jenis. Jenis pertama
lalu dia melihat di dalam hijab. Dia melihat Allah s.w.t pada apa yang
menghijabkannya. Zikirnya ialah nama yang padanya dia melihat Allah s.w.t. Jenis
kedua pula ialah yang berpisah dengan nama dan hijab, lalu dia melihat Allah s.w.t
dan merasakan ketenangan dengan penglihatan itu. Pada ketika itu tidak sepatah
pun ucapan yang terucap olehnya dan tidak sepatah pun kalam yang terdengar
padanya. Dia melihat nama itu tidak mempunyai kekuatan hukum apa pun selain-
Nya. Bila nama dinafikan tibalah pada wusul (sampai). Bila tidak terlintas lagi nama
tibalah pada ittisal (perhubungan). Nama yang tidak lagi terlintas disebabkan kuatnya
tarikan dari yang dinamai. Makam ini dinamakan makam al-Buhut (kehairan-
hairanan), karena dia melihat Allah s.w.t dalam kehairan-hairanan, tiada ucapan
kecuali pandangan. Inilah makam terakhir di mana semua hati terhenti di situ. Ia
adalah tingkatan tartinggi tentang kecintaan terhadap zat Ilahiat.
Pada tahap ini Nur-Nya memancar, menyinar, menjulang naik ke lubuk hati.
Peringkat ini sudah tiada zikir dan tiada pula yang berzikir, hanyalah memandang
bukan berzikir dan tiada berbalik kembali pandangannya. Inilah hal yang dikatakan
faham dengan tiada uraian pemahamannya dan mencapai dengan tiada sesuatu
pencapaiannya. Insan di dalam hal ini sudah tidak lagi memohon fatwa, tidak
memohon perkenan, tidak meminta pertolongan dan ucapan juga tiada. Baginya
setiap sesuatu adalah ilmu dan setiap ilmu adalah zikir. Inilah hamba yang telah
benar-benar berjaya menghimpun semua makam dan martabat. Dia sudah melihat
takdir-takdir dan melihat bagaimana Allah s.w.t menuju takdir demi takdir dan
melihat bagaimana Allah s.w.t mengulangi takdir-takdir itu dengan berbagai macam
cara yang dikehendaki-Nya. Karena sesungguhnya Allah s.w.t saja yang memulai
penciptaan dan Dia juga yang mengulanginya. Penglihatannya tidak berbolak-balik
lagi. Dia melihat Allah s.w.t di hadapan dan di belakang apa yang dilihatnya dan
melihat Allah s.w.t dalam segala yang dilihatnya.
Apabila kerinduan terhadap Allah s.w.t telah menguasai hati seseorang hingga
kepada tahap tiada ucapan yang boleh diucapkan maka keadaan itu dikatakan
melihat Allah s.w.t yang tiada sesuatu yang menyamai-Nya, sebagaimana firman-
Nya:
“Tiada sesuatupun yang sebanding dengan (Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan
penkehendakan)-Nya, dan Dia jualah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (
Ayat 11 : Surah asy-Syura ).
Saudaraku…alangkah bahagia orang yang ahli berDzikir, alangkah besar pahala serta balasan orang-orang yang ahli berDzikir. Maka dari itu, sebagai akhir dari tulisan dari hamba yang bodoh ini, marilah kita bersama-sama belajar untuk berDzikir kepada Alloh Swt, dalam setiap tempat ataupun keadaan. Baik itu secara lisan ataupun hati. Karena sebagaimana telah ketahui bersama bahwa Alloh telah berfirman “ Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan ingat kepada kalian “. Dan semoga tulisan ini membawa manfaat bagi kita semua, keluarga kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, tetangga kita di dunia ataupun di akhirat…Amin…!

CIRI DAN TANDA WANITA YANG PANDAI MENYIMPAN RAHASIA

Selamat datang para pengunjung setia blog gratisan lekabunajwa….kali ini saya akan membagikan beberapa tips atau cara mengetahui wanita yang pandai menyimpan rahasia. cara ini saya ketahui dari sebuah buku yang saya temukan di tempat sampah saat mencari rongsokan lampu bekas he…he…!!!
Berikut ini adalah alamat atau tanda wanita yang pandai menyimpan rahasia…
a. Bentuk tubuhnya sintal ramping, tidak terlalu gemuk serta tidak terlalu kurus.
b. Kedua tumitnya kecil ramping seimbang, tidak besar dan tidak terlalu kecil.
c. Perut dan pinggangnya ramping, tidak besar serta dadanya berisi.
d. Mukanya bulat telur, serta pipinya padat berisi tidak kendor (dalam bahasa jawa ora GOPLEM )
e. Rambutnya setengah keriting atau bergelombang andan-andan dan berwarna hitam
f. Kulit tubuhnya hitam manis atau kuning kemerah-merahan atau juga kuning langsat.
g. Bulu keningnya lurus memanjang, tidak tipis dan juga tidak tebal serta berwarna hitam.
Ok sob…demikianlah beberapa alamat atau tanda wanita yang pandai menyimpan rahasia. Terutama rahasia rumah tangga anda.

Nb : Semua tanda diatas bisa anda percaya ataupun tidak, semua terserah anda…..!!!

BISNIS ONLINE YANG TERBUKTI MEMBAYAR 2015|BISNIS ONLINE TERPERCAYA

Selamat malam sobat bisnis semuanya…
Kali ini saya akan mengupas sedikit tentang bisnis online yang terbukti membayar 2015, bisnis ini sangat cocok bagi para pemula. Dan saya yakin, bagi anda yang baru terjun dalam dunia bisnis di internet, pasti ingin punya bisnis yang betul-betul membayar, bisnis yang murah dan pastinya mudah untuk dijalankan. Saya mengatakan murah karena biaya yang perlu anda keluarkan cuma 120 ribu. Jika anda mampu mereferensikan orang lain untuk bergabung, anda akan mendapatkan 60 ribu. Dan jika anda tidak bisa sama sekali menjaring pembeli satupun, dengan login tiap hari, anda sudah berhak mendapatkan 500 rupiah. Memang kecil, namun dengan hanya aktif login, uang anda akan kembali dalam tempo 240 hari, yakni dengan perhitungan 500 x 240 = 120 ribu.
Tidak hanya itu sobat bisnis, jika anda bergabung disini, anda akan mendapatkan ebook panduan cara promosi, cara berbisnis forex, cara buat caver ebook bisnis dan banyak lagi ebook bisnis yang tidak dijual diluaran sana. Dan perlu anda ketahui, sistem bisnis ini selalu diperbarui dan diupdate setiap saat. Dahulu memang saya menganggap bisnis ini scam/penipuan, namun ternyata itu karena saya kurang pandai dalam berpromosi sehingga tidak mampu menjaring satupun pembeli. Dengan berjalannya waktu, akhirnya saya mendapatkan hasil juga.
Kelebihan bisnis ini dibanding bisnis lain adalah tidak adanya tupo bulanan ataupun tahunan yang kebanyakan bisnis MLM lain terapkan. Karena kebanyakan bisnis MLM, jika tidak ada tupo bulanan/tahunan, bisnis tersebut tak akan mampu bertahan lama, dan yang pasti dirugikan adalah konsumen/anggota mlm terakhir. Sistem bisnis terbarunya bisa anda baca disini. Dan untuk sistem yang paling anyar yang diterbitkan tanggal 15-2-2015 kemarin adalah dengan hanya aktif login setiap hari anda bisa mendapatkan 500 rupiah. Jadi tidak ada salahnya bagi anda para pemula untuk bergabung. Dan tidak hanya itu, jika anda punya dowline, lalu downline anda juga login, anda berhak mendapat 100 rupiah dengan kelebaran 10 dowline dengan kedalaman tak terbatas. Oh ya sob…setelah saya dapat 5 downline, ternyata tiap login saya dibayar 2 ribu rupiah, sungguh mudah untuk dijalankan he…he…!!!
Jadi tidak ada kerugian dalam bisnis ini, selain dalam tempo 240 hari uang anda bisa kembali, anda juga dapat memperoleh keuntungan jika mampu mendapatkan pembeli. So…segera gabung cuma disini…mari belajar bersama dalam bisnis internet yang menguntungkan ini….!!!

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR ( SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RA ) BAG-4

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM…..

Terjemah kitab Sirrul Asror bagian 4 terdiri dari 6 bab. 3 bab utama yakni bab ke-22 s/d bab ke-24 dan bab ke-25 s/d bab ke-27 adalah bab tambahan sebagai penutup. Selamat membaca dan semoga membawa manfaat bagi kita semua…Amin…

22: MENYAKSIKAN YANG HAK MELALUI SUASANA KEDAMAIAN YANG
DATANG
DARIPADA PELEPASAN SEGALA KEDUNIAAN DAN MELALUI ZAUK.
Nabi s.a.w bersabda, “Satu ilham Ilahi yang memutuskan seseorang
daripada dunia ini dan kurniaan atas seseorang akan kenyataan atau
cermin sifat-sifat Tuhan, menampakkan kepada seseorang keesaan Ilahi,
lebih baik daripada pengalaman dunia dan akhirat” . Dan, “Orang yang
tidak mengalami zauk (keghairahan) yang daripadanya menerima
kenyataan makrifat Ilahi dan yang hak adalah tidak hidup”.
Banyak ayat-ayat dan hadis-hadis serta perkhabaran daripada wali-wali
menceritakan suasana ini. “Dan apakah orang yang Allah luaskan dadanya
kepada Islam, iaitu ia berjalan atas nur dari Tuhannya (sama dengan yang
beku hatinya?). Maka kecelakaan (adalah) bagi mereka yang beku hatinya
dari mengingat Allah. Mereka itu (adalah) dalam kesesatan yang nyata.
Allah telah turunkan sebaik-baik perkataan, kitab yang sebahagiannya
menyerupai sebahagiannya, yang diulang-ulangkan, yang seram
lantarannya kulit-kulit badan orang yang takut kepada Tuhannya.
Kemudian jadi lemas kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka kepada
mengingat Allah. Yang demikian itu pimpiman Tuhan, yang Ia pimpin
dengannya siapa yang Ia kehendaki, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah
maka tidaklah ada baginya sebarang pimpinan”. (Surah az-Zummar, ayat
22 & 23).
Junaid al-Baghdadi berkata, “Bila zauk (keghairahan) bertemu dengan
kenyataan Ilahi di dalam diri seseorang, dia itu berada di dalam keadaan
samada kelazatan yang amat sangat atau keharuman yang mendalam”.
Ada dua jenis zauk: zauk lahiriah dan zauk rohaniah. Zauk lahiriah adalah
hasil daripada ego diri. Ia tidak memberi kepuasan secara rohaniah. Ia
dipengaruhi oleh pancaindera. Sering kali ianya kepura-puraan, berlaku
agar dilihat atau diketahui oleh orang lain. Zauk jenis ini tidak berharga
sedikit pun kerana ianya disengajakan, dengan kehendak atau niat: orang
yang mengalaminya masih merasakan yang dia boleh berbuat dan memilih
(tidak ada fana padanya). Tidak guna menganggap penting pengalaman
yang demikian.
Zauk kerohanian, Bagaimanapun, keseluruhannya berbeza, suasana yang
dihasilkan oleh pengaliran tenaga kerohanian yang melimpah ruah.
Secara biasa, pengaruh luar – seperti puisi yang indah yang dibaca, atau
Quran dibaca dengan suara yang merdu, atau keghairahan yang dicetuskan
oleh upacara zikir sufi – boleh mengakibatkan peningkatan kerohanian. Ini
berlaku kerana pada ketika itu penentangan lahiriah seseorang dihapuskan,
kehendak dan kekuatan akal untuk memilih diatasi. Bila kekuatan badan
dan fikiran sudah dilemahkan suasana zauk adalah semata-mata bersifat
kerohanian.
Meneruskan perjalanan dengan pengalaman yang demikian sangat besar
gunanya bagi seseorang. “Dan orang yang menjauhi berhala-hala daripada
menyembahnya dan kembali kepada Allah adalah bagi mereka khabar yang
menggirangkan. Oleh itu girangkanlah hamba-hamba-Ku. Yang mendengar
perkataan lalu menurut yang sebaik-baiknya. Merekalah orang-orang yang
dipimpin oleh Allah dan mereka itu ialah orang-orang yang mempunyai
fikiran”. (Surah az-Zumar, ayat 17 & 18).
Nyanyian merdu burung-burung, keluhan pencinta, adalah sebahagian
daripada penyebab luar yang menggerakkan tenaga kerohanian. Dalam
suasana tenaga kerohanian yang demikian syaitan dan ego tidak boleh
campur tangan; iblis bertindak di dalam alam kegelapan perbuatan-
perbuatan yang muncul daripada ego diri dan tidak boleh berbuat apa-apa
di dalam alam kemurahan dan keampunan yang bercahaya. Dalam alam
kemurahan dan keampunan Allah, syaitan menjadi cair laksana garam di
dalam air, sama seperti ia hilang apabila dibaca: “La haula wala quwwata
illa billahil ‘aliyyil ‘azim” – Tiada daya dan upaya melainkan dengan Allah
Yang Maha Tinggi, Maha Mulia.
Pengaruh-pengaruh yang merangsangkan zauk kerohanian diterangkan
oleh hadis, “Ayat-ayat Quran, puisi yang berhikmah dan ajaib mengenai
cinta dan bunyi serta suara kerinduan menyalakan wajah roh”.
Zauk sebenar adalah hubungan cahaya dengan cahaya bila roh insan
bertemu dengan cahaya Ilahi. Allah berfirman: “Yang suci untuk yang suci
pula”. (Surah an-Nuur, ayat 26).
Jika zauk datang dari rangsangan ego dan syaitan tiada cahaya di sana . Di
sana hanya ada kegelapan tanpa cahaya, ragu-ragu, penafian dan
kekeliruan. Kegelapan menjadi bapa kepada kegelapan. Dalam bahagian
roh dan jiwa, ego tidak ada bahagian. Firman Tuhan: “Yang tidak suci
untuk yang tidak suci pula”. (Surah an-Nuur, ayat 26).
Penzahiran suasana zauk ada dua jenis: penzahiran zauk lahiriah yang
bergantung kepada kehendak diri sendiri dan penzahiran zauk kerohanian
yang di luar pilihan dan kehendak seseorang. Dalam kes pertama yang
nyata ialah disengajakan. Jika seseorang menggeletar, bergoyang dan
meraung walaupun bukan di bawah pengaruh kesakitan atau gangguan
dalam tubuh, ia tidak dianggap sah. Apa yang sah ialah perubahan yang
nyata pada keadaan lahiriah yang tidak disengajakan dan disebabkan oleh
keadaan batin seseorang.
Penzahiran yang tidak disengajakan adalah akibat tenaga kerohanian yang
tidak dapat dikawal oleh seseorang. Rohnya yang di dalam zauk mengatasi
pancaindera. Ia adalah umpama keadaan meracau orang yang demam
panas, agak tidak mungkin mencegah orang yang demikian daripada
terketar-ketar, bergoyang dan menjadi kaku di dalam meracau itu kerana
dia tidak ada kuasa terhadap penzahiran yang keluar atau berlaku
kepadanya itu. Begitu juga bila tenaga kerohanian membesar sehingga
mengalahkan kehendak, fikiran dan tubuh badan, zauk yang lahir
daripada yang demikian adalah benar, jujur dan bersifat kerohanian.
Keadaan zauk kerohanian yang demikian, yang di masuki oleh para
sahabat akrab Allah di dalam melakukan pergerakan dan pusingan pada
upacara mereka, adalah cara untuk menimbulkan keghairahan dan
dorongan pada hati mereka. Ini adalah makanan bagi mereka yang
mengasihi Allah; ia memberikan tenaga di dalam perjalanan mereka yang
sukar dalam mencari yang hak. Nabi s.a.w bersabda, “Upacara
keghairahan yang dilakukan oleh para pencinta Allah, tarian dan nyanyian
mereka, merupakan kewajipan bagi sebahagian, dan bagi sebahagian yang
lain adalah harus sementara bagi yang lain pula adalah bidaah. Ia adalah
kewajipan bagi manusia yang sempurna, harus bagi kekasih Allah dan bagi
yang lalai adalah bidaah” . Dan, “Adalah sifat yang tidak sihat bagi orang
yang tidak merasa kelazatan berada bersama kekasih Allah: puisi orang
arif yang mereka nyanyikan, musim bunga, warna dan keharuman bunga,
burung dan nyanyiannya”.
Orang yang lalai, yang menganggapkan mencari zauk kerohanian sebagai
bidaah, orang yang tidak sihat sifatnya yang tidak dapat menikmati
kelazatan yang indah, adalah sakit dan tidak ada penawar untuk penyakit
ini. Mereka lebih rendah daripada burung dan haiwan, lebih rendah
daripada keldai, kerana haiwan juga menikmati irama. Bila Nabi Daud a.s
melagukan suaranya burung-burung terbang di sekelilingnya untuk
menikmati kemerduan suaranya. Nabi Daud a.s berkata, “Orang yang tidak
mengalami keghairahan tidak dapat merasai agamanya”.
Terdapat sepuluh suasana zauk. Sebahagiannya ketara dan tanda-tandanya
kelihatan kepada orang lain, seperti kesedaran rohani dan berzikir
mengingati Allah dan membaca Quran dengan senyap. Menangis, merasai
penyesalan yang mendalam, takutkan azab Allah, kerinduan dan kesayuan,
malu terhadap kelalaian diri; apabila seseorang menjadi pucat atau
mukanya berseri-seri kerana keghairahan daripada suasana dalaman dan
kejadian di sekelilingnya, membara dengan kerinduan terhadap Allah –
semua ini dan semua keganjilan pada lahiriah dan rohaniah yang
dihasilkan oleh perkara-perkara tersebut adalah tanda-tanda zauk atau
keghairahan.
23: PENGASINGAN DIRI DARI DUNIA DENGAN MEMASUKI KHALWAT DAN
SULUK
Khalwat dan suluk harus dilihat secara zahir dan batin. Khalwat zahir
ialah apabila seseorang mengambil keputusan untuk memisahkan dirinya
daripada dunia, memencilkan dirinya di dalam satu ruang yang terpisah
daripada orang ramai supaya manusia dan makhluk di dalam dunia
selamat daripada kelakuan dan kewujudannya yang tidak diingini. Dia juga
berharap agar dengan berbuat demikian sumber kepada kewujudan yang
tidak diingini, egonya dan hawa nafsu badannya akan terpisah daripada
bekalan hariannya dan terhenti juga segala yang memuaskan dan
mengenyangkannya. Seterusnya dia berharap pengasingan itu akan
mendidik egonya dan seleranya, memberi peluang kepada perkembangan
diri rohaninya.
Bila seseorang memutuskan demikian niatnya mestilah ikhlas. Dalam satu
segi dia seumpama meletakkan dirinya di dalam kubur, dalam keadaan
mati, mengharapkan semata-mata keredaan Allah, berhasrat dalam hatinya
melahirkan yang asli dan beriman, yang boleh lahir daripada
kewujudannya yang hina ini. Nabi s.a.w bersabda, “Yang beriman adalah
yang orang lain selamat daripada tangan dan lidahnya”.
Dia mengikat lidahnya dari berkata yang sia-sia kerana Nabi s.a.w
bersabda, “Keselamatan manusia datang dari lidah dan kebinasaannya juga
dari lidah” . Dia menutupkan matanya daripada yang diharamkan agar
pandangannya yang khianat dan menipu daya tidak jatuh ke atas apa yang
dimiliki oleh orang lain. Dia menutup telinganya dari mendengar
pembohongan dan kejahatan, dan mengikat kakinya, membelenggunya dari
pergi kepada dosa.
Nabi s.a.w bersabda menceritakan setiap anggota badan boleh melakukan
dosa sendirian, “Mata boleh berzina” . Bila salah satu daripada
pancaindera berdosa satu makhluk hitam yang hodoh diciptakan
daripadanya dan pada hari pembalasan ia menjadi saksi terhadap dosa
yang kamu lakukan. Kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.
Tuhan memuji orang yang menghindarkan dirinya daripada kesalahan
kerana yang demikian merupakan penyesalan yang sebenar, taubat yang
kuat. “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menegah
diri daripada hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurga itu tempat
kembalinya”. (Surah an-Naazi’aat, ayat 40 & 41).
Orang yang takutkan Tuhannya dan bertaubat, mengeluarkan
kewujudannya yang hina daripada yang beriman dan mengeluarkan
keburukannya daripada imannya, ditukarkan di dalam khalwatnya,
sehingga jadilah ia jejaka tampan. Kewujudan yang elok ini menjadi
khadam kepada penghuni syurga.
Mengasingkan diri adalah benteng menghalang musuh bagi dosa diri
sendiri dan kesalahan. Di dalamnya, sendirian, seseorang terpelihara di
dalam kesucian. Firman Allah: “Barangsiapa percaya akan pertemuan
Tuhannya hendaklah ia kerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan
seseorang jua dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah al-Kahfi, ayat 110).
Semua yang diceritakan hingga kini adalah maksud bagi suasana khalwat
zahir. Maksud khalwat batin pula ialah mengeluarkan dari hati walaupun
hanya memikirkan hal keduniaan, kejahatan dan ego, meninggalkan
makan, minum. Harta, keluarga, isteri, anak-anak dan perhatian serta
kasih sayang semuanya.
Anggapan orang lain melihat atau mendengar tentangnya jangan masuk
kepada khalwat ini. Nabi s.a.w bersabda, “Kebesaran dan apa yang
diburunya adalah bala, dan melarikan diri daripada kebesaran dan
mengharapkan pujian orang dan apa yang dibawanya adalah
keselamatan.” . Orang yang bercadang memasuki khalwat batin mestilah
menutupi hatinya daripada kemegahan, sombong, takabur, marah, dengki,
khianat dan yang seumpamanya.
Jika sebarang perasaan yang demikian masuk kepadanya di dalam
khalwatnya hatinya menjadi terikat. Ia tidak lagi terlepas daripada dunia
dan khalwat demikian tidak berguna. Sekali kekotoran memasuki hati ia
kehilangan kesuciannya dan semua kebaikan terbatal. “Apa yang kamu
bawa itu sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya (kerana) Allah
itu tidak membaguskan amal orang-orang yang berbuat bencana” . (Surah
Yunus, ayat 81).
Walaupun perbuatan seseorang itu kelihatan bagus pada pandangan orang
lain, bila sifat-sifat buruk memasukinya, orang itu dianggap berlaku
khianat dan menipu dirinya sendiri dan juga orang lain. Nabi s.a.w
bersabda, “Sombong dan takabur mencemarkan iman. Fitnah dan umpatan
lebih buruk dari dosa zina” . Juga, “Sebagaimana api membakar kayu
dendam membakar dan menghapuskan perbuatan baik seseorang” . Juga,
“Fitnah itu tidur, laknati ke atas siapa yang mengejutkannya” . Juga,
“Orang yang bakhil tidak masuk syurga walaupun dia habiskan umurnya
dengan ibadat” . Juga, “Kepura-puraan adalah bentuk sembunyi
mengadakan sekutu bagi Tuhan” . Juga, “Syurga menolak orang yang
menolak orang lain”.
Banyak lagi tanda-tanda sifat buruk yang dikutuk oleh Rasulullah s.a.w.
Apa yang dinyatakan sudah memadai untuk menunjukkan kepada kita
bahawa dunia ini adalah tempat yang memerlukan berterusan di dalam
berhati-hati dan berwaspada, perlu berjalan melaluinya dengan penuh
cermat dan perhatian. Matlamat pertama jalan kerohanian ialah
menyucikan hati dan langkah untuk memperolehinya ialah membenteras
keegoan dan keinginan hawa nafsu. Di dalam khalwat, dengan berdiam
diri, bertafakur dan berzikir terus menerus, ego seseorang diperbaiki.
Kemudian Allah Yang Maha Tinggi menjadikan hati seseorang itu
bercahaya.
Tiada yang dilakukan di dalam khalwat secara perbuatan sendiri. Apa yang
perlu ialah cinta, ikhlas dan keyakinan yang sebenar. Cara ini bukan cara
orang tersebut sendiri. Dia menuruti cara para sahabat Rasulullah s.a.w,
cara orang-orang yang mengikuti mereka dan cara orang yang mengetahui
cara mereka dan mengikutinya.
Bila orang yang yakin berada pada jalan ini menurut jalan taubat, ilham
dan menyucikan hatinya, Allah mencabut dari hatinya dan dirinya segala
yang merosakkan dan yang keji dan melindunginya agar dia tidak kembali
kepadanya. Wajahnya akan menjadi cantik; perasaannya, samada
dipendamkan atau dizahirkan, menjadi tulen. Apa sahaja yang dia lakukan
dilakukannya dengan cara yang terpuji kerana dia berada di dalam
kehadiran Ilahi. “Allah mendengar orang yang memuji-Nya” . Jadi, Allah
menjaganya. Allah menerima doanya, kerinduannya dan puji-pujiannya
dan mengabulkan segala keinginannya. “Barangsiapa mahukan kemuliaan
maka bagi Allah jualah semua kemuliaan. Kepada-Nya naik perkataan yang
baik, amal yang salih itu Dia angkat” . (Surah Fatir, ayat 10).
Perkataan yang baik menyelamatkan lidah daripada perkataan yang sia-
sia. Lidah adalah alat yang baik untuk memuji Tuhan, mengulangi nama-
nama-Nya yang indah, memperakui keesaan-Nya. Allah memberi amaran
terhadap perkataan yang sia-sia: “Tidak sekali-kali! Sesungguhnya yang
demikian perkataan yang ia ucapkan padahal di belakang mereka satu
dinding hingga hari mereka dibangkitkan (mereka tidak benar dalam
perkataan mereka)”. (Surah Mukminuun, ayat 100).
Allah mengurniakan keampunan-Nya, kasihan belas-Nya kepada orang
yang belajar dan mengamalkannya dengan niat yang baik. Dia
membawanya hampir dengan membawanya kepada darjat yang lebih
tinggi. Dia reda kepadanya, Dia maafkan kesalahannya.
Bila seseorang telah dinaikkan kepada darjat itu hatinya menjadi seperti
laut. Bentuk dan warna laut itu tidak berubah kerana sedikit Kekejaman
dan penganiayaan yang orang ramai Buangkan kepadanya. Nabi s.a.w
bersabda, “Jadilah seperti laut yang tidak berubah, tetapi di dalamnya
tentera gelap (ego) kamu akan lemas” , seperti Firaun lemas di dalam Laut
Merah. Dalam lautan itu kapal agama timbul dengan selamat dan sejahtera,
ia berlayar di dalam lautan yang luas itu. Roh orang yang di dalam khalwat
terjun ke dasarnya untuk mendapatkan mutiara kebenaran, membawa ke
permukaan mutiara kebijaksanaan (makrifat) dari batu karang budi pekerti
dan menyebarkannya ke tempat yang jauh. Firman Allah: “ Keluar
daripadanya mutiara dan marjan (batu karang)”. (Surah ar-Rahmaan, ayat
22).
Untuk memelihara lautan tersebut zahir kamu mestilah sama dengan batin
kamu, diri kamu mestilah sama dengan apa yang kelihatan pada diri kamu.
Suasana zahir dan suasana batin kamu mestilah satu. Bila ini terjadi, tiada
lagi penipuan, hasutan atau kekacauan di dalam laut hati kamu. Tiada
ribut nakal yang boleh memabukkan di dalam lautan yang tenang itu.
Orang yang memperolehi suasana tersebut berada di dalam keadaan taubat
sepenuhnya; ilmunya luas dan bermanfaat, perbuatannya semuanya adalah
khidmat untuk orang lain, hatinya tidak mengalir kepada kejahatan. Jika
dia tersilap atau lupa dia dimaafkan kerana dia ingat bila dia lupa dan
bertaubat bila dia bersalah. Dia berada dalam kehampiran dengan Allah
dan dirinya sendiri.
24: DOA DAN ZIKIR BERHUBUNG DENGAN JALAN SULUK
Sesiapa yang memilih untuk memisahkan dirinya daripada dunia supaya
dia dapat menghampiri Allah hendaklah tahu ibadat-ibadat seperti doa dan
zikir yang sesuai untuk tujuan tersebut. Melakukan ibadat tersebut
memerlukan suasana yang suci dan sebaik-baiknya berada di dalam
keadaan berpuasa. Bilik khalwat biasanya berhampiran dengan masjid
kerana syarat bagi salik perlu meninggalkan bilik khalwatnya lima kali
sehari bagi mengerjakan sembahyang berjemaah dan pada ketika tersebut
hendaklah menjaga dirinya agar tidak menonjol, menyembunyikan diri
dan tidak berkata-kata walau sepatah perkataan pun. Sesiapa yang di
dalam suluk hendaklah mengambil langkah tegas untuk lebih menghayati
dan mematuhi prinsip-prinsip, dasar-dasar dan syarat-syarat sembahyang
berjemaah.
Setiap malam, ketika tengah malam, salik mestilah bangun untuk
mengerjakan sembahyang tahajjud, yang bermaksud suasana jaga
sepenuhnya di tengah-tengah tidur. Sembahyang tahajjud membawa
symbol kebangkitan setelah mati. Bila seseorang berjaya bangun untuk
melakukan sembahyang tahajjud dia adalah Pemilik hatinya dan
pemikirannya bersih. Agar suasana jaga ini tidak rosak dia tidak
seharusnya melibatkan diri dengan kegiatan harian seperti makan dan
minum.
Sebaik sahaja bangun dengan menyedari dibangkitkan daripada kelalaian
kepada kesedaran, ucapkan: “Alhamduli-Llahi ahyani ba’da ma amatani
wa-ilaihin-nusyur- Segala puji bagi Allah yang membangkitkan daku
setelah mengambil hidupku. Selepas mati semua akan dibangkitkan dan
kembali kepada-Nya”.
Kemudian bacakan sepuluh ayat terakhir surah al-‘Imraan, iaitu ayat 190 –
200. Selepas itu mengambil wuduk dan berdoa:
“Kemenangan untuk Allah! Segala puji untuk-Mu. Tidak ada yang lain
daripada-Mu yang layak menerima ibadat. Daku bertaubat dari dosaku.
Ampuni dosaku, maafkan kehadiranku, terimalah taubatku. Engkau Maha
Pengampun, Engkau suka memaafkan. Wahai Tuhanku! Masukkan daku ke
dalam golongan mereka yang menyedari kesalahan mereka dan masukkan
daku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih yang memiliki
kesabaran, yang bersyukur, yang mengingati Engkau dan yang memuji
Engkau malam dan siang”.
Kemudian dongakkan pandangan ke langit dan buat pengakuan:
“Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah, Esa, tiada sekutu, dan aku
naik saksi Muhamamd adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Daku berlindung
dengan keampunan-Mu daripada azab-Mu. Daku berlindung dengan
keredaan-Mu daripada murka-Mu. Daku berlindung dengan-Mu daripada-
Mu. Aku tidak mampu mengenali-Mu sebagaimana Engkau kenali Diri-Mu.
Aku tidak mampu memuji-Mu selayaknya. Daku adalah hamba-Mu, daku
adalah anak kepada hamba-Mu. Dahiku yang di atasnya Engkau tuliskan
takdir adalah dalam tangan-Mu. Perintah-Mu berlari menerusi daku. Apa
yang Engkau tentukan untukku adalah baik bagiku. Daku serahkan kepada-
Mu tanganku dan kekuatan yang Engkau letakkan padanya. Daku buka
diriku di hadapan-Mu, mendedahkan semua dosaku. Tiada Tuhan kecuali
Engkau, dan Engkau Maha Pengampun, aku yang zalim, aku yang berbuat
kejahatan, daku menzalimi diriku. Untukku kerana daku adalah hamba-Mu
ampunkan dosa-dosaku. Engkau jualah Tuhan, hanya Engkau yang boleh
mengampunkan”.
Kemudian menghadap ke arah kiblat dan ucapkan: “Allah Maha Besar!
Segala puji untuk-Nya. Aku ingat dan membesarkan-Nya”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Segala kemenangan buat Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Segala puji dan syukur untuk Allah”.
Kemudian ucapkan sepuluh kali: “Tiada Tuhan melainkan Allah”.
Kemudian lakukan sembahyang sepuluh rakaat, dua rakaat satu salam.
Nabi s.a.w bersabda, “Sembahyang malam dua, dua”. Allah memuji orang
yang bersembahyang malam. “Dan di sebahagian malam hendaklah engkau
sembahyang tahajjud sebagai sembahyang sunat untukmu, supaya
Tuhanmu bangkitkan kamu di satu tempat yang terpuji”. (Surah Bani Israil,
ayat 79).
“Renggang rusuk-rusuk mereka dari tempat tidur, dalam keadaan menyeru
Tuhan mereka dengan takut dan penuh harapan, dan sebahagian daripada
apa yang Kami kurniakan itu mereka belanjakan”. (Surah as-Sajadah, ayat
16 & 17).
Kemudian pada akhir malam bangun semula untuk mengerjakan
sembahyang witir tiga rakaat, sembahyang yang menutup semua
sembahyang-sembahyang pada hari itu. Pada rakaat ketiga selepas al-
Faatihah bacakan satu surah dari Quran, kemudian angkatkan tangan
seperti pada permulaan sembahyang sambil ucapkan “Allahu Akbar!” dan
bacakan doa qunut. Kemudian selesaikan sembahyang seperti biasa.
Setelah matahari terbit orang yang di dalam suluk perlu melakukan
sembahyang isyraq, sembahyang yang menerangi, dua rakaat. Selepas itu
melakukan sembahyang istihadha’ dua rakaat, mencari perlindungan dan
keselamatan daripada syaitan. Pada rakaat pertama selepas al-Faatihah
bacakan surah al-Falaq. Dalam rakaat kedua selepas al-Faatihah bacakan
surah an-Nas.
Bagi mempersiapkan diri untuk hari itu lakukan sembahyang sunat
istikharah, sembahyang meminta petunjuk Allah untuk keputusan yang
benar pada hari itu. Pada tiap rakaat selepas al-Faatihah bacakan ayat al-
Kursi. Kemudian tujuh kali surah al-Ikhlas. Kemudian pagi itu lakukan
sembahyang dhuha, sembahyang kesalihan dan kedamaian hati. Lakukan
enam rakaat. Bacakan surah asy-Syams dan surah ad-Dhuha. Sembahyang
dhuha diikuti oleh dua rakaat kaffarat, sembahyang penebusan terhadap
kekotoran yang mengenai seseorang tanpa boleh dielakkan atau disedari.
Tersentuh dengan kekotoran walaupun secara tidak sengaja masih berdosa,
boleh dihukum. Ini boleh berlaku walaupun di dalam suluk, misalnya
melalui keperluan tubuh badan. Nabi s.a.w bersabda, “Jaga-jaga dari najis
– walaupun ketika kamu kencing, satu titik tidak mengenai kamu – kerana
ia adalah keseksaan di dalam kubur”. Setiap rakaat, selepas membaca al-
Faatihah bacakan surah al-Kausar tujuh kali.
Satu lagi sembahyang – panjang, walaupun empat rakaat – harus dilakukan
dalam satu hari semasa khalwat atau suluk. Ini adalah sembahyang tasbih –
sembahyang penyucian atau pemujaan. Jika seseorang itu mengikuti
mazhab Hanafi dia melakukannya empat rakaat satu salam. Jika dia
berfahaman Syafi’e dilakukannya dua rakaat satu salam, dua kali. Ini jika
dilakukan di siang hari. Jika dilakukan malam hari Hanafi dan Syafi’e
sependapat, dua rakaat satu salam, dua kali.
Nabi s.a.w memberitahu mengenai sembahyang ini kepada bapa saudara
baginda, Ibnu Abbas, “Wahai bapa saudaraku yang ku kasihi. Ingatlah aku
akan berikan kepada kamu satu pemberian. Perhatikanlah aku akan
Sampaikan kepada kamu satu yang sangat baik. Ingatlah aku akan berikan
kepada kamu kehidupan dan harapan baharu. Ingatlah aku akan berikan
kepada kamu sesuatu yang bernilai sepuluh daripada perbuatan-perbuatan
yang baik.
Jika kamu kerjakan apa yang aku beritahu dan ajarkan kepada kamu Allah
akan ampunkan dosa-dosa kamu yang lalu dan yang akan datang, yang
lama dan yang baharu, yang kecil dan yang besar. Lakukan secara
diketahui atau tidak diketahui, secara tersembunyi atau terbuka”. “Engkau
kerjakan sembahyang empat rakaat. Pada tiap-tiap rakaat selepas al-
Faatihah kamu bacakan satu surah dari Quran. Ketika kamu berdiri
bacakan lima belas kali: Subhana Llahi il-hamdu li-Llahi la ilaha illa Llahu
wa-Llahu akbar, wa-la hawla wa-la quwwata illa billahil l-‘Ali I-‘Azim. Bila
kamu rukuk, tangan di atas lutut, bacakan sepuluh kali.
Ketika berdiri ulanginya sepuluh kali lagi. Ketika kamu sujud bacakan
sepuluh kali. Bila kamu bangun dari sujud bacakan sepuluh kali. Ketika
duduk bacakan sepuluh kali. Sujud semula bacakan sepuluh kali. Duduk
semula bacakan sepuluh kali. Kemudian bangun untuk rakaat kedua.
Lakukan serupa untuk rakaat yang lain sehingga empat rakaat”. “Jika kamu
mampu lakukan sembahyang ini setiap hari. Jika tidak lakukan sekali
sebulan. Jika tidak mampu juga lakukan sekali setahun. Jika masih tidak
mampu lakukan sekali seumur hidup”.
Jadi, empat rakaat itu tasbih diucapkan sebanyak tiga ratus kali.
Sebagaimana Nabi s.a.w ajarkan kepada bapa saudara baginda Ibnu
Abbas, dianjurkan juga kepada orang yang bersuluk melakukan
sembahyang tersebut.
Selain daripada tugas tersebut orang yang di dalam suluk juga dianjurkan
membaca Quran sekurang-kurangnya sebanyak 200 ayat sehari. Dia juga
hendaklah mengingati Allah secara terus menerus dan menurut suasana
rohani, samada menyebut nama-nama-Nya yang indah secara kuat atau
senyap di dalam hati. Ingatan di dalam hati secara senyap hanya bermula
bila hati kembali jaga dan hidup. Bahasa zikir ini adalah perkataan rahsia
yang tersembunyi.
Setiap orang mengingati Allah menurut keupayaan masing-masing. Allah
berfirman: “Hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu”.
(Surah al-Baqarah, ayat 198).
Ingatlah kepada-Nya menurut kemampuan kamu. Pada setiap tahap
kerohanian ingatan itu berbeza-beza. Ia mempunyai satu nama lagi, ia
mempunyai satu sifat lagi, satu cara lagi. Hanya orang yang ditahap itu
tahu zikir yang sesuai.
Orang yang di dalam suluk juga dianjurkan membaca surah al-Ikhlas
seratus kali sehari. Perlu juga membaca Selawat seratus kali sehari. Dia
juga perlu membaca doa ini sebanyak seratus kali:
“Astaghfiru Llah al-‘Azim, la ilaha illa Huwa l-Hayy ul-Qayyum – mimma
qaddamtu wa-ma akhkhartu wa-ma ‘alantu wa-ma asrartu wa-ma anta
a’lamu bihi minni. Anta l-Muqaddimu wa-antal Muakhkhiru wa-anta ‘ala
kulli syai in Qadir”.
Masa yang selebihnya setelah dilakukan ibadat-ibadat yang telah
dinyatakan, gunakan untuk membaca Quran dan lain-lain pekerjaan
ibadat.
25: MIMPI-MIMPI
Mimpi yang dimimpikan di antara masa seseorang hampir lena hingga dia
tidur lena adalah benar dan berfaedah. Mimpi-mimpi ini selalunya
merupakan pembawa pembukaan dan perantaraan kepada yang luar
biasa. Bukti kebenaran mimpi dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah akan buktikan mimpi itu benar kepada Rasul-Nya,
kamu akan masuk Masjidil Haram jika dikehendaki Allah dengan aman”.
(Surah al-Fath, ayat 27).
Dan memang benar Nabi s.a.w memasuki kota Makkah yang masih
dikuasai oleh musuh-0musuh baginda, tahun sesudah baginda bermimpi.
Contoh lain ialah mimpi Nabi Yusuf a.s: “Tatkala Yusuf berkata kepada
bapanya, ‘Wahai bapaku, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang dan
matahari serta bulan – aku lihat – bersujud kepadaku”. (Surah Yusuf, ayat
4).
Nabi s.a.w bersabda, “ Tidak ada nabi yang datang selepas aku tetapi boleh
datang pembukaan-pembukaan yang lain. Orang yang beriman akan
melihat pembukaan itu dalam mimpi mereka atau pembukaan itu akan
ditunjukkan kepada mereka menerusi mimpi”. “Bagi mereka pembukaan
tentang khabar baik dalam dunia ini dan di akhirat”. (Surah Yunus, ayat
64).
Mimpi datangnya dari Allah tetapi kadang-kadang ada juga yang datang
dari syaitan. Nabi s.a.w bersabda, “Sesiapa yang melihatku di dalam
mimpi sesungguhnya dia benar-benar melihatku kerana syaitan tidak dapat
mengambil bentukku” . Syaitan juga tidak dapat mengambil bentuk mereka
yang mengikut iman, jalan kebenaran, makrifat, kebenaran dan cahaya
Nabi s.a.w. Orang arif mentafsirkan hadis Nabi s.a.w di atas dengan
mengatakan syaitan bukan sahaja tidak dapat mengambil bentuk Nabi
s.a.w malah syaitan juga tidak dapat berpura-pura mengakui seseorang
atau sesuatu yang ada sifat kemurahan dan kebaikan atau kasih sayang dan
lemah lembut dan beriman.
Sesungguhnya Nabi-nabi, wali-wali, malaikat, Masjidil haram, matahari,
bulan, awan putih, Quran yang suci, merupakan kewujudan yang ke
dalamnya syaitan tidak boleh masuk juga tidak dapat mengambil bentuk
mereka. Ini kerana syaitan adalah tempat dan keadaan yang menzahirkan
kekerasan, hukuman dan kesengsaraan. Ia hanya boleh menggambarkan
kekeliruan dan keraguan. Bila seseorang sudah memiliki di dalam dirinya
kenyataan nama Allah, ‘Pembimbing Mutlak Kepada Kebenaran’,
bagaimana sifat yang membawa kekacauan itu boleh menyata dalam
dirinya? Sifat-sifat yang bertentangan satu sama lain tidak boleh bertukar
tempat, seperti air dengan api. Kemurkaan tidak dapat mengambil tempat
kemurahan, juga tidak boleh api menyerupai air. Mereka menolak sesama
mereka, mereka berjauhan, mereka kepunyaan ruang yang berlainan.
Allah Pisahkan kebenaran daripada kepalsuan:
“Demikianlah Allah nyatakan kebenaran dan kepalsuan… dengan misalan
dan ibarat…”. (Surah ar-Ra’d, ayat 17).
Tetapi syaitan boleh mengaku menjadi Allah dan menipu manusia,
membawa mereka menjadi sesat. Ini hanya boleh dilakukan dengan izin
Allah. Allah mempunyai banyak sifat-sifat yang kelihatan bertentangan
satu sama lain. Misalnya sifat-Nya Yang Gagah dan Keras kelihatan
berlawanan dengan sifat-Nya Yang Indah dan Lemah-lembut. Syaitan
dilaknati hanya boleh berpura-pura mengambil watak kemarahan dan
keperkasaan kerana ia secara kejadian asalnya adalah bentuk menyatakan
kekerasan Allah.
Allah memiliki kedua-dua sifat, Pembimbing Mutlak kepada kebenaran dan
juga Pembawa kepada kesesatan. Syaitan tidak boleh menjelma dengan
watak sifat yang mengandungi nilai pembimbingan. Jika syaitan berpura-
pura menjelmakan sebarang sifat Allah, ia lakukannya dengan kehendak
dan izin Allah, bagi membimbing orang yang beriman kepada kebaikan
dengan menentang kejahatan, membawanya kepada kebenaran dengan
cara menentang kepalsuan. Dalam kenyataannya syaitan tidak ada
sebarang kuasa untuk merampas iman daripada seseorang yang beriman;
ia hanya boleh mengambilnya jika orang yang beriman itu sendiri
mencampakkan imannya.
Allah memerintahkan Nabi-Nya supaya: “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, yang
aku dan orang-orang yang mengikuti daku menyeru (manusia) kepada
Allah dengan basirah (penyaksian yang jelas). Maha Suci Allah! Dan
bukanlah aku dari golongan musyrikin”. (Surah Yusuf, ayat 108).
Dalam ayat ini ‘orang yang mengikuti daku’ adalah manusia sempurna,
guru kerohanian yang sebenar yang akan datang selepas Nabi Muhamamd
s.a.w, yang akan mewarisi ilmu batin baginda dan kebijaksanaan baginda
dan yang akan berada hampir dengan Allah. Manusia yang demikian
digambarkan sebagai ‘pelindung dan pembimbing sebenar’. (Surah al-
Kahfi, ayat 17).
Ada dua jenis mimpi; subjektif (memberi pandangan atau perasaan sendiri)
dan objektif (bermatlamat), masing-masing dibahagi kepada dua jenis.
Jenis pertama mimpi subjektif ialah bayangan atau gambaran suasana
kerohanian yang tinggi dan hasil daripada keharmonian, dan kelihatan
dalam gambar seperti matahari, bulan, bintang, pemandangan padang
pasir putih bermandikan cahaya, taman syurga, mahligai, roh yang cantik
dalam bentuk malaikat dan lain-lain. Ini semua adalah sifat-sifat hati yang
murni. Jenis kedua mimpi subjektif mengandungi gambaran yang
berkaitan dengan suasana seseorang yang bebas daripada keresahan, yang
mengenal diri dan menemui ketenteraman fikirannya.
Gambaran-gambaran ini adalah kelazatan yang dia akan temui dalam
syurga, bau-bauan dan suara di dalam syurga. Dia akan bermimpikan
beberapa jenis haiwan dan burung yang menyerupai yang paling cantik
yang jenisnya ada dalam dunia. Haiwan yang dilihat di dalam mimpi itu
adalah haiwan syurga. Misalnya, unta adalah haiwan syurga. Kuda
dihantar sebagai haiwan yang membawa tentera suci di dalam peperangan
menentang orang-orang kafir di sekelilingnya dan di dalamnya. Lembu
jantan kepada Nabi Adam a.s bagi menenggala tanah untuk ditanam
gandum. Kambing biri-biri datangnya dari madu syurga, unta diciptakan
dari cahaya syurga, kuda daripada selasih manis di dalam syurga, biri-biri
daripada kunyit syurga.
Baghal menggambarkan suasana terendah seseorang yang menemui hati
dan fikiran yang tenang. Bila dia mimpikan baghal itu tandanya dia cuai
dan malas di dalam melakukan ibadat sebab hawa nafsu badannya
menahan, dan usaha kerohaniannya tidak memberi hasil. Kemudian dia
harus bertaubat dan teruskan melakukan kebajikan supaya dia akan
mendapat hasil.
Keldai diciptakan dari batu syurga dan diberikan untuk berkhidmat kepada
Nabi Adam a.s dan keturunannya. Keldai adalah lambang jasad dan
keperluan kebendaannya, ego dan pentingkan diri sendiri. Jasad adalah
haiwan yang membawa beban, membawa roh. Jika seseorang menjadi
hamba kepada jasad dia adalah umpama orang yang memikul keldai di atas
bahunya, tetapi manusia sebenar menunggangi keldai jasad kebendaannya.
Jadi, keldai melambangkan cara atau alat dia mengarahkan urusan
akhiratnya di dalam dunia ini.
Berkata-kata dengan jejaka tampan dengan wajah yang berseri-seri adalah
tanda kenyataan Ilahi sampai kepada seseorang itu kerana mereka yang
sudah memperolehi makrifat kepada kenyataan Ilahi di dalam syurga akan
muncul di dalam rupa yang cantik. Nabi s.a.w menggambarkan orang
demikian sebagai berkeadaan serba-kena, serba-elok, lemah lembut dan
mempunyai mata kehitaman yang indah. Baginda bahkan mengatakan,
“Aku lihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan”. Kerana Allah tidak
menyerupai sesuatu, hadis ini dimengertikan sebagai kenyataan sifat-sifat
Allah Yang Maha Indah digambarkan di dalam cermin roh yang suci.
Gambaran ini dinamakan bayi bagi hati. Rupa kebendaan, badan, adalah
cermin kepada kebijaksanaan ketuhanan yang mengajarkan dan
membentuk kita. Gambaran ini juga adalah perhubungan di antara hamba
dengan Tuhan. Saidina Ali r.a berkata, “Jika aku tidak dibentuk oleh
Tuhanku aku tidak akan mengenal-Nya”.
Bagi pembentukan kerohanian, seseorang itu memerlukan petunjuk,
bimbingan dan teladan daripada pembimbing yang masih hidup. Guru-
guru yang menjadi pembimbing adalah nab-nabi dan orang-orang yang
hampir dengan Allah yang mewarisi kebijaksanaan nabi-nabi. Melalui
pengajaran mereka hati dan diri seseorang diterangi cahaya, menerangi
perjalanan mereka. Murid menemui roh yang diilhamkan di dalam dirinya
melalui mereka yang menjadi guru kerohanian tersebut. “Dia jualah yang
tinggi darjat-Nya, yang memiliki arasy. Dia kirimkan roh (dari perintah-
Nya) kepada sesiapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya buat Dia
ancam dengan hari pertemuan”. (Surah Mukmin, ayat 15).
Untuk keselamatan hati kamu mestilah mendapatkan guru yang
mengilhamkan kamu dengan roh itu.
Imam al-Ghazali berkata, “ Tidak menjadi kesalahan bagi seseorang melihat
Allah dalam mimpinya sebagai gambaran yang indah. Gambaran itu adalah
symbol menurut peringkat kerohanian seseorang. Apa yang dilihat tentu
sekali bukan Zat Yang Maha Suci yang tidak serupa dengan sesuatu. Begitu
juga Nabi s.a.w tidak dapat dilihat dalam rupa baginda yang asli, kecuali
mereka yang menjadi waris kepada hikmah kebijaksanaan baginda, ilmu
dan amalan baginda, dan yang mengikuti baginda secara keseluruhan.
Yang lain, bila mereka mimpikan Rasulullah s.a.w, mimpikan simbol
menurut kemampuan dan suasana mereka, tetapi mereka tidak sebenarnya
melihat baginda”.
Kata qil (kata orang bijak pandai), “Dibolehkan melihat Allah di dalam
mimpi sebagai cahaya atau rupa manusia”. Dia menyatakan Diri-Nya
dalam bentuk sifat-sifat-Nya. Kepada Nabi Musa a.s Dia kelihatan sebagai
api pada pokok jujube yang terbakar. Itu adalah penzahiran tentang Kalam
Suci yang Nabi Musa a.s dengan sebagai Belukar Terbakar, mengatakan,
“Wahai Musa, apakah di tangan kamu?’ (Surah Ta Ha, ayat 15).
Apa yang kelihatan kepada Musa a.s sebagai api adalah cahaya Ilahi. Dia
melihatnya sebagai api menurut peringkat dan hasratnya, kerana dia
sedang mencari api. Bagi manusia, peringkat kewujudan terendah pada
dirinya ialah tumbuh-tumbuhan, kemudian haiwan. Apakah yang ganjil
jika manusia yang telah menyucikan dirinya daripada tahap-tahap rendah
itu sehingga menjadi manusia sempurna, melihat kenyataan Tuhan
dizahirkan sebagai Belukar Terbakar.
Bagi manusia sempurna yang lain Allah menzahirkan Kalam-Nya sebagai
perkataan mereka sendiri, keluar daripada mulut mereka. Bayazid al-
Bustami berkata, “Zatku adalah Yang Maha Mulia. Betapa besarnya
kemuliaan daku” . Kalam Suci keluar daripada mulut Junaid al-Baghdadi,
“Tiada yang lain kecuali Allah di dalam jubahku” . Terdapat rahsia-rahsia
besar di dalam peringkat seperti ini yang dicapai oleh manusia sempurna.
Terlalu sukar untuk menerangkannya dan terlalu panjang untuk
menghuraikannya. Ia hanya berkaitan dengan mereka yang menghabiskan
hayatnya mengejar ilmu batin.
Untuk menjadi penerima penzahiran Ilahi dan untuk berhubung dengan
roh Nabi s.a.w, seseorang mesti diajar dan dididik dan dibawa ke
peringkat kerohanian tersebut. Orang yang baharu memasuki perjalanan
kerohanian tidak boleh berharap dapat berhubung dengan Allah dan Rasul-
Nya. Di antara guru yang suci yang hampir dengan Allah dan Rasul-Nya
ada hubungan yang mengatasi zahiriah.
Jika Nabi s.a.w masih hidup seseorang boleh mengambil ilmu secara
langsung daripada baginda dan tidak perlulah kepada perantaraan. Tetapi
oleh kerana baginda sudah wafat dan berpindah kepada alam baqa,
baginda berpisah dengan keadaan keduniaan dan kebendaan. Jadi,
seseorang tidak dapat berhubung secara langsung dengan baginda. Hal
yang sama juga terjadi pada guru yang benar. Bila mereka meninggal dunia
orang ramai tidak boleh lagi belajar dengan mereka.
Kamu akan faham jika kamu mempunyai pengertian yang mendalam, jika
kamu mencari bukan untuk menjadi luar biasa. Mencari untuk
memperolehi kefahaman ini dengan renungan mendalam, agar kamu
melepasi kegelapan ego diri kamu dengan cahaya yang dinyalakan. Kamu
perlu cahaya untuk melihat, untuk mengerti. Kamu tidak boleh melihat di
dalam kegelapan. Cahaya itu hanya jatuh pada tempat yang sesuai, yang
teratur dan suci, tempat yang mulia. Orang yang baharu, dengan dirinya
sendiri, tidak dapat meletakkan dirinya dalam kesesuaian dan sebab itu
memerlukan guru.
Guru yang masih hidup mestilah ada hubungan dengan Nabi s.a.w – iaitu
jika dia benar-benar pewaris suasana Nabi s.a.w. Dalam perjalanannya dia
menerima bimbingan daripada Nabi s.a.w dan diajarkan untuk menjadi
hamba Allah yang sabar. Dengan bantuan ini dia menjadi alat bagi
penerusan jalan batin. Selebihnya adalah rahsia. Hanya orang yang layak
mengalaminya akan mengalaminya.
“Bagi Allah jualah kemuliaan dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang mukmin”.
(Surah Munafiquun, ayat 8).
Suasana yang mulia ini adalah rahsia.
Latihan kerohanian bukanlah perkara mudah. Roh kebendaan berada di
dalam tubuh dan dilatih dengannya. Tempat roh kerohanian di dalam hati.
Tempat roh sultan adalah pusat hati. Tempat roh kudus (roh suci) adalah
rahsia. Rahsia itu adalah jalan yang menghubungkan yang hak dengan
orang yang beriman. Ia adalah juru bahasa, menterjemahkan yang hak
kepada si pencari, kerana rahsia itu kepunyaan Allah, adalah hampir
dengan-Nya dan amanah-Nya.
Ada juga mimpi akibat kelakuan buruk. Ia menunjukkan sifat-sifat ego
yang menguasai atau kesedaran terhadap kesalahan tetapi dia tidak mampu
menghentikannya.
Malah dalam suasana yang lebih baik bila seseorang diingatkan oleh Allah
tentang kesalahan dan dosanya dia mimpikan haiwan liar seperti harimau
dan singa, serigala dan beruang, anjing dan babi jantan, dan haiwan-
haiwan kecil – musang, arnab, kucing ular, kala jengking dan haiwan yang
memakan daging dan juga haiwan berbisa, haiwan yang merosakkan.,
Untuk menyatakan sebahagian kecil kejahatan yang ditunjukkan oleh
gambaran-gambaran itu: Harimau adalah simbol; ujub dan besar diri serta
takabur yang sampai kepada peringkat angkuh dengan Allah: “Orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami dan tidak mahu terima dia, maka tidak
akan dibuka pintu-pintu langit dan tidak akan mereka masuk syurga
sehingga unta boleh masuk ke lubang jarum”. (Surah al-A’raaf, ayat 40).
Hukuman yang sama juga bagi mereka yang angkuh dengan sesama
manusia.
Serigala adalah simbol kasihkan diri yang melampau dan inginkan pujian.
Beruang melambangkan kemarahan dan keberangan dan kezaliman ke
atas orang yang dia kuasai. Serigala melambangkan kerakusan tanpa
memperdulikan haram dan halal, bersih atau kotor. Anjing melambangkan
kasihkan dunia dan huru harinya. Babi melambangkan kedinginan, cita-
cita tinggi, berendam dan hawa nafsu yang kuat. Musang menunjukkan
penipuan, pembohongan, menipu dalam urusan dunia. Arnab
menunjukkan kelakuan yang sama, kecuali dilakukan secara tidak sedar
dan dalam kelalaian.
Harimau bintang – usaha yang digunakan tanpa pertimbangan dan
menyakitkan hati, juga ingin menjadi terkenal. Kucing – kebakhilan dan
memutar belit. Ular – berbohong, mengata-ngata, membuat tuduhan palsu
dan menyakitkan orang lain dengan perkataannya. Kala jengking – kritik
yang tidak sihat, mempersendakan orang dan tidak menerima mereka.
Tebuan – bahasa kesat yang menyakitkan hati orang.
Jika seseorang bermimpi berlawan dengan salah satu daripada haiwan
tersebut tetapi tidak dapat mengalahkannya dia perlu memperkuatkan lagi
usaha, ibadat dan ingatan secara sedar, sehingga sekali pukul binatang itu
dapat dihapuskan. Jika bermimpi membunuh binatang itu bermakna dia
telah berhenti melakukan kesalahan dan menyakitkan hati orang lain. Allah
berfirman: “ Dia akan hapuskan daripada mereka kejahatan dan Dia akan
perbaiki keadaan mereka”. (Surah Muhammad, ayat 2).
Jika dia bermimpi salah satu daripada binatang itu berubah menjadi
manusia itu tandanya suasananya yang salah dahulu telah
diperbetulkannya dan taubatnya diterima, kerana tanda sebenar taubat
diterima ialah ketidak-upayaan melakukan kesalahan yang sama. “Kecuali
orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan akal salih, maka
mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan…” (Surah al-
Furqaan, ayat 70).
Bila seseorang diselamatkan daripada kejahatan dan kesalahan dia mesti
menjaganya sungguh-sungguh, jangan berasa sudah selamat, kerana hawa
nafsu dan ego mendapat kembali kekuatannya melalui ingatan yang sedikit
terhadap keingkaran, bangkangan dan kejahatan, dan membawa seseorang
kembali kepada cara lama. Suasana roh yang sejahtera dengan mudah akan
hilang. Tujuan Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya menahan diri
daripada yang haram adalah mengwujudkan amaran yang berterusan
untuk menjaga seseorang agar sentiasa berwaspada.
Ego jahat yang memerintah kadang-kadang kelihatan dalam mimpi sebagai
orang kafir; diri yang mengkritik diri sendiri boleh kelihatan sebagai orang
Yahudi; diri yang berperangsang kadang-kadang kelihatan sebagai orang
Kristian.
26: PENGIKUT-PENGIKUT JALAN KEROHANIAN
Orang-orang yang mengikuti jalan kerohanian terbahagi kepada dua
bahagian atau golongan. Golongan pertama ialah yang termasuk ke dalam
kumpulan Sunnis; mereka yang mengikuti peraturan Quran dan amalan
serta peraturan yang berasal daripada kelakuan dan perbuatan Rasulullah
s.a.w. Mereka ikuti peraturan ini dalam perkataan, perbuatan, pemikiran
dan perasaan, dan mereka mengikuti maksud batin agama – iaitu mereka
mengerti bukan ikut secara taklid buta. Mereka beramal dan hidup
menurut peraturan agama, merasainya dan menikmatinya, bukan semata-
mata menanggung sesuatu yang dipaksakan ke atas mereka. Inilah jalan
kerohanian yang mereka ikut. Inilah persaudaraan hamba-hamba Allah
yang berkasih sayang.
Sebahagian daripada mereka dijanjikan syurga tanpa hisab, yang lain akan
menderita sedikit azab hari kiamat dan kemudian masuk syurga. Namun
ada juga sebahagian yang memasuki neraka beberapa ketika yang singkat
untuk menyucikannya daripada dosa sebelum masuk syurga. Tiada yang
akan kekal di dalam neraka. Yang akan kekal di dalam neraka ialah orang
kafir dan munafik.
Golongan kedua terdiri daripada kumpulan-kumpulan yang bidaah. Nabi
s.a.w telah memberi peringatan , “ Kamu, seperti Bani Israil sebelum kamu,
seperti umat Isa anak Maryam, akan dibahagikan dan dipisahkan di antara
satu sama lain. Sebagaimana mereka mereka-reka dan mengubah-ubah,
kamu juga akan mengadakan bidaah. Dengan masa berlalu dalam bidaah,
tentangan dan dosa, kamu akan jadi seperti mereka dan berbuat yang
sama. Jika mereka masuk ke dalam lubang ular yang berbisa kamu juga
akan mengikuti mereka. Kamu patut tahu Bani Israil berpecah kepada
tujuh puluh satu kumpulan.
Kesemuanya dalam kesesatan kecuali satu. Dan orang Nasrani berpecah
kepada tujuh puluh dua kumpulan, dan semuanya sesat kecuali satu. Aku
bimbang umatku akan dipecahkan kepada tujuh puluh tiga kumpulan. Ini
terjadi kerana mereka mengubah yang benar kepada yang salah dan yang
haram kepada yang halal menurut pertimbangan mereka sendiri, untuk
muslihat dan keuntungan mereka, kecuali satu, semua kumpulan itu akan
ke neraka, dan kumpulan yang satu itu akan selamat.” Bila ditanya
siapakah yang satu diselamatkan itu baginda bersabda, “Mereka yang
mengikuti kepercayaan dan perbuatanku serta para sahabatku”.
Di bawah ini dinyatakan sebahagian daripada jalan bidaah yang dipegang
dan diikuti oleh orang-orang yang mengakui diri mereka orang
kerohanian:
• Hululiyya – percaya kepada penjelmaan dalam bentuk makhluk atau
manusia, mendakwa halal melihat tubuh dan wajah yang cantik, samada
perempuan atau lelaki, siapa sahaja samada isteri-isteri atau suami-suami,
anak-anak perempuan atau saudara-saudara perempuan orang lain.
Mereka juga bercampur dan menari bersama-sama. Ini jelas bertentangan
dengan peraturan Islam dan menjaga kesucian dan kehormatan di dalam
peraturan tersebut.
• Haliyya – mencari kerasukan zauk dengan cara menari, menyanyi,
menjerit dan bertepuk tangan. Mereka mendakwa syeikh mereka berada
dalam suasana yang mengatasi batasan hukum agama. Jelas sekali mereka
terpesung jauh daripada perjalanan Nabi s.a.w yang dalam tindak tanduk
mematuhi hukum agama.
• Awliya’iyya – mendakwa mereka berada dalam kehampiran dengan Allah
dan mengatakan bila hamba hampir dengan Tuhan semua kewajipan
agama terangkat daripada mereka. Seterusnya mereka mendakwa seorang
wali, orang yang hampir dengan Allah, menjadi sahabat akrab-Nya,
mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada nabi. Mereka
mengatakan ilmu sampai kepada Rasulullah s.a.w melalui Jibrail
sementara wali menerima ilmu secara langsung dari Tuhan. Pandangan
salah tentang suasana mereka dan apa yang mereka sifatkan kepada diri
mereka adalah dosa mereka yang paling besar yang membawa mereka
kepada bidaah dan kekufuran.
• Syamuraniyya – percaya dunia ini kekal abadi, dan sesiapa yang
mengucapkan perkataan abadi akan terlepas daripada tuntutan agama, lagi
mereka tidak ada hukum halal dan haram. Mereka menggunakan alat
musik dalam upacara ibadat mereka. Mereka tidak memisahkan lelaki
dengan perempuan. Mereka tidak membezakan dua jantina itu. Mereka
adalah kumpulan kafir yang tidak boleh diperbetulkan lagi.
• Hubiyya – mengatakan bila manusia sampai ke peringkat cinta mereka
bebas daripada semua kewajipan agama. Mereka tidak menutup kemaluan
mereka.
• Huriyya – seperti Haliyya, enggan menjerit, menyanyi, menari dan
bertepuk tangan, mereka menjadi kerasukan dan di dalam suasana
kerasukan itu mereka mendakwa mengadakan hubungan jenis dengan
bidadari; bila keluar dari kerasukan mereka mandi junub. Mereka
dimusnahkan oleh pembohongan mereka sendiri.
• Ibahiyya – enggan mengajak kepada kebaikan dan melarang
kemungkaran. Mereka menghukumkan haram sebagai halal. Mereka
memahatkan pendapat ini kepada kaum perempuan. Bagi mereka semua
perempuan halal bagi semua lelaki.
• Mutakasiliyya – menjadikan prinsip kemalasan dan meminta sedekah
dari rumah ke rumah sebagai cara mendapatkan keperluan harian mereka.
Mereka mendakwa telah meninggalkan segala hal ehwal dunia. Mereka
gagal dan terus gagal di dalam kemalasan mereka.
• Mutajahiliyya – berpura-pura jahil dan dengan sengaja berpakaian tidak
sopan, cuba menunjukkan dan berkelakuan seperti orang kafir, sedangkan
Allah berfirman, “Jangan cenderung kepada yang berbuat dosa”. (Surah
Hud, ayat 113) . Nabi s.a.w bersabda, “Sesiapa yang cuba berlagak seperti
satu kaum dia dianggap salah seorang dari mereka”.
• Wafiqiyya – mendakwa hanya Allah yang boleh kenal Allah. Jadi, mereka
membuang jalan kebenaran. Kejahilan yang disengajakan membawa
mereka kepada kemusnahan.
• Ilhamiyya – berpegang dan mengharapkan kepada ilham, meninggalkan
ilmu pengetahuan, melarang belajar, dan berkata Quran adalah hijab bagi
mereka, dan fikiran puisi adalah Quran mereka. Mereka meninggalkan
Quran dan sembahyang, sebaliknya mengajarkan anak-anak mereka puisi.
Pemimpin-pemimpin dan guru-guru dari kumpulan Sunni mengatakan
para sahabat, dengan berkat kehadiran Rasulullah s.a.w di tengah-tengah
mereka, berada dalam suasana zauk dan keghairahan kerohanian yang
sangat tinggi. Pada zaman kemudian peringkat kerohanian yang demikian
tidak tercapai lagi oleh orang ramai dan ia menjadi semakin hilang. Yang
masih tinggal diturunkan kepada pewaris-pewaris kerohanian pada jalan
kebenaran Ilahi, yang kemudiannya terbahagi kepada banyak cabang-
cabang. Ia berpecah kepada terlalu banyak kumpulan sehingga
kebijaksanaan dan tenaganya menjadi sangat berkurangan dan
berselerak.
Dalam banyak kes segala yang tinggal hanyalah rupa yang dibaluti oleh
pakaian guru kerohanian tanpa sebarang makna, kekuatan dan tenaga di
bawah pakaian tersebut. Walaupun dalam suasana kosong itu ia masih juga
berpecah dan berganda, bertukar menjadi bidaah. Sebahagian menjadi
Qalandari – peminta sedekah yang mengembara. Yang lain menjadi
Haydari dan berpura-pura menjadi wira. Yang lain pula menamakan diri
mereka Adhami dan berpura-pura mengikuti wali Allah Ibrahim Adham
yang meninggalkan takhta kerajaan dunia ini. Masih ramai lagi yang lain.
Dalam zaman kita mereka yang mengikuti jalan kebenaran sesuai dengan
hukum agama menjadi semakin berkurangan. Pengikut-pengikut yang
benar pada jalan ini boleh dikenali melalui dua kenyataan.
Pertama
Kenyataan zahir, yang menunjukkan keadaan kehidupan harian mereka
yang dibentengi oleh hukum dan amalan agama.
Kedua
Kenyataan dalaman, contoh teladan yang si pencari itu ikuti dan lahirkan
dan dengan apa yang dia dibimbingkan. Sesungguhnya tiada yang lain
untuk diikuti melainkan Nabi Muhamamd s.a.w, yang menjadi teladan,
yang pada satu masa dahulu baginda sendiri berada dalam suasana
mencari dan kebenaranlah yang baginda cari. Tanpa ragu-ragu roh suci
baginda sahaja yang menjadi perantaraan.
Itulah undang-undang yang mesti dipatuhi oleh orang yang beriman bagi
penerusan kehidupan agama dalam kehidupan. Cara lain, wali yang
memiliki pesaka kerohanian Nabi s.a.w boleh memberkati si pencari
dengan kewujudan kebendaannya. Sesungguhnya syaitan tidak boleh
mengambil rupa Nabi s.a.w.
Waspadalah wahai pengembara pada jalan kerohanian, orang buta tidak
boleh memimpin orang buta. Perhatian kamu mesti bersungguh-sungguh
agar kamu dapat membezakan kebaikan yang paling kecil daripada
kejahatan yang paling kecil.
27: PENUTUP
Pengembara di atas jalan kepada kebenaran mestilah mempunyai
kebijaksanaan, kefahaman dan pengertian yang mendalam akan fitnah
sesuatu. Ini semua merupakan kelayakan awal yang perlu dimilikinya.
“Allah ciptakan hamba bijaksana dan berkebolehan yang meninggalkan
dunia tempat huru hara mereka ke laut yang hanya ombak menjadi ujian
mereka perbuatan baik adalah kapal yang menempuh gelombang”.
Orang memasuki jalan ini kerana ada matlamat yang dia tuju.
Perhatiannya tetap teguh kepada matlamat namun, dia tidak boleh abaikan
pentingnya persiapan untuk pengembaraan ini. Bila dia mempersiapkan
diri dia mesti berjaga-jaga jangan ditipu oleh rupa yang menawan dan dia
mesti tidak membebankan dirinya dengan muatan atau menjadikan
perhentian atau setesen kerohanian sebagai matlamat terakhir.
Orang yang berada pada jalan kerohanian mengatakan segala perbuatan
kepunyaan Yang Menciptakannya, manusia tidak sepenuhnya
bertanggungjawab; di dalam tangannya perbuatan boleh kelihatan lain
daripada apa yang sebenarnya. Allah berfirman: “Apakah mereka (berasa)
aman (daripada) percubaan Allah? Kerana tidaklah ada yang berasa aman
daripada percubaan Allah melainkan kaum yang muflis”. (Surah al-A’raaf,
ayat 99).
Inilah dasar bagi jalan ini; meninggalkan semua muatan di belakang dan
bergantung kepada Allah semata-mata, tidak dibingungkan oleh
rangsangan pada setesen-setesen di sepanjang perjalanan. Dalam hadis
Qudsi Allah berfirman: “Wahai Muhammad! Sampaikan khabar gembira
kepada pendosa-pendosa yang Aku Maha Pengampun. Tetapi sampaikan
kepada mereka yang benar-benar kepunyaan-Ku dan ikhlas pada niatnya
untuk-Ku bahawa Aku sangat cemburu (terhadap apa yang mereka
inginkan di samping Aku)”.
Kekeramatan yang zahir pada mereka yang hampir dengan Allah dan
Setesen kerohanian yang mereka nyatakan adalah benar. Tetapi orang-
orang yang seperti ini masih tidak terlepas daripada rangsangan Allah dan
ujian-Nya merangsang kepada dosa – kadang-kadang mereka diberi
kejayaan bila mereka mula berbuat dosa, jadi mereka fikir suasana atau
keadaan mereka adalah milik mereka dan kekeramatan itu juga milik
mereka. Hanya nabi-nabi dan mukjizat mereka yang bebas daripada ujian
demikian. Adalah dikatakan ketakutan kehilangan iman ketika tercabut
nyawa dari badan adalah satu-satunya penjagaan yang akan menjamin
iman pada saat akhir.
Hassan al-Basri pernah berkata bahawa kepada orang yang hampir dengan
Allah berjaya melalui ketakutan mereka terhadap Allah. Di dalam diri
mereka takut jauh lebih kuat daripada harap kerana mereka tahu
bahayanya diperbodohkan oleh sifat semula jadi manusia. Tipu daya ini
menarik manusia keluar daripada jalan tanpa mereka menyedarinya. Dia
juga berkata orang yang sihat takutkan penyakit dan harapannya adalah
sedikit, sementara orang yang berpenyakit tidak lagi takutkan ditimpa
penyakit dan harapannya untuk sihat bertambah.
Nabi s.a.w bersabda, “Jika ditimbang takut dan harap pada orang beriman
kedua-duanya adalah sama” . Dengan rahmat Allah, ketika saat akhir kita,
Allah lebihkan harapan kita daripada ketakutan. Nabi s.a.w bersabda, “
Semua umatku akan menghembuskan nafas terakhirnya dengan
kepercayaan dan harapan kepada rahmat Allah” , kerana Allah
menjanjikan, “Keampunan-Ku meliputi segala-galanya” , dan, “Rahmat-Ku
mendahului murka-Ku”.
Allah Maha Pemurah, Penyayang dan Pengampun, tentu sekali para hamba
boleh bergantung kepada-Nya. Namun pengembara pada jalan kerohanian
mesti takut dan menyelamatkan dirinya daripada kemurkaan Allah. Untuk
itu perlu dia serahkan semua yang dimilikinya – dirinya sendiri,
kewujudannya – letakkan segala-galanya di kaki-Nya dan berlindung
dengan-Nya di dalam-Nya.
Wahai pencari. Duduklah di atas lutut kamu di hadapan Tuhan kamu! Akui
dan bertaubat terhadap kesalahan-kesalahan kamu! Tanggalkan daripada
diri kamu segala kewujudan kebendaan! Akui dan bertaubat daripada dosa-
dosa kamu yang lalu dan nantikan di pintu keampunan-Nya tanpa
membawa apa-apa, dalam keadaan berhajat penuh kepada-Nya! Jika kamu
lakukan ini tentunya kamu akan menerima rahmat-Nya, berkat-Nya,
makrifat-Nya, kasih-Nya dan belas kasihan-Nya; dan semua dosa-dosa
kamu dan kekotoran kamu akan hancur dan terlucut daripada kamu.
Kerana Dia jualah Maha Besar, Pemurah, Penyayang, Tuhan yang kekal
abadi, Maha Berkuasa!
Kami memohon keselamatan dan kesejahteraan ke atas penghulu kami
Nabi Muhamamd s.a.w, keturunan baginda, sahabat-sahabat baginda dan
sekalian pengikut baginda. Segala puji dan syukur kepunyaan Allah; kami
serahkan segala-galanya ke dalam tangan-Nya.
AMIN!

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR ( SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RA ) BAG-3

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM…..

Terjemah kitab Sirrul Asror terdiri dari bab ke-15 s/d bab ke-21…dan bagi para pengunjung yang belum membaca bab-bab sebelumnya, silahkan anda baca lebih dulu…
TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAG-1

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAG-2

Dan berikut ini adalah pembahasan bab ke-15 s/d ke-21, selamat membaca…

15: DARWIS (SUFI)
Ada satu golongan yang dikenali sebagai sufi. Empat tafsiran diberikan
kepada istilah sufi. Ada yang melihatnya pada keadaan zahir mereka
memakai baju bulu yang kasar. Bulu dalam bahasa Arab ialah suf. Dari
perkataan ini mereka dipanggil sufi. Yang lain melihat kepada kehidupan
mereka yang bebas daripada kekacauan dunia ini serta kedamaian dan
ketenteraman mereka, keadaan yang sesuai dengan bahasa Arab safa.
Daripada perkataan safa itu timbul istilah sufi. Yang lain pula memandang
lebih mendalam, kepada hati mereka yang suci murni dan bebas daripada
apa sahaja kecuali Zat Allah. Dalam bahasa Arab safi bererti kesucian hati
dan dari perkataan itu dikatakan timbul istilah sufi. Yang lain memanggil
mereka sufi kerana mereka hampir dengan Allah dan akan berdiri di
barisan pertama di hadapan Allah pada hari kiamat. Safi dalam bahasa
Arab bermakna barisan.
Terdapat empat alam , empat dunia . Pertama ialah alam atau dunia jirim –
tanah, air, api dan angin merupakan jirim dalam alam ini. Kedua ialah
alam makhluk rohani – malaikat, jin, mimpi dan kematian , ganjaran Allah –
lapan syurga dan keadilan Allah – tujuh neraka. Ketiga ialah alam huruf,
nama-nama indah bagi sifat-sifat Allah, dan Loh Tersembunyi (Loh Mahfuz)
yang menjadi sumber kepada perintah-perintah Allah . Keempat ialah alam
Zat Allah Yang Maha Suci, alam yang tidak boleh digambarkan atau
dihuraikan kerana pada alam ini atau tahap ini tidak ada perkataan, nama-
nama, sifat-sifat atau persamaan. Tiada siapa kecuali Allah mengetahuinya.
Terdapat pula empat jenis ilmu. Pertama ilmu tentang peraturan-peraturan
Allah, dan berhubung dengan aspek lahir kehidupan dunia ini. Kedua ialah
ilmu kerohanian, pengetahuan batin tentang sebab dan akibat. Ketiga ialah
ilmu tentang jiwa, roh, mengenal diri dan melaluinya pengetahuan tentang
ketuhanan diperolehi. Akhirnya ilmu tentang kebenaran atau hakikat.
Roh juga ada empat jenis, roh kebendaan, roh yang arif, roh yang
memerintah (roh sultan) dan roh kudus (roh suci).
Yang zahir, kenyataan bagi Pencipta, juga ada empat jenis. Pertama ialah
kenyataan di dalam rupa, bentuk, warna, seumpama gubahan-Nya. Kedua
ialah kenyataan perbuatan dan tindak balas dalam perkara yang berlaku.
Ketiga ialah kenyataan dalam sifat-sifat, bakat-bakat, perangai-perangai
sesuatu. Akhirnya kenyataan bagi zat-Nya.
Akal atau daya menimbang juga ada empat jenis: akal yang menguruskan
soal-soal kehidupan duniawi, akal yang menimbang dan memikirkan soal-
soal akhirat, akal bagi roh yang bertugas dalam bidang makrifat dan
akhirnya akal yang meliputi.
Perkara yang dibincangkan juga ada empat jenis. Empat jenis ilmu, empat
jenis roh, empat jenis penzahiran (kenyataan) dan empat jenis akal. Ada
orang yang berada pada tahap pertama ilmu, roh, kenyataan dan akal.
Mereka adalah penghuni syurga pertama yang dipanggil syurga yang
menjadi tempat kembali yang mensejahterakan, iaitu syurga keduniaan.
Mereka yang berada pada tahap kedua ilmu, roh, kenyataan dan akal
tergolong ke dalam syurga yang lebih tinggi, taman kesukaan dan
kesenangan kurniaan Allah kepada makhluk-Nya, syurga di dalam alam
malaikat.. Sebahagian manusia yang mencapai tahap ketiga ilmu, roh,
kenyataan dan akal (makrifat) berada di dalam syurga peringkat ketiga,
syurga langit-langit, syurga nama-nama dan sifat-sifat Ilahi dalam alam
keesaan.
Namun, mereka yang mencari dan terikat dengan ganjaran Allah,
walaupun syurga, tidak dapat melihat hakikat sebenar dalam diri mereka
dan dalam benda-benda di sekeliling mereka. Mereka yang arif, yang
mencari hakikat, mereka yang mencapai suasana sebenar sufi, suasana
keinginan menyeluruh – tidak inginkan sesuatu apa pun kecuali Allah,
berhajat kepada Allah sahaja – meninggalkan segala-galanya dan tidak
mencari apa-apa kecuali yang hak. Mereka temui apa yang mereka cari dan
masuk ke dalam alam yang hak, dan kehampiran dengan Allah, dan hidup
semata-mata kerana Zat Allah, tidak kerana yang lain.
Ini sesuai dengan perintah Allah, “Carilah keselamatan dengan Allah” dan
ikut nasihat Nabi s.a.w, “Kedua-dua dunia dan akhirat terlarang bagi orang
yang mencintai Allah” . Nabi s.a.w tidak memaksudkan kedua-dua dunia
dan akhirat dihukumkan haram. Apa yang baginda maksudkan ialah orang
yang berkehendak menemui Allah menyekat keinginan hawa nafsunya,
egonya, kasih sayang dan cita-citanya kepada dunia dan akhirat.
Pencari yang hak memberi alasan: Dunia ini adalah ciptaan dan kita juga
ciptaan. Semua yang dicipta berhajat kepada Pencipta. Bagaimana
mungkin yang berhajat meminta kepada yang berhajat juga. Apa lagi jalan
bagi yang diciptakan kecuali mencari Pencipta.
Allah berfirman melalui Rasul-Nya, “Kecintaan-Ku, Wujud-Ku, adalah
kecintaan mereka kepada-Ku”.
Nabi s.a.w bersabda, “Keadaanku yang sangat berhajat, kemiskinanku,
adalah kemegahanku” . Keadaan yang sangat berhajat dan kecintaan
kepada Allah menjadi asas kepada pencarian sufi. Keadaan kemiskinan
yang menjadi kebanggaan Nabi s.a.w bukanlah kekurangan sesuatu
berbentuk keduniaan atau kebendaan. Ia adalah pelepasan segala-galanya
kecuali keinginan kepada Zat Allah. Ia adalah segala sesuatu- bukan sahaja
yang di dalam dunia ini, malah yang dijanjikan di akhirat juga – dan
lantaran itu suasana berhajat sepenuhnya untuk dipersembahkan kepada
Allah.
Inilah keadaan yang membawa seseorang kepada kekosongan atau
ketiadaan diri, lenyap di dalam zat Allah. Ia adalah mengosongkan diri
seseorang daripada apa sahaja kecuali cinta Allah. Kemudian hati menjadi
bernilai atau layak untuk menerima janji Allah, “Aku tidak dapat
ditanggung oleh langit dan bumi tetapi layak ditanggung oleh hati hamba-
hamba-Ku yang beriman”.
Hamba yang beriman adalah yang melepaskan apa sahaja kecuali Yang Esa
dari hatinya. Bila hati sudah disucikan, Allah melapangkannya dan
memuatkan Diri-Nya ke dalamnya. Bayazid Bustami menggambarkan
keluasan hatinya dengan katanya, “Jika segala yang maujud di dalam dan
di sekeliling arasy, keluasan semua ciptaan Allah, diletakkan di penjuru
hati manusia sempurna dia tidak akan merasai beratnya”.
Begitulah keadaan kekasih Allah. Kasihilah mereka dan sentiasalah
bersama mereka kerana yang mencintai akan bersama-sama yang dicintai
pada hari akhirat nanti. Tanda kecintaan itu ialah mencari kehadiran
bersama-sama mereka, berkehendak mendengar perkataan mereka, dan
dengan pandangan serta perkataan mereka, dapat merasakan kerinduan
terhadap Allah Yang Maha Tinggi.
Allah berfirman melalui Nabi-Nya, “Aku merasai kerinduan para hamba-Ku
yang beriman, yang baik-baik, hamba yang sejati, terhadap Diri-Ku dan
Aku juga merindui mereka”.
Kekasih Allah kelihatan berbeza daripada orang lain, kelakuan dan
tindakan mereka juga berbeza. Pada peringkat permulaan, ketika masih
baharu, tindakan mereka kelihatan seimbang antara baik dengan buruk.
Bila mereka maju lagi dan sampai kepada peringkat pertengahan,
perbuatan mereka penuh dengan manfaat. Dalam semua hal kebaikan yang
keluar melalui mereka bukan sahaja dalam ketaatan mereka mematuhi
perintah Allah dan peraturan agama, tetapi juga dalam perbuatan yang
mengandungi puncak kebahagiaan dan bersinar dengan cahaya kepada
maksud bagi yang zahir.
Mereka seolah-olah dipakaikan dengan pakaian daripada cahaya yang
berwarna warni yang memancar daripada mereka menurut makam
mereka.
Apabila mereka dapat mengalahkan ego mereka dan kejahatan nafsu yang
rendah dengan berkat kalimah tauhid “La ilaha illa Llah” dan sampai
kepada kewujudan yang boleh membezakan antara yang hak dengan yang
batil, yang benar dengan yang salah, cahaya biru langit memancar keluar
daripada mereka.
Bila dalam peringkat tersebut, dengan pertolongan dan ilham dari Allah,
mereka berpindah sepenuhnya ke dalam kebaikan dan meninggalkan
kejahatan keseluruhannya, cahaya merah membungkus atau membaluti
mereka.
Dengan berkata nama Allah – HU – nama itu tiada yang lain kecuali yang
hak dapat menceritakannya, mereka sampai kepada peringkat dipersucikan
daripada segala sifat-sifat keji dan perbuatan jahat dan menemui suasana
tenang dan aman, kemudian cahaya hijau keluar daripada mereka.
Bila semua ego dan keinginan, bila semua kehendak diri sendiri
dihapuskan melalui berkat HAQ, yang sebenarnya, dan bila mereka
menyerahkan kehendak mereka kepada kehendak Allah dan reda dengan
apa juga yang datang daripada-Nya, warna mereka berubah menjadi
cahaya putih.
Inilah gambaran orang-orang sufi daripada peringkat permulaan mereka di
dalam perjalanan sampailah kepada peringkat pertengahan. Tetapi
seseorang yang sampai kepada perbatasan peringkat ini tidak mempunyai
bentuk atau warna. Dia menjadi seolah-olah sinaran cahaya matahari.
Cahaya matahari tidak berwarna. Sufi yang sampai kepada makam yang
paling tinggi tidak mempunyai kewujudan untuk membalikkan cahaya atau
warna. Jika ada, warnanya ialah hitam, yang menyerap semua warna.
Inilah tanda keadaan fana
Orang ramai yang melihat kepadanya, keadaan yang tiada warna ini,
kelihatan gelap, menjadi tabir menutupi cahaya makrifat yang dia miliki,
seperti malam menutupi sinaran matahari. Allah berfirman: “Dan Kami
jadikan malam itu (sebagai) pakaian. Dan Kami jadikan siang itu tempat
penghidupan”. (Surah Nabaa, ayat 10 & 11).
Bagi mereka yang sampai kepada hakikat atau intipati akal dan ilmu, ada
tanda dalam ayat di atas.
Mereka yang sampai kepada kebenaran (hakikat) ketika di dalam dunia ini
merasakan seolah-olah di penjarakan di sini di dalam bilik kurungan di
bawah tanah yang gelap. Mereka menghabiskan hayat mereka di dalam
kesusahan dan kesengsaraan. Mereka menanggung kesusahan yang besar,
tekanan-tekanan keadaan, di dalam dunia yang gelap sepenuhnya. Nabi
s.a.w bersabda, “Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman” . Seperti
yang baginda s.a.w khabarkan percubaan yang paling besar menimpa para
nabi, kemudian yang hampir dengan Allah, kemudian dengan kadar
menurun mengikut kadar seseorang itu mahu menghampiri Allah. Jadi,
adalah sesuai bagi sufi memakai pakaian hitam dan mengikat serban hitam
di kepalanya, kerana ia adalah pakaian orang yang bersedia menempuh
kesusahan dan kesakitan di dalam perjalanan ini.
Di dalam kenyataan, hitam adalah pakaian paling sesuai bagi mereka yang
berkabung kerana kehilangan kemanusiaan dan kewujudan diri mereka.
Ramai manusia yang kehilangan anugerah yang berharga kerana kecuaian,
sesuai hanya untuk kemanusiaan, bagi mereka yang sedar, bagi yang boleh
melihat kebenaran, enggan itu membunuh kehidupan abadi dengan tangan
mereka sendiri. Membuang kasih Ilahi yang kerinduan di dalam hati
mereka, memisahkan diri mereka enggan roh suci, mereka hilang
kesempatan untuk kembali kepada asal mereka, kepada penyebab.
Walaupun mereka tidak mengetahuinya, merekalah yang menderita bala
yang paling besar. Jika mereka sedar yang mereka sudah kehilangan segala
nikmat akhirat, kehidupan abadi, mereka tentunya memakai pakaian
hitam, pakaian berkabung. Janda yang kematian suami berkabung selama
empat bulan sepuluh hari. Ini adalah berkabung kerana kehilangan sesuatu
di dalam dunia. Orang yang kehilangan kebaikan hidup yang abadi
seharusnya berkabung secara abadi juga.
Nabi s.a.w bersabda, “Mereka yang ikhlas sentiasa berada di tepi bahaya
besar” . Betapa tepat gambaran ini mengenai orang yang terpaksa berjalan
berjingkit-jingkit dengan penuh kewaspadaan! Tetapi inilah suasana sufi
yang meninggalkan kewujudan dirinya dan berada di dalam alam fana.
Kefakirannya terhadap dunia ini yang ditinggalkannya dan hajatnya yang
penuh kepada Allah sangat besar, dan dia melepasi kemanusiaan sebagai
keindahan yang bersangatan.
Mereka yang memperolehi penyaksian kepada yang hak, setelah
menyaksikan keindahan kebenaran itu, tidak ingin melihat yang lain lagi.
Mereka tidak boleh melihat kecintaan dan kerinduan kepada apa sahaja.
Bagi mereka, Allah jualah yang menjadi yang dikasihi, hanya Dia yang
wujud. Begitulah keadaan mereka di dalam kedua-dua alam. Itulah satu-
satunya matlamat mereka. Akhirnya mereka menjadi insan, dan Allah
ciptakan insan supaya mengenali-Nya, supaya mencapai Zat-Nya.
Menjadi kewajipan bagi setiap orang untuk mencari dan mengenali atau
mengetahui tujuan dia diciptakan dan menghayati maksud tujuan tersebut,
kewajipan yang mereka tanggung di dalam dunia ini dan di akhirat,
supaya mereka tidak habiskan usia mereka di dalam kerugian, agar mereka
tidak menyesal selama-lamanya di akhirat – dibungkus, lemas di dalam
kerinduan yang akan mereka sedari akhirnya di dalam penyesalan yang
abadi.
16: PENYUCIAN DIRI
Dua jenis penyucian: Pertama zahir, ditentukan oleh peraturan agama dan
dilakukan dengan membasuh tubuh badan dengan air yang bersih.
Keduanya ialah penyucian batin, diperolehi dengan menyedari kekotoran
di dalam diri, menyedari dosanya dan bertaubat dengan ikhlas . Penyucian
batin memerlukan perjalanan kerohanian dan dibimbing oleh guru
kerohanian.
Menurut hukum dan peraturan agama, seseorang menjadi tidak suci dan
wuduk menjadi batal jika keluar sesuatu dari rongga badan. Ini perlu
diperbaharui dengan wuduk. Dalam hal keluar mani dan darah haid mandi
wajib diperlukan. Dalam hal lain, bahagian tubuh yang terdedah – tangan,
lengan, muka dan kaki – mesti dibasuh. Mengenai pembaharuan wuduk
Nabi s.a.w bersabda, “Pada setiap pembaharuan wuduk Allah perbaharui
kepercayaan hamba-Nya yang cahaya iman digilap dan memancar dengan
lebih bercahaya” . Dan, “Mengulangi bersuci dengan wuduk adalah cahaya
di atas cahaya”.
Kesucian batin juga boleh hilang, mungkin lebih kerap daripada kesucian
zahir, dengan sifat buruk, buruk perangai, perbuatan dan sifat yang
merosakkan seperti sombong, takabur, menipu, mengumpat, fitnah, dengki
dan marah. Perbuatan secara sedar dan tidak sedar memberi kesan kepada
roh: mulut yang memakan makanan haram, bibir yang berdusta, telinga
yang mendengar umpatan dan fitnah, tangan yang memukul, kaki yang
membawa kepada kejahatan. Zina, yang juga satu dosa, bukan sahaja
dilakukan di atas katil. Nabi s.a.w bersabda, “Mata juga berzina”.
Bila kesucian batin ditanamkan demikian dan wuduk kerohanian batal,
membaharui wuduk demikian adalah dengan taubat yang ikhlas, yang
dilakukan dengan menyedari kesalahan sendiri, dengan penyesalan yang
mendalam disertai oleh tangisan (yang menjadi air yang membasuh
kekotoran jiwa), dengan berazam tidak akan mengulangi kesalahan
tersebut, berhasrat meninggalkan semua kesalahan, dengan memohon
keampunan Allah, dan dengan berdoa agar Dia mencegahnya daripada
melakukan dosa lagi.
Sembahyang adalah menghadap Tuhan. Berwuduk, berada di dalam
keadaan suci, menjadi syarat untuk bersembahyang. Orang arif tahu
penyucian zahir sahaja tidak memadai, kerana Allah melihat jauh ke dalam
lubuk hati, yang perlu diberi wuduk dengan cara bertaubat. Firman Allah:
“Inilah apa yang dijanjikan untuk kamu, untuk tiap-tiap orang yang
bertaubat, yang menjaga (batas-batas)”. (Surah Qaaf, ayat 32).
Penyucian tubuh dan wuduk zahir terikat dengan masa kerana tidur
membatalkan wuduk. Penyucian ini terikat dengan siang dan malam bagi
kehidupan di dalam dunia. Penyucian alam batin, wuduk bagi diri yang
tidak kelihatan, tidak ditentukan oleh masa. Ia untuk seluruh kehidupan –
bukan sahaja kehidupan sementara di dunia tetapi juga kehidupan abadi di
akhirat.
17: MAKSUD IBADAT SECARA AMALAN ZAHIR DAN IBADAT BATIN
Lima kali sehari semalam, pada masa yang telah ditentukan, sembahyang
diwajibkan kepada sekalian Muslim yang baligh dan berkuasa. Ini
diperintahkan oleh Allah: “Kerjakan sembahyang dengan tetap dan akan
sembahyang yang terlebih penting “. (Surah al-Baqaraah, ayat 238).
Sembahyang menurut peraturan agama (rukun sembahyang) terdiri
daripada berdiri, membaca Quran, rukuk, sujud, duduk, membaca dengan
kedengaran beberapa doa. Pergerakan dan perbuatan ini melibatkan
bahagian-bahagian tubuh, pembacaan diucap dan didengar melibatkan
pancaindera dan deria, adalah sembahyang diri zahir. Kerana tindakan
diri zahir ini dilakukan berulang-ulang, acapkali, di dalam setiap lima
waktu sehari, bahagian pertama menurut perintah Allah “Dirikan
sembahyang” , adalah lebih dari satu.
Bahagian kedua perintah Allah “terutamanya sembahyang pertengahan”
merujuk kepada sembahyang hati, kerana hati berada di tengah-tengah
pada kejadian manusia. Tujuan sembahyang ini adalah mendapatkan
kesejahteraan pada hati. Hati berada di tengah-tengah, antara kanan
dengan kiri, antara hadapan dengan belakang, antara atas dengan bawah,
antara kebaikan dnegan keburukan.
Hati adalah pusat, titik pengimbang, penengah. Nabi s.a.w bersabda, “Hati
anak Adam berada di antara dua jari Yang Maha Penyayang. Dia balikkan
ke arah mana yang Dia kehendaki” . Dua jari Allah adalah sifat kekerasan-
Nya yang berkuasa menghukum dan sifat keindahan-Nya dan pengasih-Nya
yang memberi rahmat dan nikmat.
Sembahyang sebenar adalah sembahyang hati. Jika hati lalai daripada
sembahyang, sembahyang zahir tidak akan teratur. Bila ini terjadi
kesejahteraan dan kedamaian diri zahir yang diharapkan diperolehi
daripada sembahyang zahir itu tidak diperolehi. Sebab itu Nabi s.a.w
bersabda, “Amalan sembahyang mungkin dengan hati yang diam”.
Sembahyang adalah penyerahan yang dicipta kepada Pencipta. Ia adalah
pertemuan di antara hamba dengan Tuannya. Tempat pertemuan itu ialah
hati. Jika hati tertutup, lalai dan mati, begitu juga maksud sembahyang itu,
tidak ada kebaikan yang sampai kepada diri zahir daripada sembahyang
yang demikian, kerana hati adalah intipati atau hakikat atau zat bagi jasad,
semua yang lain bergantung kepadanya. Nabi s.a.w bersabda, ” Ada
sekeping daging di dalam tubuh manusia, jika ia baik maka baiklah semua
anggota tetapi jika ia jahat maka jahat pula anggota. Ketahuilah, itulah
hati”.
Sembahyang yang diperintahkan oleh agama (syariat) dilakukan pada
waktu tertentu, lima kali sehari semalam. Sebaiknya dilakukan di dalam
masjid secara berhemah, menghadap ka’abah, mengikut imam yang tidak
munafik dan tidak ria’.
Masa untuk bersembahyang batin tidak mengira masa dan tidak
berkesudahan, bagi kehidupan ini dan juga akhirat. Masjid bagi
sembahyang ini ialah hati. Jemaahnya ialah bakat-bakat kerohanian, yang
mengingat dan mengucapkan nama-nama Allah Yang Esa di dalam bahasa
alam batin. Imam sembahyang ini ialah kehendak yang tidak dapat disekat,
arah kiblatnya ialah keesaan Allah, yang di mana-mana, dan keabadian-
Nya dan keindahan-Nya. Hati yang sejati adalah yang boleh melakukan
sembahyang yang demikian. Hati yang seperti ini tidak tidur dan tidak
mati. Hati dan roh yang demikian berada di dalam sembahyang yang
berterusan, dan manusia yang memiliki hati yang demikian, samada dia
dalam jaga atau tidur, sentiasa berbuat kebaktian. Sembahyang batin yang
dilakukan oleh hati adalah keseluruhan kehidupannya. Tiada lagi bunyi
bacaan, berdiri, rukuk, sujud atau duduk. Pembimbingnya, imam
sembahyang itu adalah Rasulullah s.a.w sendiri.
Baginda berkata-kata dengan Allah Yang Maha Tinggi, “Engkau yang kami
sembah dan Engkau jualah yang kami minta pertolongan”. (Surah Fatihaah,
ayat 4) . Ayat suci ini ditafsirkan sebagai tanda manusia sempurna, yang
melewati atau melepasi dari menjadi kosong, hilang kepada segala
kebendaan, kepada suasana keesaan. Hati yang sempurna demikian
menerima rahmat yang besar daripada Ilahi. Satu daripada rahmat itu
dinyatakan oleh Nabi s.a.w, ” Nabi-nabi dan yang dikasihi Allah
meneruskan ibadat mereka di dalam kubur seperti yang mereka lakukan di
dalam rumah mereka ketika mereka hidup di dalam dunia”. Dalam lain
perkataan kehidupan abadi hati meneruskan penyerahan kepada Allah
Yang Maha Tinggi.
Bila sembahyang tubuh badan dan sembahyang diri batin berpadu,
sembahyang itu lengkap, sempurna. Ganjarannya besar. Ia membawa
seseorang secara kerohanian kepada kehampiran dengan Allah, dan secara
zahir kepada peringkat yang paling tinggi mampu dicapai. Dalam alam
kenyataan mereka menjadi hamba Allah yang taat. Suasana dalaman pula
mereka adalah orang arif yang memperolehi makrifat sebenar tentang
Allah. Jika sembahyang zahir tidak bersatu dengan sembahyang batin, ia
adalah kekurangan. Ganjarannya hanyalah pada pangkat atau kedudukan,
tidak membawa seseorang hampir dengan Allah.
18: PENYUCIAN INSAN SEMPURNA, YANG TELAH MENGASINGKAN DIRINYA
DAN
MEMBEBASKAN DIRINYA DARIPADA SEGALA URUSAN DUNIA.
Tujuan penyucian itu ada dua jenis: Pertama untuk membolehkannya
masuk kepada alam sifat-sifat Ilahi dan kedua untuk mencapai makam Zat.
Penyucian untuk memasuki alam sifat-sifat Ilahi memerlukan pelajaran
yang membimbing seseorang di dalam proses penyucian cermin hati
daripada gambaran haiwan manusia dengan cara rayuan, ucapan atau
memikirkan dan mendoakan pada nama-nama Ilahi. Ucapan itu menjadi
kunci, perkataan rahsia yang membuka hati. Hanya bila mata itu terbuka
baharulah boleh dia melihat sifat-sifat Allah yang sebenar.
Kemudian mata itu melihat gambaran kemurahan Allah, nikmat, rahmat
dan kebaikan-Nya di atas cermin hati yang murni itu. Nabi s.a.w bersabda,
“Mukmin adalah cermin bagi samanya mukmin” . Juga sabda baginda,
“Orang berilmu membuat gambaran sementara orang arif menggilap” .
Juga sabda baginda, “Orang berilmu membuat gambaran sementara orang
arif menggilap cermin hati yang menangkap kebenaran.” Bila cermin hati
sudah dicuci sepenuhnya dengan digilap terus menerus secara menzikirkan
nama-nama Allah, seseorang itu mendapat jalan kepada pengetahuan dan
sifat Ilahi. Penyaksian terhadap pemandangan ini hanya mungkin berlaku
di dalam hati.
Penyucian yang bertujuan mencapai Zat Ilahi adalah melalui terus menerus
mentafakurkan kalimah tauhid. Ada tiga nama keesaan, tiga yang akhir
daripada dua belas nama-nama Ilahi. Nama-nama tersebut ialah:
LA ILAHA ILLA LLAH : Tiada yang ada kecuali Allah
ALLAH : Nama khusus bagi Tuhan
HU : Allah yang bersifat melampaui sesuatu
HAQ : Yang sebenarnya (Hakikat)
HAYYUN : Hidup Ilahi yang kekal abadi
QAYYUM : Berdiri dengan sendiri yang segala kewujudan bergantung
kepada-Nya
QAHHAR : Yang Maha Memaksa, meliputi segala sesuatu
WAHHAB : Pemberi tanpa batas
WAHID : Yang Esa
AHAD : Esa
SAMAD : Sumber kepada segala sesuatu
Nama-nama ini mestilah diseru bukan dengan lidah biasa tetapi dengan
lidah rahsia bagi hati. Hanya dengan itu mata hati melihat cahaya keesaan.
Bila cahaya suci Zat menjadi nyata semua nilai-nilai kebendaan lenyap,
semua menjadi tiada apa-apa. Ini adalah suasana menghabiskan
sepenuhnya segala perkara, kekosongan yang melampaui semua
kekosongan. Kenyataan cahaya Ilahi memadamkan semua cahaya: “Tiap-
tiap sesuatu akan binasa kecuali Zat-Nya”. (Surah Qasas, ayat 88). “Allah
hapuskan apa yang Dia kehendaki dan Dia tetapkan apa yang Dia
kehendaki, kerana pada sisi-Nya ibu kitab”. (Surah ar-Ra’d, ayat 39).
Bila semuanya lenyap apa yang tinggal selamanya adalah roh suci. Ia
melihat dengan cahaya Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Di sana tiada
gambaran, tiada persamaan di dalam melihat-Nya: “Tiada sesuatu yang
serupa dengan-Nya. Dia mendengar dan melihat”. (Surah asy-Syura, ayat
11).
Apa yang ada hanyalah cahaya murni yang mutlak. Tidak ada apa untuk
diketahui lebih dari itu. Itu adalah alam fana diri. Tiada lagi fikiran untuk
memberi khabar berita. Tiada lagi sesiapa melainkan Allah yang memberi
khabar berita. Nabi s.a.w bersabda, “ Ada ketika aku sangat hampir
dengan Allah, tiada siapa, malaikat yang hampir atau nabi yang diutus,
boleh masuk antara aku dengan-Nya” . Ini adalah suasana pemisahan di
mana seseorang itu telah membuang semua perkara kecuali Zat Allah. Itu
adalah suasana keesaan. Allah memerintahkan melalui Rasul-Nya,
“Pisahkan diri kamu dari segala perkara dan carilah keesaan”.
Pemisahan itu bergerak daripada semua yang keduniaan kepada
kekosongan dan ketiadaan. Hanya dengan itu kamu memperolehi sifat-sifat
Ilahi. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi s.a.w apabila bersabda, “Sucikan
diri kamu, benamkan diri kamu dalam sifat-sifat yang suci (sifat Ilahi)”.
19: ZAKAT
Ada dua jenis zakat: zakat yang diajarkan oleh syariat dan zakat
kerohanian yang berlainan sifatnya . Zakat yang diajarkan oleh syariat
ialah mengeluarkan daripada barang-barang dalam dunia ini. Setelah
ditolak jumlah tertentu yang diperuntukkan sebagai kegunaan keluarga,
satu bahagian dibahagikan kepada orang miskin . Zakat rohani
Bagaimanapun diambil daripada perolehan barangan akhirat. Ia juga
diberikan kepada orang miskin, iaitu miskin kerohanian.
Zakat adalah memberi bantuan kepada orang miskin. Allah perintahkan:
“Sedekah-sedekah itu untuk faqir-faqir dan miskin”. (Surah at-Taubah, ayat
60).
Apa juga yang diberi untuk tujuan ini sampai kepada tangan Allah Yang
Maha Tinggi sebelum dihantar kepada yang memerlukannya. Jadi, tujuan
zakat dan sedekah ini bukanlah terutamanya untuk membantu yang
memerlukan, kerana Allah adalah Pemberi kepada semua yang
memerlukan, tetapi supaya niat baik pemberi zakat dan sedekah itu
diterima oleh Allah.
Mereka yang hampir dengan Allah menjadikan ganjaran rohani daripada
perbuatan baiknya sebagai kebaktian kepada orang yang berdosa. Allah
Yang Maha Tinggi menyatakan keampunan-Nya mengampunkan orang-
orang yang berdosa mengikut kadar doa, permohonan, pujian, puasa,
sedekah, hajji dan lain-lain kebaikan para hamba-Nya yang berhasrat
mengorbankan ganjaran kerohanian yang mereka harapkan sebagai hasil
daripada ibadat dan ketaatan mereka, Allah dengan kemurahan-Nya
menutup dan menyembunyikan dosa para pendosa sebagai balasan
terhadap kebaktian para hamba-Nya yang baik-baik.
Kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman hingga kepada peringkat
mereka tidak memiliki apa-apa lagi, tidak menyimpan sesuatu apa pun
untuk diri mereka, hinggakan tidak ada nama baik dari kebaikan mereka
juga tidak ada harapan untuk balasan akhirat. Orang yang memasuki jalan
ini kehilangan segala-galanya termasuklah kewujudan dirinya sendiri. Dia
menjadi muflis sepenuhnya kerana dia benar-benar murah hati. Allah
mengasihi orang yang murah hati sampai kepada peringkat muflis
seluruhnya pada dunia ini. Nabi s.a.w bersabda, “Orang yang
membelanjakan semua yang dimilikinya dan tidak berharap untuk
memiliki apa-apa berada di dalam penjagaan Allah di dunia dan akhirat”.
Rabiatul Adawiyah berdoa, “Wahai Tuhan. Berikan semua bahagianku
daripada dunia ini kepada orang-orang kafir dan jika ada bahagianku di
akhirat bahagikannya kepada hamba-hamba-Mu yang beriman. Apa yang
aku inginkan dalam dunia ini ialah merindui-Mu dan yang aku inginkan di
akhirat ialah bersama-Mu, kerana manusia dan apa sahaja yang
diperolehinya adalah milik-Mu”.
Allah membalas sehingga sepuluh kali ganda kepada orang yang
bersedekah. “Barangsiapa kerjakan kebaikan maka baginya (ganjaran)
sepuluh kali ganda”. (Surah al-An’aam, ayat 160).
Faedah lain daripada sedekah ialah kesan penyuciannya. Ia menyucikan
harta dan diri seseorang. Jika diri dibersihkan daripada sifat-sifat ego
maka tujuan sedekah atau zakat batin (kerohanian) tercapai.
Memisahkan seseorang dengan apa yang dia anggap sebagai miliknya
mendatangkan balasan yang berganda di akhirat: “Siapakah yang hendak
meminjamkan kepada Allah satu pinjaman yang baik lalu Dia gandakan
(ganjaran) baginya, padahal (adalah) baginya ganjaran yang mulia?” (Surah
al-Hadiid, ayat 11).
“Berbahagialah orang yang membersihkannya (jiwanya)”. (Surah asy-
Syams, ayat 9).
Zakat, ‘sedekah yang indah’ adalah perbuatan yang baik, sebahagian
daripada yang kamu terima, kebendaan dan kerohanian. Belanjakanlah
kerana Allah, kepada Allah. Walaupun balasan berganda dijanjikan jangan
pula melakukannya kerana balasan tersebut. Berikan zakat dan sedekah
secara mengambil berat, dengan kasih sayang dan kasihan belas bukan
sebagai budi, mengharapkan pujian, membuat penerima merasa terhutang
budi dan terikat.
“Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu batalkan (pahala)
sedekah kamu dengan bangkitan dan gangguan”. (Surah al-Baqarah, ayat
264).
Jangan meminta dan mengharapkan faedah keduniaan bagi perbuatan baik
kamu. Lakukannya kerana Allah semata-mata. Firman Allah: “Kamu tidak
akan dapat (balasan) kebaikan kecuali kamu mendermakan sebahagian
daripada apa yang kamu sayangi, dan sesuatu apa yang kamu dermakan
itu Allah mengetahui akan dia”. (Surah al-‘Imraan, ayat 92).
20: PUASA SYARIAT DAN PUASA KEROHANIAN
Puasa syariat adalah menahan diri daripada makan, minum dan
bersetubuh daripada terbit fajar hinggalah terbenam matahari . Puasa
kerohanian selain yang demikian ditambah lagi memelihara pancaindera
dan fikiran daripada perkara-perkara yang keji. Ia adalah melepaskan
segala yang tidak sesuai, zahir dan batin. Rosak sedikit sahaja niat
mengenainya rosaklah puasa rohani. Puasa syariat terikat dengan masa
sementara puasa rohani pula berkekalan di dalam kehidupan sementara ini
dan kehidupan abadi di akhirat. Inilah puasa yang sebenar.
Nabi s.a.w bersabda, “Ramai orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa
daripada puasanya kecuali lapar dan dahaga”. Puasa syariat ada waktu
berbuka tetapi puasa rohani berjalan terus walaupun matahari sudah
terbenam, walaupun mulut sudah merasakan makanan. Mereka adalah
yang menjaga pancaindera dan pemikiran bebas daripada kejahatan dan
yang menyakitkan orang lain. Untuk itu Allah telah berjanji, “Puasa adalah
amalan untuk-Ku dan Aku yang membalasnya” .
Mengenai dua jenis puasa itu Nabi s.a.w bersabda, “Orang yang berpuasa
mendapat dua kesukaan. Pertama bila dia berbuka dan kedua bila dia
melihat” . Orang yang mengenali zahir agama mengatakan kesukaan yang
pertama itu ialah kesukaan ketika berbuka puasa dan ‘kesukaan apabila
mereka melihat’ itu ialah melihat anak bulan Syawal menandakan hari
raya. Orang yang mengetahui makna batin bagi puasa mengatakan
kesukaan berbuka puasa ialah apabila seseorang yang beriman itu masuk
syurga dan menikmati balasan di dalamnya, dan kesukaan yang lebih lagi
ialah ‘apabila melihat’, yang bermaksud apabila orang yang beriman
melihat Allah dengan mata rahsia bagi hati.
Lebih berharga daripada dua jenis puasa itu ialah puasa yang sebenarnya
( puasa hakikat ), iaitu mengelakkan hati daripada menyembah sesuatu
yang lain dari Zat Allah . Ia dilakukan dengan mata hati buta terhadap
semua kewujudan, walaupun di dalam alam rahsia di luar daripada alam
dunia ini, melainkan kecintaan kepada Allah, kerana walaupun Allah
menjadikan segala-galanya untuk manusia, Dia jadikan manusia untuk-Nya,
dan Dia berfirman: “Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya” . Rahasia
itu ialah cahaya daripada cahaya Allah Yang Maha Suci. Ia adalah pusat
atau jantung hati, dijadikan daripada sejenis jisim yang amat seni. Ia
adalah roh yang mengetahui segala rahsia-rahsia yang hak. Ia adalah
hubungan rahsia di antara yang dicipta dengan Pencipta. Rahsia itu tidak
cenderung dan tidak mencintai sesuatu yang lain daripada Allah.
Tidak ada yang berharga untuk diingini, tiada yang dikasihi di dalam dunia
ini dan di akhirat, melainkan Allah. Jika satu zarah sahaja daripada
sesuatu memasuki hati selain kecintaan kepada Allah, maka batallah puasa
hakikat. Seseorang perlu memperbaharuinya, menghadapkan segala
kehendak dan niat kembali kepada kecintaan-Nya, di sini dan di akhirat.
Firman Allah, “Puasa adalah untuk-Ku dan hanya Aku yang membalasnya”.
21: HAJI KE MEKAH DAN HAJJI ROHANI KE HAKIKAT HATI
Pekerjaan hajji menurut syariat ialah mengunjungi ka’abah di Makkah .
Ada beberapa syarat berhubung dengan ibadat hajji: memakai ihram – dua
helai kain yang tidak berjahit menandakan pelepasan semua ikatan
duniawi; memasuki Makkah dalam keadaan berwuduk; tawaf keliling
ka’abah sebanyak tujuh kali tanda penyerahan sepenuhnya; lari-lari anak
dari Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali; pergi ke Padang Arafah dan
tinggal di sana sehingga matahari terbenam; bermalam di Musdalifah;
melakukan korban di Mina; meminum air zamzam; melakukan sembahyang
dua rakaat berhampiran dengan tempat Nabi Ibrahim a.s pernah berdiri.
Bila semua ini dilakukan pekerjaan hajji pun sempurna dan balasannya
diperakui. Jika terdapat kecacatan pada pekerjaan tersebut balasannya
dibatalkan. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sempurnakan hajji dan
umrah kerana Allah”. (Surah al-Baqarah, ayat 196).
Bila semua itu telah selesai banyak daripada hubungan keduniaan yang
ditegah semasa pekerjaan hajji dibolehkan semula. Sebagai tanda
selesainya pekerjaan hajji seseorang itu melakukan tawaf terakhir sekali
sebelum kembali kepada kehidupan harian.
Ganjaran untuk orang yang mengerjakan hajji dinyatakan oleh Allah
dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa masuk ke dalamnya amanlah ia,
dan kerana Allah (wajib) atas manusia pergi ke rumah itu bagi yang
berkuasa ke sana ”. (Surah al-‘Imraan, ayat 97).
Orang yang sempurna ibadat hajjinya selamat daripada azab neraka.
Itulah balasannya.
ekerjaan hajji kerohanian memerlukan persiapan yang besar dan
mengumpulkan keperluan-keperluan sebelum memulakan perjalanan.
Langkah pertama ialah mencari juru pandu, pembimbing, guru, seorang
yang dikasihi, dihormati, diharapkan dan ditaati oleh orang yang mahu
menjadi murid itu. Pembimbing itulah yang akan membekalkan murid itu
bagi mengerjakan hajji kerohanian, dengan segala keperluannya.
Kemudian dia mesti menyediakan hatinya. Untuk menjadikannya jaga
seseorang itu perlu mengucapkan kalimah tauhid “La ilaha illa Llah” dan
mengingati Allah dengan menghayati kalimah tersebut. Dengan ini hati
menjadi jaga, menjadi hidup. Ia hendaklah mengingati Allah dan
berterusan mengingati Allah sehingga seluruh diri batin menjadi suci
bersih daripada selain Allah.
Selepas penyucian batin seseorang perlu menyebutkan nama-nama bagi
sifat-sifat Allah yang akan menyalakan cahaya keindahan dan kemuliaan-
Nya. Di dalam cahaya itulah seseorang itu diharapkan dapat melihat
ka’abah bagi hakikat rahsia. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s dan
anaknya Nabi Ismail a.s melakukan penyucian ini: “Janganlah engkau
sekutukan Aku dengan sesuatu apa pun dan bersihkan rumah-Ku untuk
orang-orang tawaf, dan yang berdiri, dan yang rukuk, dan yang sujud”.
(Surah al-Hajj, ayat 26).
Sesungguhnya ka’abah zahir yang ada di Makkah dijaga dengan bersih
untuk para pekerja hajji. Betapa lebih lagi kesucian yang perlu dijaga
terhadap ka’abah batin yang ke atasnya hakikat akan memancar.
Selepas persediaan itu pekerja hajji batin menyelimutkan dirinya dengan
roh suci, mengubah bentuk kebendaannya menjadi hakikat batin, dan
melakukan tawaf ka’abah hati, mengucap di dalam hati nama Tuhan yang
kedua- “ALLAH”, nama yang khusus bagi-Nya. Ia bergerak dalam bulatan
kerana laluan rohani bukan lurus tetapi dalam bentuk bulatan. Akhirnya
adalah permulaannya.
Kemudian ia pergi ke Padang Arafah hati, tempat batin yang merendahkan
diri dan merayu kepada Tuhannya, tempat yang diharapkan seseorang
dapat mengetahui rahasia “La ilaha illa Llah”, “Yang Maha Esa, tiada
sekutu”. Di sana ia berdiri mengucapkan nama ketiga “HU” – bukan
sendirian tetapi bersama-Nya kerana Allah berfirman: “ Dia beserta kamu
walau di mana kamu berada”. (Surah al-Hadiid, ayat 4).
Kemudian dia mengucapkan nama keempat “HAQ”, nama bagi cahaya Zat
Allah – dan kemudian nama kelima “HAYYUN” – hidup Ilahi tang darinya
hidup yang sementara muncul. Kemudian dia menyatukan nama Ilahi Yang
Hidup Kekal Abadi dengan nama keenam “QAYYUM” – Yang Wujud Sendiri,
yang bergantung kepada-Nya segala kewujudan. Ini membawanya kepada
Musdalifah yang di tengah-tengah hati.
Kemudian dia di bawa ke Mina, rahasia suci, intipati atau hakikat, di mana
dia ucapkan nama yang ke tujuh “QAHHAR” – Yang Meliputi Semua, Maha
Keras . Dengan kekuasaan nama tersebut dirinya dan kepentingan dirinya
dikorbankan. Tabir keingkaran ditiupkan dan pintu kebatilan
diterbangkan.
Mengenai tabir yang memisahkan yang dicipta dengan Pencipta, Nabi
s.a.w bersabda, “Iman dan kufur wujud pada tempat di sebalik arasy
Allah. Keduanya adalah hijab memisahkan Tuhan daripada pemandangan
hamba-hamba-Nya. Satu adalah hitam dan satu lagi putih”.
Kemudian kepada roh suci dicukurkan daripada segala sifat kebendaan.
Dengan membaca nama Ilahi ke delapan “WAHHAB” – Pemberi kepada
semua, tanpa batas, tanpa syarat – dia memasuki daerah suci bagi Zat.
Kemudian dia mengucapkan nama kesembilan “FATTAH” – Pembuka segala
yang tertutup.
Memasuki ke tempat menyerah diri di mana dia tinggal mengasingkan diri,
hampir dengan Allah, dalam keakraban dengan-Nya dan jauh daripada
segala yang lain, dia mengucapkan nama yang ke sepuluh “WAHID” – Yang
Esa, yang tiada tara , tiada sesuatu menyamai-Nya. Di sana dia mula
menyaksikan sifat Allah “SAMAD” – Yang menjadi sumber kepada segala
sesuatu. Ia adalah pemandangan tanpa rupa, tanpa bentuk, tidak
menyerupai sesuatu.
Kemudian tawaf terakhir bermula, tujuh pusingan yang dalam tempoh
tersebut dia mengucapkan enam nama-nama yang terakhir dan ditambah
dengan nama ke sebelas
“AHAD” – Yang Esa. Kemudian dia minum daripada tangan keakraban
Allah.
“Dan Tuhan mereka membuat mereka meminum minuman asli”. (Surah
Insaan, ayat 21) .
Cawan yang di dalamnya minuman ini disediakan ialah nama yang kedua
belas “SAMAD” – Sumber, yang menunaikan segala hajat, satu-satunya
tempat meminta tolong.
Dengan meminum dari sumber ini dia melihat semua tabir tersingkap
daripada wajah keabadian. Dia mendongak melihat kepada-Nya dengan
cahaya yang datang daripada-Nya. Alam ini tiada persamaan, tiada bentuk,
tiada rupa. Ia tidak mampu diterangkan, diibaratkan, alam yang tidak ada
mata pernah melihatnya, tiada telinga pernah mendengarnya dan tiada
hati manusia yang ingat. Kalam Allah tidak didengar dengan bunyi atau
dilihat dengan tulisan. Kesukaan yang tiada hati manusia boleh merasai
ialah kelazatan menyaksikan hakikat Allah dan mendengar percakapan-
Nya: “Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal
salih, maka mereka itu Allah akan tukarkan kejahatan-kejahatan mereka
kepada kebaikan-kebaikan” . (Surah al-Furqaan, ayat 70).
Kemudian pekerja hajji itu dibebaskan daripada semua perbuatan yang
daripada dirinya dan bebas daripada ketakutan dan dukacita. “Ketahuilah
sesungguhnya pembantu-pembantu Allah, tidak ada ketakutan atas mereka
dan tidak akan mereka berdukacita”. (Surah Yunus, ayat 62).
Akhirnya tawaf selamat tinggal dilakukan dengan mengucapkan semua
nama-nama Ilahi.
Kemudian pekerja hajji kembali ke rumahnya, ke tempat asalnya, bumi suci
di mana Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dan paling
indah. Ketika kembalinya itu dia mengucapkan nama kedua belas
“SAMAD”, perbendaharaan yang daripadanya semua keperluan makhluk
dibekalkan. Itu adalah alam kehampiran Allah. Itulah tempat kediaman
pekerja hajji batin, dan ke sanalah mereka kembali.
Hanya itulah yang dapat diceritakan sekadar lidah mampu ucapkan dan
akal mampu terima. Selepas itu tiada berita yang boleh diberi kerana
selebih daripada itu tidak boleh disaksikan, tidak dimengerti, tidak mampu
difikir atau diterangkan. Nabi s.a.w bersabda, “ Ada ilmu yang tinggal
tetap seumpama khazanah yang tertanam. Tiada siapa yang boleh
mengetahuinya dan tiada siapa boleh mendapatkannya melainkan mereka
yang menerima ilmu Ilahi”, tetapi bila diperdengarkan kewujudan ilmu
demikian, yang ikhlas tidak menafikannya.
Manusia yang memiliki pengetahuan biasa mengumpulkan apa yang boleh
dikumpulkan di permukaan. Orang yang memiliki ilmu ketuhanan
mengeluarkan dasarnya. Hikmah kebijaksanaan orang arif adalah sebenar-
benar rahsia bagi Allah Yang Maha Tinggi. Tiada siapa yang tahu apa yang
Dia tahu kecuali Dia sendiri. “Sedang mereka tidak meliputi (sedikit pun)
daripada ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan-Nya
meliputi langit-langit dan bumi, dan memelihara keduanya tidaklah berat
bagi-Nya” . (Surah al-Baqarah, ayat 255).
Mereka yang dirahmati, yang dikurniakan sebahagian ilmu-Nya adalah
nabi-nabi dan kekasih-Nya yang berjuang untuk datang hampir kepada-
Nya. Firman-Nya: “Dia mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”.
(Surah Ta Ha, ayat 7). “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kepunyaan-
Nya nama-nama yang sangat baik”. (Surah Ta Ha, ayat 8).
Dan Allah paling mengetahui.

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR ( SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RA ) BAG-2

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM….

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAGIAN-2 terdiri dari bab 8-14, dan bagi anda yang belum membaca 7 bab sebelumnya, silahkan anda baca TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAGIAN-1

8: TAUBAT DAN PENGAJARAN MELALUI PERKATAAN
Tahap-tahap dan peringkat-peringkat perubahan kerohanian telah pun
disebut. Perlu ditegaskan bahawa setiap peringkat dicapai terutamanya
dengan taubat. Bolehlah dipelajari cara bertaubat dengan orang yang
mengetahui cara berbuat demikian dan yang telah sendirinya bertaubat.
Taubat yang sebenar dan menyeluruh merupakan langkah pertama di
dalam perjalanan. “(Ingatlah) tatkala orang-orang kafir itu adakan dalam
hati mereka kesombongan (iaitu) kesombongan jahiliah. Lalu Allah
turunkan ketenteraman atas rasul-Nya dan atas mukmin. Dan Dia wajibkan
mereka (ucapkan) perkataan menjaga keselamatan (taubat) kerana mereka
lebih berhak dengan itu, dan memang (mereka) ahlinya, dan adalah Allah
mengetahui tiap sesuatu”. (Surah Fath, ayat 26).
Keadaan takutkan Allah mempunyai maksud yang sama dengan kalimah “
La ilaha illa Llah” – tiada Tuhan, tiada apa-apa, kecuali Allah. Bagi orang
yang mengetahui ini akan ada perasaan takut kehilangan-Nya, kehilangan
perhatian-Nya, cinta-Nya, keampunan-Nya; dia takut dan malu melakukan
kesalahan sedangkan Dia melihat, dan takutkan azab-Nya. Jika seseorang
itu tidak berkeadaan demikian dia perlu mendapatkaan orang yang
takutkan Allah dan menerima keadaan takutkan Allah itu daripada orang
berkenaan.
Sumber dari mana perkataan itu diterima mestilah bersih dan suci
daripada segala-galanya kecuali Allah, dan sesiapa yang menerimanya
mestilah ada kebolehan untuk membezakan antara perkataan orang yang
suci hatinya dengan perkataan orang awam. Penerimanya mestilah sedar
cara perkataan itu diucapkan, kerana perkataan yang bunyinya sama
mungkin mempunyai maksud yang jauh berbeza. Tidak mungkin perkataan
yang datangnya daripada sumber yang asli sama dengan perkataan yang
datangnya daripada sumber lain.
Hatinya menjadi hidup bila dia menerima benih tauhid daripada hati yang
hidup kerana benih yang demikian sangat subur, itulah benih kehidupan.
Tidak ada yang tumbuh daripada benih yang kering lagi tiada kehidupan.
Kalimah suci “La ilaha illa Llah” disebut dua kali di dalam Quran menjadi
bukti. “(Kerana) apabila dikata kepada mereka “Tiada Tuhan melainkan
Allah” mereka menyombong. Dan mereka berkata, ‘Apakah kami mesti
tinggalkan tuhan-tuhan kami buat (mengikut) seorang ahli syair dan
gila?” (Surah Shaaffaat. Ayat 35 & 36).
Ini adalah keadaan orang awam yang baginya rupa luar termasuk
kewujudan zahirnya adalah tuhan-tuhan. “Oleh itu Ketahuilah bahawa
tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan mintalah perlindungan bagi buah
amal kamu, dan bagi mukmin dan mukminat, dan Allah mengetahui tempat
usaha kamu (di siang hari) dan tempat kembali kamu (pada malam hari)”.
(Surah Muhammad, ayat 19).
Firman Allah ini menjadi panduan kepada orang-orang beriman yang tulen
yang takutkan Allah.
Saidina Ali r.a meminta Rasulullah s.a.w mengajarkan kepadanya cara
yang mudah, paling bernilai, paling cepat kepada keselamatan. Baginda
s.a.w menanti Jibrail memberikan jawapannya daripada sumber Ilahi.
Jibrail datang dan mengajarkan baginda s.a.w mengucapkan “La ilaha”
sambil memusingkan mukanya yang diberkati ke kanan, dan mengucapkan
“illa Llah” sambil memusingkan mukanya ke kiri, ke arah hati sucinya yang
diberkati. Jibrail mengulanginya tiga kali; Nabi s.a.w mengulanginya tiga
kali dan mengajarkan yang demikian kepada Saidina Ali r.a dengan
mengulanginya tiga kali juga. Kemudian baginda s.a.w mengajarkan yang
demikian kepada sahabat-sahabat baginda. Saidina Ali r.a merupakan
orang yang pertama bertanya dan menjadi orang yang pertama diajarkan.
Kemudian satu hari selepas kembali daripada peperangan, Nabi s.a.w
berkata kepada pengikut-pengikut baginda, “Kita baharu kembali daripada
peperangan yang kecil untuk menghadapi peperangan yang besar” .
Baginda s.a.w merujukkan kepada perjuangan dengan ego diri sendiri,
keinginan yang rendah yang menjadi musuh kepada penyaksian kalimah
tauhid. Baginda s.a.w bersabda, “Musuh kamu yang paling besar ada di
bawah rusuk kamu ”.
Cinta Ilahi tidak akan hidup sehinggalah musuhnya, hawa nafsu badaniah
kamu, mati dan meninggalkan kamu.
Mula-mulanya kamu mesti bebas daripada ego kamu yang mengheret kamu
kepada kejahatan. Kemudian kamu akan mula memiliki suara hati yang
belum penuh, walaupun kamu masih belum bebas sepenuhnya daripada
dosa. Kamu akan memiliki perasaan mengkritik diri sendiri – tetapi ia
belum mencukupi. Kamu mesti melepasi tahap tersebut kepada peringkat di
mana hakikat yang sebenarnya dibukakan kepada kamu, kebenaran
tentang benar dan salah. Kemudian kamu akan berhenti melakukan
kesalahan dan akan hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian diri
kamu akan menjadi bersih.
Di dalam menentang hawa nafsu dan tarikan badan kamu, kamu mestilah
melawan nafsu kehaiwanan – kerakusan, terlalu banyak tidur, pekerjaan
yang sia-sia – dan menentang sifat-sifat haiwan liar di dalam diri kamu –
kekejian, marah, kasar dan berkelahi. Kemudian kamu mesti usahakan
membuang perangai-perangai ego yang jahat, takabur, sombong, dengki,
dendam, tamak dan lain-lain penyakit tubuh dan hati kamu. Cuma orang
yang berbuat demikian yang benar-benar bertaubat dan menjadi bersih,
suci murni dan tulen. “Sesungguhnya Allah kasih kepada orang yang
bertaubat dan memelihara kesuciannya”. (Surah Baqarah, ayat 222).
Dalam melakukan taubat seseorang itu mestilah mengambil perhatian
supaya penyesalannya tidak samar-samar dan tidak juga secara umum agar
dia tidak jatuh ke dalam ancaman Allah: “Tidak kira berapa banyak
mereka bertaubat mereka tidak sebenarnya menyesal. Taubat mereka tidak
diterima”.
Ini ditujukan kepada mereka yang hanya mengucapkan kata-kata taubat
tetapi tidak tahu sejauh mana dosa mereka, malah tidak mengambil
tindakan pembaikan dan pencegahan. Itulah taubat yang biasa, taubat
zahir yang tidak menusuk kepada punca dosa. Ia adalah umpama orang
yang cuba menghapuskan rumput dengan memotong bahagian di atas
tanah tetapi tidak mencabut akarnya yang di dalam bumi. Tindakan yang
demikian membantu rumput untuk tumbuh dengan lebih segar.
Orang yang bertaubat dengan mengetahui kesalahannya dan punca
kesalahan itu berazam tidak mengulanginya dan membebaskan dirinya
daripada kesalahan itu, mencabut akar pokok yang merosakkan itu.
Cangkul yang digunakan untuk menggali akarnya, punca kepada dosa-dosa,
ialah pengajaran kerohanian daripada guru yang benar. Tanah mestilah
dibersihkan sebelum ditanam pokok orkid.
“Dan Kami bawakan perumpamaan kepada manusia supaya mereka
memikirkannya”. (Surah Hasyr, ayat 21).
“Dia jualah Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampunkan dosa,
dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Surah Syura, ayat 25).
“Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan amal salih,
maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan
kerana adalah Allah itu Pengampun, Penyayang”. (Surah Furqaan, ayat 70).
Ketahuilah taubat yang diterima tandanya ialah seseorang itu tidak lagi
jatuh ke dalam dosa tersebut.
Ada dua jenis taubat , taubat orang dan taubat mukmin sejati . Orang awam
berharap meninggalkan kejahatan dan masuk kepada kebaikan dengan
cara mengingati Allah dan mengambil langkah usaha bersungguh-sungguh,
meninggalkan hawa nafsunya dan kesenangan badannya dan menekankan
egonya. Dia mesti meninggalkan keegoannya yang ingkar terhadap
peraturan Allah dan masuk kepada taat. Itulah taubatnya yang
menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam syurga.
Orang mukmin sejati, hamba Allah yang tulen, berada di dalam suasana
yang jauh berbeza. Mereka berada pada makam makrifat yang jauh lebih
tinggi daripada makam orang awam yang paling baik. Sebenarnya bagi
mereka tidak ada lagi anak tangga untuk dipanjat; mereka telah sampai
kepada kehampiran dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan
dan nikmat dunia ini dan menikmati kelazatan alam kerohanian – rasa
kehampiran dengan Allah, nikmat menyaksikan Zat-Nya dengan mata
keyakinan.
Perhatian orang awam tertuju kepada dunia ini dan kesenangan mereka
adalah merasai nikmat kebendaan dan kewujudan kebendaannya. Malah,
jika kewujudan kebendaan manusia dan dunia merupakan satu kesilapan
begitu jugalah nikmat dan kecacatan yang paling baik daripadanya. Kata-
kata yang diucapkan oleh orang arif, “Kewujudan dirimu merupakan dosa,
menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya” .
Orang arif selalu mengatakan bahawa kebaikan yang dilakukan oleh orang
baik-baik tidak mencapai kehampiran dengan Allah tidak lebih daripada
kesalahan orang yang hampir dengan-Nya. Jadi, bagi mengajar kita
memohon keampunan terhadap kesalahan yang tersembunyi yang kita
sangkakan kebaikan, Nabi s.a.w yang tidak pernah berdosa memohon
keampunan daripada Allah sebanyak seratus kali sehari. Allah Yang Maha
Tinggi mengajarkan kepada rasul-Nya: “Pintalah perlindungan bagi buah
amal kamu dan bagi mukmin dan mukminat”. (Surah Muhamamd, ayat 19).
Dia jadikan rasul-Nya yang suci murni sebagai teladan tentang cara
bertaubat – dengan merayu kepada Allah supaya menghilangkan ego
seseorang, sifat-sifatnya dan dirinya, semuanya pada diri seseorang,
mencabut kewujudan diri seseorang. Inilah taubat yang sebenarnya.
Taubat yang demikian meninggalkan segala-galanya kecuali Zat Allah, dan
berazam untuk kembali kepada-Nya, kembali kepada kehampiran-Nya
untuk melihat Wajah Ilahi. Nabi s.a.w menjelaskan taubat yang demikian
dengan sabda baginda s.a.w, “ Ada sebahagian hamba-hamba Allah yang
tulen yang tubuh mereka berada di sini tetapi hati mereka berada di sana ,
di bawah arasy”. Hati mereka berada pada langit kesembilan, di bawah
arasy Allah kerana penyaksian suci terhadap Zat-Nya tidak mungkin
berlaku pada alam bawah.
Di sini hanya kenyataan atau penzahiran sifat-sifat suci-Nya yang dapat
disaksikan, memancar ke atas cermin yang bersih kepunyaan hati yang
suci. Saidina Umar r.a berkata, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya
Tuhanku”. Hati yang suci adalah cermin di mana keindahan, kemuliaan
dan kesempurnaan Allah memancar. Nama lain yang diberi kepada
suasana ini ialah pembukaan (kasyaf), menyaksikan sifat-sifat Ilahi yang
suci.
Bagi memperolehi suasana tersebut, untuk membersihkan dan
menyinarkan hati, perlulah kepada guru yang matang, yang di dalam
keesaan dengan Allah, yang disanjung dan dimuliakan oleh semua, dahulu
dan sekarang. Guru berkenaan mestilah telah sampai kepada makam
kehampiran dengan Allah dan dihantar balik ke alam rendah oleh Allah
untuk membimbing dan menyempurnakan mereka yang layak tetapi masih
mempunyai kecacatan.
Di dalam penurunan mereka untuk melakukan tugas tersebut wali-wali
Allah mestilah berjalan Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w dengan
mengikuti teladan baginda s.a.w, tetapi tugas mereka berlainan dengan
tugas rasul. Rasul diutuskan untuk menyelamatkan orang ramai dan juga
orang-orang yang beriman. Guru-guru tadi pula tidak dihantar untuk
mengajar semua orang tetapi hanyalah sebilangan yang dipilih sahaja.
Rasul-rasul diberi kebebasan dalam menjalankan tugas mereka, sementara
wali-wali yang mengambil tugas sebagai guru mesti mengikuti jalan rasul-
rasul dan nabi-nabi.
Guru kerohanian yang mengaku diri mereka merdeka, menyamakan
dirinya dengan nabi, jatuh kepada kesesatan dan kekufuran. Bila Nabi
s.a.w mengatakan sahabat-sahabat baginda yang arif adalah umpama
nabi-nabi Bani Israil, baginda memaksudkan lain daripada ini – kerana
nabi-nabi yang datang selepas Musa a.s semuanya mengikuti prinsip
agama yang dibawa oleh Musa a.s. Mereka tidak membawa peraturan
baharu. Mereka mengikuti undang-undang yang sama.
Seperti mereka juga orang-orang arif dari kalangan umat Nabi Muhammad
s.a.w yang bertugas membimbing sebahagian daripada orang-orang suci
yang dipilih, mengikuti kebijaksanaan Nabi s.a.w, tetapi menyampaikan
perintah dan larangan dengan cara baharu yang berbeza, terbuka dan
jelas, menunjukkan kepada murid-murid mereka dengan perbuatan yang
mereka kerjakan pada masa dan keadaan yang berlainan. Mereka memberi
dorongan kepada murid-murid mereka dengan menunjukkan kelebihan
dan keindahan prinsip-prinsip agama. Tujuan mereka ialah membantu
pengikut-pengikut mereka menyucikan hati yang menjadi tapak untuk
membena tugu makrifat.
Dalam semua itu mereka mengikut teladan daripada pengikut-pengikut
Rasulullah s.a.w yang terkenal sebagai ‘golongan yang memakai baju bulu’
yang telah meninggalkan semua aktiviti keduniaan untuk berdiri di pintu
Rasulullah s.a.w dan berada hampir dengan baginda. Mereka
menyampaikan khabar sebagaimana mereka menerimanya secara langsung
daripada mulut Rasulullah s.a.w.
Dalam kehampiran mereka dengan Rasulullah s.a.w mereka telah sampai
kepada peringkat di mana mereka boleh bercakap tentang rahsia israk dan
mikraj Rasulullah s.a.w sebelum baginda membuka rahsia tersebut kepada
sahabat-sahabat baginda.
Wali-wali yang menjadi guru memiliki kehampiran yang serupa dengan
Nabi s.a.w dengan Tuhannya. Amanah dan penjagaan terhadap ilmu
ketuhanan yang serupa dianugerahkan kepada mereka. Mereka merupakan
Pemegang sebahagian daripada kenabian, dan diri batin mereka selamat
di bawah penjagaan Rasulullah s.a.w.
Tidak semua orang yang memiliki ilmu berada di dalam keadaan tersebut.
Mereka yang sampai ke situ adalah yang lebih hampir kepada Rasulullah
s.a.w daripada anak-anak dan keluarga mereka sendiri dan mereka adalah
umpama anak-anak kerohanian Rasulullah s.a.w yang hubungannya lebih
erat daripada hubungan darah. Mereka adalah pewaris sebenar kepada
Nabi s.a.w. Anak yang sejati memiliki zat dan rahsia bapanya pada rupa
zahirnya dan juga pada batinnya. Nabi s.a.w menjelaskan rahasia ini,
“Ilmu khusus adalah umpama khazanah rahasia yang hanya mereka yang
mengenali Zat Allah boleh mendapatkannya.
Namun bila rahasia itu dibukakan orang yang mempunyai kesedaran dan
ikhlas tidak menafikannya”.
Ilmu tersebut dimasukkan kepada Nabi s.a.w pada malam baginda s.a.w
mikraj kepada Tuhannya. Rahsia itu tersembunyi di dalam diri baginda di
sebalik tiga ribu tabir hijab. Baginda s.a.w tidak membuka rahsianya
melainkan kepada sebahagian pengikut baginda yang sangat hampir
dengan baginda. Melalui penyebaran dan keberkatan rahsia inilah Islam
akan terus memerintah sehingga ke hari kiamat.
Pengetahuan batin tentang yang tersembunyi membawa seseorang kepada
rahsia tersebut. Sains, kesenian dan kemahiran keduniaan adalah umpama
kerangka kepada pengetahuan batin. Mereka yang memiliki pengetahuan
kerangka itu bolehlah mengharapkan satu hari nanti mereka diberi
kesempatan untuk memiliki apa yang di dalam kerangka. Sebahagian
daripada mereka yang berilmu memiliki apa yang patut dimiliki oleh
seorang manusia secara umumnya sementara sebahagian yang lain
menjadi ahli dan memelihara ilmu tersebut daripada hilang.
Ada golongan yang menyeru kepada Allah dengan nasihat yang baik.
Sebahagian daripada mereka mengikuti sunnah Nabi s.a.w dan dipimpin
oleh Saidina Ali r.a. yang menjadi pintu kepada gedung ilmu yang
melaluinya masuklah mereka yang menerima undangan dari Allah.
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat dan bantahlah
mereka dengan cara yang lebih baik” . (Surah Nahl, ayat 125).
Maksud dan perkataan mereka adalah sama. Perbezaan pada zahirnya
hanyalah pada perkara-perkara terperinci dan cara pelaksanaannya.
Sebenarnya ada tiga makna yang kelihatan sebagai tiga jenis ilmu yang
berbeza – dilakukan secara berbeza, tetapi menjurus kepada yang satu
Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w. Ilmu dibahagikan kepada tiga yang
tidak ada seorang manusia boleh menanggung keseluruhan beban ilmu itu
juga tidak berupaya mengamalkan dengan sekaliannya.
Bahagian pertama ayat di atas “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan
bijaksana (hikmah)” , Sesuai dengan makrifat, zat dan permulaan kepada
segala sesuatu, pemiliknya mestilah sebagaimana Nabi s.a.w beramal
Sesuai dengannya. Ia hanya dikurniakan kepada lelaki sejati yang berani,
tentera kerohanian yang akan mempertahankan kedudukannya dan
menyelamatkan ilmu tersebut. Nabi s.a.w bersabda, “Kekuatan semangat
lelaki sejati mampu menggoncang gunung” . Gunung di sini menunjukkan
keberatan hati sesetengah manusia. Doa lelaki sejati yang menjadi tentera
kerohanian dimakbulkan. Bila mereka menciptakan sesuatu ia berlaku, bila
mereka mahukan sesuatu hilang maka ia pun hilang. “Dia kurniakan
hikmah kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Barangsiapa dikurniakan
hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebajikan yang banyak”.
(Surah Baqarah, ayat 269).
Jenis kedua ialah ilmu zahir yang disebut Quran sebagai “seruan yang
baik”. Ia menjadi kulit kepada hikmah kebijaksanaan rohani. Mereka yang
memilikinya menyeru kepada kebaikan, mengajar manusia berbuat baik
dan meninggalkan larangan-Nya. Nabi s.a.w memuji mereka. Orang yang
berilmu menyeru dengan lemah lembut dan baik hati, sementara yang jahil
menyeru dengan kasar dan kemarahan.
Jenis ketiga ialah ilmu yang menyentuh kehidupan manusia di dalam
dunia. Ia disebut sebagai ilmu agama (syariat) yang menjadi sarang kepada
hikmah kebijaksanaan (makrifat). Ia adalah ilmu yang diperuntukkan
kepada mereka yang menjadi pemerintah manusia; menjalankan keadilan
ke atas sesama manusia; pentadbiran manusia ke atas sesama manusia.
Bahagian terakhir ayat Quran yang di atas tadi menceritakan tugas mereka
“dan berbincanglah dengan mereka dengan cara yang lebih baik”. Mereka
ini menjadi kenyataan kepada sifat Allah “al-Qahhar” Yang Maha Keras.
Mereka berkewajipan menjaga peraturan di kalangan manusia selaras
dengan hukum Tuhan, seumpama sabut melindungi tempurung dan
tempurung melindungi isi.
Nabi s.a.w menasihatkan, “Biasakan dirimu berada di dalam majlis orang-
orang arif, taatlah kepada pemimpin kamu yang adil. Allah Yang Maha
Tinggi menghidupkan hati dengan hikmah seperti Dia jadikan bumi yang
mati hidup dengan tumbuh-tumbuhan dengan menurunkan hujan” .
Baginda s.a.w juga bersabda , “Hikmah adalah harta yang hilang bagi
orang yang beriman, dikutipnya di mana sahaja ditemuinya”.
Malah perkataan yang diucapkan oleh manusia biasa datangnya daripada
Loh Terpelihara menurut hukum Allah terhadap segala perkara daripada
awal hingga akhir. Loh itu disimpan pada alam tinggi pada akal asbab
tetapi perkataan diucapkan menurut makam seseorang. Perkataan mereka
yang telah mencapai makam makrifat adalah secara langsung daripada
alam tersebut, makam kehampiran dengan Allah. Di sana tidak ada
perantaraan.
Ketahuilah bahawa semua akan kembali kepada asal mereka. Hati, zat,
mesti dikejutkan; jadikan ianya hidup untuk mencari jalan kembali kepada
asalnya yang suci murni. Ia mesti mendengar seruan. Seseorang mesti
mencari orang yang orang yang daripadanya seruan itu muncul,
melaluinya zahir seruan. Itulah guru yang sebenar. Ini merupakan
kewajipan bagi kita. Nabi s.a.w bersabda, “Menuntut ilmu wajib bagi
setiap orang Islam lelaki dan perempuan”. Ilmu tersebut merupakan
peringkat terakhir semua ilmu, itulah ilmu makrifat, ilmu yang akan
membimbing seseorang kepada asalnya, yang sebenar (hakikat). Ilmu yang
lain perlu menurut sekadar mana keperluannya. Allah menyukai mereka
yang meninggalkan cita-cita dan angan-angan kepada dunia, kemuliaan
dan kebesarannya, kerana kepentingan duniawi ini menghalang seseorang
kepada Allah. “Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu upah atas
(menyampaikan)nya, kecuali percintaan (kepadaku) lantaran kerabat”.
(Surah Syura, ayat 23).
Ditafsirkan maksud perkataan “apa yang hampir dengan kamu” ialah
datang hampir dengan kebenaran.
9: KEROHANIAN ISLAM DAN AHLI SUFI
Sufi adalah perkataan Arab – saf, yang bererti tulen. Alam batin sufi
dipersucikan, menjadi tulen dan diterangi oleh cahaya makrifat, penyatuan
dan keesaan.
Istilah sufi dikaitkan juga dengan bidang kerohanian mereka yang sentiasa
berhubung dengan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w yang dikenali sebagai
‘puak yang memakai baju bulu’. Saf, pakaian bulu yang kasar
menggambarkan keadaan mereka yang miskin lagi hina. Kehidupan dunia
di dalam kesempatan. Mereka berjimat cermat di dalam makanan,
minuman dan lain-lain. Dalam buku ‘al-Majm’ ada dikatakan, “Apa yang
terjadi kepada ahli suluk yang suci ialah pakaian dan kehidupan mereka
sangat sederhana dan hina”.
Walaupun mereka kelihatan tidak menarik secara keduniaan tetapi hikmah
kebijaksanaan (makrifat) mereka ternyata pada sifat mereka yang lemah
lembut dan halus, yang menjadikan mereka menarik kepada sesiapa yang
mengenali mereka. Mereka menjadi contoh kepada alam manusia. Mereka
berpandukan ilmu Ilahi. Pada pandangan Tuhan mereka berada pada
martabat pertama kemanusiaan. Dalam pandangan mereka yang mencari
Tuhan puak sufi ini kelihatan cantik walaupun pada zahirnya buruk.
Mereka mesti dikenali dan berupaya mengenali, dan mereka dengan mesti
dengan cara itu iaitu satu dan semua, kerana mereka semua berada pada
makam keesaan dan mesti nyata sebagai satu.
Dalam bahasa Arab perkataan tasawwuf, kerohanian Islam, terdiri
daripada empat huruf – ‘ta’, ‘sin’, ‘wau’ dan ‘pa’ (t,s,w,f). Huruf pertama, t,
bermaksud taubat . Ini adalah langkah pertama perlu diambil pada jalan
ini. Ia adalah seolah-olah dua langkah, satu zahir dan satu batin . Taubat
zahir dalam perkataan, perbuatan dan perasaan, menjaga kehidupan agar
bebas daripada dosa dan kesalahan dan cenderung untuk berbuat kebaikan
dan ketaatan; meninggalkan keingkaran dan penentangan, mencari
kesejahteraan dan kedamaian . Taubat batin dilakukan oleh hati.
Penyucian hati daripada hawa nafsu duniawi yang huru hara dan hati
bulat berazam mahu mencapai alam ketuhanan. Taubat – mengawasi
kesalahan dan meninggalkannya, menyedari kebenaran dan berjuang ke
arahnya – membawa seseorang kepada langkah kedua.
Langkah kedua ialah keadaan aman dan sejahtera, safa . Huruf ‘s’ adalah
simbolnya . Dalam peringkat ini juga ada dua langkah perlu diambil.
Pertama ialah ke arah kesucian di dalam hati dan kedua pula ke arah pusat
hati. Hati yang tenang datang daripada hati yang bebas daripada
kesusahan, keresahan yang disebabkan oleh masalah semua kebendaan ini,
masalah makan, minum, tidur, perkataan yang sia-sia. Dunia ini
seumpama tenaga tarikan bumi, menarik hati ke bawah, dan untuk
membebaskan hati daripada masalah tersebut menyebabkan berlaku
tekankan kepada hati. Di sana ada pula ikatan-ikatan – hawa nafsu dan
kehendak, pemilikan, kasihkan keluarga dan anak-anak – yang mengikat
hati seni kepada bumi dan menghalangnya terbang tinggi.
Cara membebaskan hati, bagi menyucikannya, adalah dengan mengingati
Allah. Pada permulaan ingatkan ini berlaku secara luaran, dengan
mengulangi nama-nama Tuhan, menyebutnya kuat-kuat sehingga kamu dan
orang lain boleh mendengarnya. Apabila ingatkan kepada-Nya sudah
berterusan ingatkan tersebut masuk ke dalam hati dan berlaku di dalam
senyap. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang mukmin itu ialah mereka
yang apabila disebut (nama) Allah, takutlah hati-hati mereka, dan apabila
dibacakan ayat-ayat Allah menambahkan lagi keimanan mereka, dan
kepada Tuhan merekalah mereka kembali” . (Surah Anfaal, ayat 2).
Takutkan Allah dalam ayat tersebut bermaksud takut dan harap, hormat
dan kasihkan Allah. Dengan ingatan dan ucapan nama-nama Allah hati
menjadi jaga dari ketiduran dan kelalaian, menjadi suci bersih dan
bersinar. Kemudian bentuk dan rupa dari alam ghaib menyata di dalam
hati. Nabi s.a.w bersabda, “Ahli ilmu zahir mendatangi dan menerkam
sesuatu dengan akal fikirannya sementara ahli ilmu batin sibuk
membersihkan dan menggilap hati mereka”.
Kesejahteraan pada pusat rahsia bagi hati diperolehi dengan
membersihkan hati daripada segala sesuatu dan menyediakannya untuk
menerima Zat Allah semata-mata yang memenuhi ruang hati apabila hati
sudah diperindahkan dengan kecintaan Allah. Alat pembersihannya ialah
berterusan mengingati dan menyebut di dalam hati, dengan lidah rahsia
akan kalimah tauhid “La ilaha illa Llah”. Bila hati dan pusat hati berada
dalam suasana tenang dan damai maka peringkat kedua yang disimbolkan
sebagai huruf ‘s’ selesai.
Huruf ketiga ‘w’ bermaksud wilayah, suasana kesucian dan keaslian
pencinta-pencinta Allah dan sahabat-sahabat-Nya . Keadaan ini bergantung
kepada kesucian batin. Allah menggambarkan sahabat-sahabat-Nya dengan
firman-Nya: “Ketahuilah, sesungguhnya pembantu-pembantu Allah tidak
ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka berdukacita. Bagi merekalah
kegembiraan di penghidupan dunia dan akhirat…”. (Surah Yunus, ayat 62 –
64).
Seseorang yang di dalam kesucian menyedari sepenuhnya tentang Allah,
mencintai-Nya fan berhubungan dengan-Nya. Hasilnya dia diperelokkan
dengan peribadi, akhlak dan perangai yang terbaik. Ini merupakan hadiah
suci yang dikurniakan kepada mereka. Nabi s.a.w bersabda,
“Perhatikanlah akhlak yang mulia dan berbuatlah sesuai dengannya” .
Dalam peringkat ini orang yang di dalam kesedaran tersebut meninggalkan
sifat-sifat keduniaannya yang sementara dan kelihatanlah dia diliputi oleh
sifat-sifat Ilahi yang suci. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: “Bila Aku
kasihkan hamba-Ku, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya,
percakapannya, pemegangnya dan perjalanannya”.
Keluarkan segala-galanya dari hati kamu dan biarkan Allah sahaja yang
berada di sana . “Dan katakanlah telah datang kebenaran dan telah lenyap
kepalsuan kerana sesungguhnya kepalsuan itu akan lenyap”. (Surah Bani
Israil, ayat 81).
Bila kebenaran telah datang dan kepalsuan telah lenyap maka selesailah
peringkat wilayah.
Huruf keempat ‘f’ bermakna fana, lenyap diri sendiri ke dalam ketiadaan.
Diri yang palsu akan hancur dan hilang apabila sifat-sifat yang suci
memasuki seseorang, dan apabila sifat-sifat serta keperibadian yang
banyak menghalang tempatnya akan diganti oleh satu sahaja sifat keesaan.
Dalam kenyataan hakikat sentiasa hadir. Ia tidak hilang dan tidak juga
berkurangan. Apa yang berlaku adalah orang yang beriman menyedari
dan menjadi satu dengan yang menciptakannya. Dalam suasana berada
dengan-Nya orang yang beriman memperolehi kurniaan-Nya; manusia
yang sementara menemui kewujudan yang sebenar dengan menyedari
rahsia abadi. “Semua akan binasa kecuali Wajah-Nya”. (Surah Qasas, ayat
88).
Cara untuk menyedari hakikat ini ialah melalui anugerah-Nya, dengan
kehendak-Nya. Bila kamu berbuat kebaikan semata-mata kerana-Nya dan
bersesuaian dengan kehendak-Nya kamu akan menjadi hampir dengan
hakikat-Nya, Zat-Nya. Kemudian semua akan lenyap kecuali Yang Esa yang
meredai dan yang Dia diredai, bersatu. Perbuatan baik adalah ibu yang
melahirkan bayi kebenaran; kehidupan dalam kesedaran bagi manusia
yang sebenar-benarnya.
“Perkataan yang baik dan perbuatan yang baik naik kepada Allah” . (Surah
Fatir, ayat 10).
Jika seseorang berbuat sesuatu dan jika kewujudannya bukan untuk Allah
sahaja maka dia mengadakan sekutu bagi Allah, dia meletakkan yang lain
pada tempat Allah – dosa yang tidak diampunkan yang akan
memusnahkannya, lambat atau cepat. Tetapi bila diri dan kepentingan diri
fana seseorang itu mencapai peringkat bersatu dengan Allah. Allah
menggambarkan makam tersebut: “Sesungguhnya orang-orang yang
berbakti (adalah) dalam kebun-kebun dan (dekat) sungai-sungai. Di tempat
duduk kebenaran, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa”. (Surah Qamar,
ayat 54 & 55).
Tempat itu ialah tempat bagi hakikat yang penting, hakikat kepada hakikat-
hakikat, tempat penyatuan dan keesaan. Ia adalah tempat yang disediakan
untuk nabi-nabi, untuk mereka yang dikasihi oleh Allah, untuk para
sahabat-Nya. Allah beserta orang-orang yang benar. Bila kewujudan
bersatu dengan wujud yang abadi ia tidak boleh dipandang sebagai
kewujudan yang terpisah. Bila semua ikatan keduniaan ditanggalkan dan
seseorang itu dalam suasana kesatuan dengan Allah, dengan kebenaran
(hakikat) Ilahi, dia menerima kesucian yang abadi, tidak akan tercemar
lagi, dan masuk ke dalam golongan: “Mereka itu ahli syurga yang kekal di
dalamnya”. (Surah A’raaf, ayat 42).
Mereka adalah: “Orang-orang yang beriman dan beramal salih” . (Surah
A’raaf, ayat 42).
Bagaimanapun: “ Kami tidak memberatkan satu diri melainkan sekadar
kuasanya” . (Surah A’raaf, ayat 42).
Tetapi seseorang memerlukan kesabaran yang kuat: “Dan Allah beserta
orang yang sabar” . (Surah Anfaal, ayat 66).
10: ZIKIR
Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan jalan kepada para pencari supaya
mengingati-Nya: “Dan hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin
kamu. (Surah Baqaraah, ayat 198).
Ini bermakna Pencipta kamu telah membawa kamu ke peringkat kesedaran
dan keyakinan yang tertentu dan kamu hanya boleh mengingati-Nya
menurut kadar keupayaan tersebut. Nabi s.a.w bersabda, “Ucapan zikir
yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa, itulah
kalimah “La ilaha illa Llah”.
Terdapat berbagai-bagai peringkat zikir dan masing-masing ada cara yang
berlainan.
Ada yang diucap dengan lidah secara kuat dan ada pula yang diucapkan
secara senyap, dari lubuk hati. Pada peringkat permulaan seseorang perlu
menyebutkan ucapan zikirnya dengan lidahnya secara berbunyi.
Kemudian peringkat demi peringkat zikir mengalir ke dalam diri, turun
kepada hati, naik kepada roh dan seterusnya pergi semakin jauh iaitu
kepada bahagian rahsia-rahsia, pergi lagi kepada yang lebih jauh iaitu
bahagian yang tersembunyi sehinggalah kepada yang paling tersembunyi
daripada yang tersembunyi. Sejauh mana zikir masuk ke dalam, peringkat
yang dicapainya, bergantung kepada sejauh mana Allah dengan
kemurahan-Nya membimbing seseorang.
Zikir yang diucapkan dengan perkataan menjadi kenyataan bahawa hati
tidak lupa kepada Allah. Zikir secara senyap di dalam hati adalah
pergerakan perasaan. Zikir hati adalah dengan cara merasakan di dalam
hati tentang kenyataan tentang keperkasaan dan keelokan Allah. Zikir
adalah melalui pancaran cahaya suci yang dipancarkan oleh keperkasaan
dan keelokan Allah. Zikir pada tahap rahsia ialah melalui keghairahan
(zauk) yang diterima daripada pemerhatian rahsia suci itu. Zikir pada
bahagian tersembunyi membawa seseorang kepada: “Di tempat duduk yang
hak, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa”. (Surah Qamar, ayat 55).
Zikir peringkat terakhir yang dipanggil khafi al-khafi – yang paling
tersembunyi daripada yang tersembunyi – membawa seseorang kepada
suasana fana diri sendiri dan penyatuan dengana yang hak. Dalam
kenyataannya tiada sesiapa kecuali Allah yang mengetahui keadaan orang
yang telah masuk ke dalam alam yang mengandungi semua pengetahuan,
kesudahan kepada semua dan segala perkara. “Dia mengetahui rahsia dan
yang lebih tersembunyi” . (Surah Ta Ha, ayat 7).
Bila seseorang telah melepasi tahap zikir-zikir tersebut suasana jiwa yang
berlainan seolah-olah roh lain lahir dalam diri seseorang. Roh ini lebih
tulen dan seni daripada roh-roh yang lain. Ia adalah bayi kepada hati, bayi
kepada hakikat. Ketika dalam bentuk benih bayi ini mengajak dan menarik
orang lain untuk mencari dan menemui yang hak. Setelah ia lahir bayi ini
menggesa orang lain supaya mendapatkaan Zat Allah Yang Maha Tinggi.
Roh baharu ini yang dinamakan bayi kepada hati dan juga benih serta
keupayaannya tidak terdapat pada semua orang. Ia hanya terdapat pada
orang mukmin yang tulen. “Dia jualah yang tinggi darjat-Nya, yang
memiliki arasy. Dia kirim roh dari perintah-Nya kepada sesiapa yang Dia
kehendaki:. (Surah Mukmin, ayat 15).
Roh khusus ini dihantar daripada makam Yang Maha Perkasa dan
diletakkan di dalam alam maya yang nyata di mana sifat-sifat Pencipta
menyata pada penciptaan, tetapi roh ini adalah kepunyaan alam yang hak.
Ia tidak berminat dan tidak memperdulikan apa sahaja melainkan Zat
Allah. Nabi s.a.w bersabda, “Dunia ini tidak disukai dan tidak dihajati oleh
orang yang inginkan akhirat. Akhirat pula tidak dihajati oleh orang yang
inginkan dunia, dan ia tidak akan diberi kepada mereka. Tetapi bagi roh
yang mencari Zat Allah dunia dan akhirat tidak menarik perhatiannya” .
Roh untuk yang hak. Orang yang memilikinya akan mencari, menemui dan
bersama Tuhannya.
Apa sahaja yang kamu buat di sini zahir kamu mestilah menurut jalan
yang lurus. Ia hanya mungkin dengan mengikuti dan mematuhi serta
memelihara peraturan dan hukum agama. Untuk berbuat demikian
seseorang haruslah menyedari, mengingati Allah malam dan siang, zahir
dan batin, berterusan. Bagi mereka yang menyaksikan yang hak
mengingati Allah adalah wajib sebagaimana perintah-Nya: “Maka
hendaklah kamu ingat kepada Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan
sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu” . (Surah Nisaa’, ayat 103).
“Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil
berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil
berkata), ‘Wahai Tuhan kami, Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-
sia. Maha Suci Engkau’” . (Surah Imraan, ayat 191).
11: SYARAT YANG PERLU UNTUK MELAKUKAN ZIKIR
Salah satu syarat menyediakan seseorang untuk berzikir ialah berada di
dalam keadaan berwuduk; basuh dan bersihkan tubuh badan dan sucikan
hati . Pada peringkat permulaan, supaya zikir itu berkesan, perlulah
disebut kuat-kuat akan perkataan dan ayat yang dijadikan zikir – kalimah
tauhid, sifat-sifat Allah. Bila perkataan tersebut diucapkan usahakan agar
kamu berada di dalam kesedaran (tidak lalai). Dengan cara ini hati
mendengar ucapan zikir dan diterangi oleh apa yang dizikirkan. Ia
menerima tenaga dan menjadi hidup – bukan sahaja hidup di dunia ini
bahkan juga hidup abadi di akhirat. “Mereka tidak akan merasa padanya
kematian, hanya kematian pertama, dan Dia pelihara mereka daripada
azab jahanam”. (Surah Dukhaan, ayat 56).
Nabi s.a.w menceritakan bahawa keadaan orang mukmin yang mencapai
yang hak melalui zikir, “Orang mukmin tidak mati. Mereka hanya
meninggalkan hidup yang sementara ini dan pergi kepada kehidupan
abadi” . Dan mereka lakukan di sana apa yang mereka lakukan dalam
dunia. Nabi s.a.w bersabda, “Nabi-nabi dan orang-orang yang hampir
dengan Allah terus beribadat di dalam kubur seperti yang mereka lakukan
di dalam rumah mereka”. Ibadat yang dimaksudkan itu adalah penyerahan
dan merendahkan diri rohani kepada Allah bukan sembahyang yang lima
waktu sehari. Tawaduk yang di dalam diri, dengan diam, adalah nilai
utama yang menunjukkan iman yang sejati.
Makrifat tidak dicapai oleh manusia dengan usaha tetapi ia adalah
anugerah dari Allah. Setelah dinaikkan kepada makam tersebut orang arif
menjadi akrab dengan rahsia-rahsia Allah. Allah membawa seseorang
kepada rahsia-rahsia-Nya apabila hati orang itu hidup dan sedar dengan
zikir atau ingatan kepada-Nya dan jika hati yang sedar itu bersedia
menerima yang hak. Nabi s.a.w bersabda, “Mataku tidur tetapi hatiku
jaga”.
Pentingnya memperolehi makrifat dan hakikat diterangkan oleh Nabi
s.a.w, “Jika seseorang berniat mempelajari dan beramal menurut
keinginannya itu tetapi mati sebelum mencapai tujuannya, Allah melantik
dua orang malaikat sebagai guru yang mengajarnya ilmu dan makrifat
sampai ke hari kiamat. Orang itu dibangkitkan dari kuburnya sebagai
orang arif yang telah memperolehi hakikat” .
Dua orang malaikat di sini menunjukkan roh Nabi Muhammad s.a.w dan
cahaya cinta yang menghubungkan insan dengan Allah. Pentingnya niat
dan hajat selanjutnya diceritakan oleh Nabi s.a.w, “Ramai yang berniat
belajar tetapi mati ketika masih di dalam kejahilam tetapi mereka bangkit
daripada kubur pada hari pembalasan sebagai orang arif. Ramai ahli ilmu
dibangkitkan pada hari itu dalam keadaan rosak akhlak hilang segalanya
dan jahil keseluruhannya” .
Mereka adalah orang-orang yang bermegah dengan ilmu mereka, yang
menuntut ilmu kerana muslihat duniawi dan berbuat dosa. Mereka diberi
amaran: “Dan (ingatkanlah mereka) hari yang akan dibawa orang-orang
kafir ke neraka (dan dikata), ‘Kami telah habiskan bahagian kamu yang
baik di dalam penghidupan dunia. Dan kamu telah bersuka-sukaan
dengannya. Maka pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang keji
lantaran kamu pernah berlaku sombong di dunia secara tidak benar dan
lantaran kamu telah melewati batas” . (Surah Ahqaaf, ayat 20).
Nabi s.a.w bersabda, “Setiap amal bergantung pada niat. Niat dan tujuan
orang beriman lebih baik dan bernilai pada pandangan Allah daripada
amalannya. Niat orang yang tidak beriman lebih buruk daripada apa yang
nyata dengan amalannya” . Niat adalah asas amalan. Nabi s.a.w, “Adalah
baik membena kerja kebajikan di atas tapak yang baik, dan dosa adalah
perbuatan yang dibina di atas tapak yang jahat”. “Barangsiapa hendak ke
taman akhirat Kami tambah untuknya pada ke tamannya, dan barangsiapa
mahu ke taman dunia Kami akan beri kepadanya sebahagian daripadanya,
tetapi tidak ada baginya bahagian akhirat”. (Surah Syura, ayat 20).
Cara terbaik ialah mencari guru kerohanian yang akan membawa hati
kamu hidup. Ini akan menyelamatkan kamu di akhirat. Ini adalah penting;
ia mesti dilakukan segera ketika masih hidup. Dunia ini kebun akhirat.
Orang yang tidak menanam di sini tidak boleh menuai di sana . Jadi,
bercucuk tanamlah di dalam dunia ini dengan benih yang diperlukan untuk
kesejahteraan hidup di sini dan juga di akhirat.
12: MENYAKSIKAN ALLAH: SAMPAI KEPADA MAKAM MELIHAT
KENYATAAN ZAT YANG MAHA SUCI.
Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang
sempurna secara langsung di akhirat’ dan satu lagi melihat sifat-sifat
ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih kepunyaan hati
yang tulen di dalam kehidupan ini . Dalam hal tersebut penyaksian
kelihatan sebagai penzahiran cahaya keluar daripada keindahan Allah
yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki. “Hati tidak
menafikan apa yang dia lihat” . (Surah Najmi, ayat 11).
Mengenai melihat kenyataan Allah melalui perantaraan, Nabi s.a.w
bersabda, “Yang beriman adalah cermin kepada yang beriman” . Yang
beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman
yang suci murni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat
bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. Sesiapa yang
sampai kepada makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini
akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk.
Kenyataan ini disahkan oleh Saidina Umar r.a dengan katanya, “Hatiku
melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku” . Saidina Ali r.a berkata, “Aku
tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya” . Mereka berdua tentu
telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. Jika seseorang melihat
cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, “Aku melihat
matahari”, dia bercakap benar.
Allah memberi gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-sifat-Nya: “
Allah itu nur bagi langit-langit dan bumi. Bandingan nur-Nya (adalah)
seperti satu kurungan pelita yang di dalamnya ada pelita (sedang) pelita
itu dalam satu kaca, (dan) kaca itu sebagai bintang yang seperti mutiara,
yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang banyak faedah (iaitu)
zaitun yang bukan bangsa timur dan bukan bangsa barat, yang minyaknya
(sahaja) hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, nur atas nur,
Allah pimpin kepada nur-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
mengadakan perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui tiap
sesuatu” . (Surah Nuur, ayat 35).
Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan
orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu ialah hakikat
atau intipati kepada hati, sementara cahaya yang dipancarkan ialah rahsia
Tuhan, ‘roh sultan’. Kaca adalah lutsinar dan tidak memerangkap cahaya di
dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya kerana ia
umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah
makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya,
memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan
bahasa yang asli.
Secara langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi s.a.w menerima
pembukaan al-Quran. Dalam kenyataan Jibrail membawa firman Tuhan
hanya setelah firman tersebut diterima – ini adalah untuk faedah kita
supaya kita boleh mendengarnya dalam bahasa manusia. Ini juga
memperjelaskan siapakah yang tidak percaya dan munafik dengan
memberi mereka peluang untuk menafikannya seperti mereka tidak
percaya kepada malaikat. “Dan sesungguhnya diwahyukan kepada kamu
Quran (ini) dari sisi (Tuhan) yang bijaksana, yang mengetahui” . (Surah
Naml, ayat 6).
Oleh kerana Nabi s.a.w menerima pembukaan sebelum Jibrail
membawanya kepada baginda, setiap kali Jibrail membawa ayat-ayat suci
itu Nabi s.a.w mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum
ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat:
“Dan janganlah engkau terburu-buru dengan Quran sebelum habis
diwahyukan kepada kamu” . (Surah Ta Ha, ayat 114).
Keadaan ini menjadi jelas sewaktu Jibrail menemani Nabi s.a.w pada
malam mikraj, Jibrail tidak terdaya untuk pergi lebih jauh daripada
Sidratul Muntaha. Dia berkata, “Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan
terbakar” . Jibrail membiarkan Nabi s.a.w meneruskan perjalanan seorang
diri.
Allah menggambarkan pokok zaitun yang diberkati, pokok keesaan, bukan
dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain perkataan ia tidak ada
permulaan dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber
tidak terbit dan tidak terbenam. Ia kekal pada masa lalu dan tiada
kesudahan pada masa akan datang.
Kedua-dua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua-dua
kenyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya bergantung kepada Zat-Nya.
Penyembahan yang sebenar hanya boleh dilakukan apabila hijab yang
menutup hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya selepas
itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya selepas itu roh
menyaksikan perumpamaan Ilahi itu.
Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemui khazanah rahsia itu.
Allah berfirman melalui Rasul-Nya: “Aku adalah Perbendaharaan Yang
Tersembunyi. Aku suka dikenali lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku
dikenali”.
Ini bermakna Dia boleh dikenali di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya.
Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanyalah boleh terjadi
di akhirat. Di sana melihat Allah adalah secara langsung sebagaimana yang
Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati. “Beberapa
muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat”. (Surah
Qiamat, ayat 22 & 23).
Nabi s.a.w bersabda, “Aku melihat Tuhanku di dalam rupa jejaka tampan” .
Mungkin ini adalah bayangan bayi hati. Bayangan adalah cermin. Ia
menjadi alat untuk menzahirkan yang ghaib. Hakikat Allah Yang Maha
Tinggi tidak menyerupai sesuatu samada bayangan atau bentuk. Bayangan
adalah cermin, walaupun yang kelihatan bukanlah cermin dan bukan juga
orang yang melihat ke dalam cermin. Fikirkan tentang itu dan cubalah
memahaminya kerana ia adalah hakikat kepada alam rahasia-rahasia.
Tetapi semuanya berlaku pada makam sifat. Pada makam Zat semua
kenyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri
lenyap tetapi mereka merasai zat itu dan tiada yang lain. Betapa jelas Nabi
s.a.w menggambarkannya, “Aku daripada Allah dan yang beriman
daripadaku” . Dan Allah berfirman melalui Rasul-Nya: “ Aku ciptakan
cahaya Muhammad daripada cahaya Wujud-Ku sendiri”.
Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam
sifat-sifat-Nya Yang Maha Mengasihani. Ini dinyatakan-Nya melalui Rasul-
Nya: “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku”.
Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah
berfirman: “Tidak Kami utuskan engkau melainkan menjadi rahmat
kepada seluruh alam” . (Surah Anbiyaa’, ayat 107).
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menerangkan
kepada kamu beberapa banyak dari (isi Kitab) yang kamu sembunyikan,
dan ia tidak ambil tahu berapa banyak. Sesungguhnya telah datang kepada
kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan”. (Surah Maaidah,
ayat 15).
Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya
kepada baginda, “Jika tidak kerana engkau Aku tidak ciptakan makhluk”.
13: TABIR CAHAYA DAN KEGELAPAN
Allah berfirman: “Sesiapa yang buta di dunia buta juga di akhirat”. (Surah
Bani Israil, ayat 72).
Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang
menghalang seseorang daripada melihat cahaya hari akhirat. Firman Allah:
“Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada”. (Surah
Hajj, ayat 46).
Hati menjadi buta disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang
lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajipan mereka, tujuan mereka,
ikrar mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia.
Sebab utama kelalaian adalah kejahilam terhadap hakikat (kebenaran)
undang-undang dan peraturan Tuhan. Apa yang menyebabkan seseorang
itu berterusan di dalam kejahilam ialah kegelapan yang menyeluruh
menutupi seseorang dari luar dan sepenuhnya menguasai batinnya.
Sebahagian daripada nilai-nilai itu yang mendatangkan kegelapan ialah
sifat-sifat angkuh, sombong, megah, dengki, bakhil, dendam, bohong,
mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji. Sifat-sifat yang keji itulah yang
merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh kepada tahap
yang paling rendah.
Untuk membebaskan seseorang daripada kejahatan itu dia perlu
menyucikan dan menyinarkan cermin hatinya. Penyucian ini dilakukan
dengan mendapatkan pengetahuan, dengan beramal menurut pengetahuan
itu, dengan usaha dan keberanian, melawan ego diri, menghapuskan yang
banyak pada diri, mencapai keesaan. Perjuangan ini berterusan sehingga
hati menjadi hidup dengan cahaya keesaan – dan dengan cahaya keesaan
itu mata bagi hati yang suci akan melihat hakikat sifat-sifat Allah di
sekeliling dan pada dirinya.
Hanya selepas itu baharu kamu ingat akan kediaman kamu yang sebenar
yang darinya kamu datang.
Kemudian kamu akan ada rasa kerinduan dan keinginan untuk kembali
kepada rumah kediaman yang sebenar, dengan pertolongan Yang Maha
Mengasihani roh suci pada diri kamu akan menyatu dengan-Nya.
Bila sifat-sifat kegelapan terangkat cahaya mengambil alih tempatnya dan
orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dia mengenali apa yang
dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. Kemudian dirinya
dibanjiri oleh cahaya dan bertukar menjadi cahaya. Cahaya ini masih lagi
hijab menutupi cahaya suci Zat, tetapi masanya akan sampai bila ini juga
akan terangkat, yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri.
Hati mempunyai dua mata, satu yang sempat dan satu lagi yang luas.
Dengan mata yang sempat seseorang boleh melihat kenyataan sifat-sifat
dan nama-nama Allah. Penglihatan ini berterusan sepanjang
perkembangan kerohaniannya. Mata yang luas melihat hanya kepada apa
yang dijadikan kelihatan oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila
seseorang sampai kepada daerah kehampiran dengan Allah dia akan
melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah, Yang Esa
dan Mutlak.
Bagi mencapai makam-makam ini ketika masih di dalam dunia, di dalam
kehidupan ini kamu mestilah membersihkan diri kamu daripada sifat-sifat
keduniaan, yang ego dan keegoan. Jarak yang kamu mengembara di dalam
kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut bergantung kepada sejauh
mana kamu mengasingkan diri daripada hawa nafsu yang rendah dan ego
diri kamu.
Pencapaian kamu kepada matlamat yang kamu inginkan bukanlah seperti
barang kebendaan sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang
membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (daripada
tidak tahu), juga bukan pertimbangan yang memperolehi apa yang
difikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang
dikhayalkan. Matlamat yang kamu ingin capai ialah kesedaran tentang
ketiadaan (kekosongan) kamu daripada segala sesuatu kecuali Zat Allah.
Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan
pada sesuatu yang nyata. Di sana tiada jarak, tiada dekat atau jauh, tiada
kesampaian, tiada ukuran, tiada arah, tiada ruang.
Dia Maha Besar, segala puji untuk-Nya. Dia Maha Pengampun. Dia menjadi
nyata dalam apa yang Dia sembunyikan daripada kamu. Dia menyatakan
Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu.
Pengenalan tentang Diri-Nya tersembunyi di dalam ketidakupayaan
mengenali-Nya.
Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang diterangkan
dalam buku ini ketika kamu masih lagi berada di dalam dunia, buatlah
muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, buku catatan kamu tentang amalan
kamu.
Hanya di bawah cahaya kamu boleh melihat apa yang kamu sudah buat
dan sedang buat; buat kiraan kamu, seimbangkannya. Kamu akan
membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari
pembalasan. Itu adalah muktamad. Kamu tidak ada peluang
mengimbanginya di sana . Jika kamu lakukan di sini ketika kamu masih
ada masa, kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan. Jika
tidak azab dan seksa menjadi bahagian kamu di akhirat. Hidup ini akan
berakhir. Di sana ada azab di dalam kubur, ada hari pembalasan, ada
neraka yang menimbang sehingga kepada dosa yang paling kecil dan
kebaikan yang paling kecil. Kemudian ada jambatan yang lebih halus
daripada rambut dan lebih tajam daripada mata pedang, penghujungnya
ialah taman, sementara di bawahnya ialah neraka yang penuh dengan
kecelakaan, penderitaan, semuanya adalah berkekalan apabila kehidupan
yang singkat ini berakhir.
14: KEBAHAGIAAN KERANA BERAMAL SALIH DAN KESENGSARAAN
KERANA INGKAR
Kamu patut tahu bahawa manusia akan termasuk kepada salah satu
daripada dua golongan, golongan pertama ialah yang berada dalam
kedamaian, keimanan, bahagia dalam melakukan ketaatan kepada Allah ,
sementara golongan kedua berada dalam keadaan tidak selamat, keraguan
dan kerisauan dalam keingkaran terhadap peraturan Tuhan. Kedua-dua
nilai, ketaatan dan keingkaran, ada di dalam diri seseorang. Jika kesucian,
kebaikan dan keikhlasan lebih menguasai, sifat-sifat mementingkan diri
akan bertukar menjadi suasana kerohanian dan bahagian diri yang ingkar
akan dikalahkan oleh bahagian diri yang baik.
Sebaliknya jika seseorang mengikuti hawa nafsu yang rendah dan
kesenangan ego dirinya, sifat-sifat ingkar akan menguasai bahagian diri
yang satu lagi untuk menjadikannya ingkar dan jahat. Jika kedua-dua sifat
yang berlawanan itu sama-sama kuat diharapkan yang baik itu boleh
menang, sebagaimana yang dijanjikan: “Barangsiapa kerjakan kebaikan
maka baginya (ganjaran) sepuluh kali ganda, dan barangsiapa kerjakan
kejahatan maka Tidaklah dibalas dia melainkan sebanyak (kejahatannya)
itu, dan mereka tidak akan diniayai. (Surah An’aam, ayat 160).
Dan jika Allah kehendaki ditambah-Nya lagi ganjaran atas kebaikan.
Namun orang yang kebajikan dan kejahatannya sama banyak mesti lulus
perbicaraan pada hari pembalasan. Orang yang berjaya mengubah sifat
mementingkan diri kepada tidak mementingkan diri, hawa nafsu yang
rendah kepada cita-cita kerohanian, baginya tiada hisab, tiada catatan akan
diberikan kepadanya. Dia akan memasuki syurga tanpa melalui huru hara
hari kiamat. “Oleh sebab itu barangsiapa berat (timbangan) kebaikannya
maka dia di dalam kehidupan (akhirat) yang sentosa” . (Surah Qari’ah, ayat
6 & 7).
Orang yang kejahatannya lebih berat daripada kebaikannya akan dihukum
menurut kadar kejahatannya. Kemudian dia dikeluarkan daripada neraka,
jika dia beriman, dan akan masuk syurga.
Taat dan ingkar bermakna baik dan jahat. Kedua-dua ini ada dalam diri
seseorang manusia. Yang baik boleh berubah menjadi jahat dan yang jahat
boleh berubah menjadi baik. Nabi s.a.w bersabda, “Orang yang kebaikan
menguasainya menemui keselamatan, keimanan dan kegembiraan dan
menjadi baik. Orang yang kejahatan lebih menguasai kebaikan, dia
menjadi ingkar dan jahat. Orang yang menyedari kesalahannya dan
bertaubat dan mengubah haluannya akan mendapati suasana ingkar akan
bertukar menjadi taat dan beribadat”.
Telah menjadi ketentuan bahawa baik dan jahat, kehidupan yang diberkati
bagi orang yang taat dan kesengsaraan bagi yang ingkar, adalah keadaan
yang setiap orang dilahirkan dengannya. Kedua-duanya tersembunyi di
dalam bakat atau keupayaan seseorang. Nabi s.a.w bersabda, “Orang yang
bertuah menjadi baik adalah baik ketika di dalam kandungan ibunya, dan
orang berdosa yang jahat adalah pendosa di dalam kandungan ibunya” .
Begitulah keadaannya dan tiada siapa yang berhak berbincang
mengenainya. Urusan takdir bukan untuk dibincangkan. Jika dibiarkan
perbincangan demikian ia akan membawa kepada bidaah dan kekufuran.
Lagipun tiada siapa boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk
membuang segala ikhtiar, semua perbuatan baik. Seseorang itu tidak boleh
mengatakan, ‘Jika aku ditakdirkan menjadi baik maka aku bersusah payah
membuat kebaikan sedangkan aku sudahpun diberkati’. Atau berkata, ‘Jika
aku sudah ditakdirkan menjadi jahat apa gunanya aku berbuat kebaikan’.
Jelas sekali pendirian demikian tidak benar. Tidak wajar mengatakan, ‘Jika
keadaan aku sudah ditakdirkan pada azali apa untung atau rugi yang aku
harapkan dengan usahaku sekarang’. Contoh yang baik diberikan kepada
kita adalah perbandingan di antara Adam a.s dengan iblis yang dilaknat.
Iblis meletakkan kesalahan kepada takdir, yang menyebabkan dia menjadi
derhaka, maka dia menjadi kafir dan dibuang jauh daripada keampunan
dan kehampiran Tuhan. Adam a.s mengakui kesilapannya dan memohon
keampunan, menerima keampunan dari Allah dan diselamatkan.
Menjadi kewajipan bagi orang Islam yang beriman untuk tidak cuba
memahami sebab-sebab yang tersimpan di dalam takdir. Orang cuba
berbuat demikian akan menjadi keliru dan tidak mendapat apa-apa
melainkan keraguan. Bahkan dia mungkin kehilangan keyakinan. Orang
yang beriman mestilah mempercayai kepada kebijaksanaan Allah yang
mutlak. Segala yang manusia lihat terjadi pada dirinya di dalam dunia ini
mesti ada alasan tetapi alasan itu bukan untuk difahami melalui lojik
manusia kerana ia berdasarkan kebijaksanaan Tuhan. Di dalam kehidupan
ini bila kamu temui pencacian terhadap Tuhan, kemunafikan, keingkaran,
penipuan dan lain-lain yang jahat, jangan biarkan perkara-perkara
tersebut menggoncangkan iman kamu. Ketahuilah Allah Yang Maha Tinggi
dengan kebijaksanaan mutlak bertanggungjawab kepada semua perkara
dan Dia lakukan apa yang kelihatan sebagai tidak baik sebagai menyatakan
kekuasaan-Nya yang mutlak.
Penzahiran kekuasaan yang demikian mungkin menyebabkan ada orang
yang tidak tertahan dan menganggapnya sebagai tidak baik tetapi ada
rahsia besar di sebaliknya yang tiada makhluk yang tahu melainkan
Rasulullah s.a.w. Ada kisah orang arif berdoa kepada Tuhannya, “Wahai
Yang Maha Suci, semua telah diatur oleh Engkau. Takdirku adalah
kepunyaan-Mu. Ilmu yang Engkau letakkan padaku adalah milik-Mu”.
Ketika itu dia mendengar jawapan tanpa suara tanpa sepatah perkataan,
keluar dari dalam dirinya mengatakan, “Wahai hamba-Ku. Segala yang
engkau katakan adalah kepunyaan Yang Maha Esa dan dalam keesaan. Ia
bukan milik hamba-hamba”. Hamba yang beriman itu berkata, “Wahai
Tuhanku, aku telah menzalimi diriku, aku bersalah, aku berdosa”. Selepas
pengakuan itu sekali lagi dia mendengar dari dalam dirinya, “Dan Aku
mempunyai keampunan terhadap dirimu. Aku telah hapuskan kesalahan-
kesalahan kamu, Aku telah ampun kamu”.
Biar mereka yang beriman tahu dan bersyukur yang segala kebaikan yang
mereka lakukan bukanlah dari mereka tetapi melalui mereka, kejayaan
datangnya dari Pencipta. Bila mereka bersalah biar mereka tahu bahawa
kesalahan mereka datangnya dari diri mereka sendiri, kepunyaan mereka
dan mereka boleh bertaubat. Kesalahan datangnya dari keegoan mereka
yang batil. Jika kamu memahami ini dan mengingatinya kamu termasuk ke
dalam golongan yang disebut Allah: “Dan yang apabila telah berbuat
kejelikan atau menganiayai diri-diri mereka maka mereka ingat kepada
Allah dan mereka minta diampunkan dosa-dosa mereka – bukankah tidak
ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah? Dan mereka tidak
berkekalan di atas dosa yang mereka kerjakan, dan mereka tahu. Mereka
itu balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka, syurga-syurga yang
mengalir padanya sungai-sungai, mereka akan kekal padanya, dan
alangkah baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal”. (Surah Imraan,
ayat 135 & 136).
Adalah baik bagi orang yang beriman mengakui yang dirinya sendirilah
punca semua kesalahan dan dosanya. Itulah yang akan menyelamatkannya.
Itu lebih baik dan lebih benar daripada meletakkan kesalahan dirinya
kepada Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Pencipta semua perkara.
Bila Nabi s.a.w bersabda, “Telah diketahui bila seseorang itu berada di
dalam kandungan ibunya samada dia akan menjadi baik atau pendosa”
baginda maksudkan ‘dalam kandungan ibu’ itu adalah empat anasir yang
melahirkan semua kekuatan atau tenaga dan kebolehan lahiriah. Dua
daripada anasir tersebut adalah tanah dan air yang bertanggungjawab
kepada pertumbuhan keyakinan dan pengetahuan, melahirkan kehidupan
dan lahir dalam hati sebagai tawaduk (kerendahan diri). Dua anasir lain
ialah api dan angin yang bertentangan dengan tanah dan air – membakar,
membinasa, membunuh. Kudrat Tuhan yang menyatukan anasir-anasir
yang berlawanan dan berbeza menjadi satu.
Bagaimana air dan api boleh wujud bersama? Bagaimana cahaya dan
kegelapan boleh terkandung di dalam awan? “Dia yang mengunjukkan
kepada kamu kilat untuk menakutkankan dan kerana harapan, dan Dia
jadikan mega yang berat. Dan petir itu beribadat dengan memuji
Tuhannya, dan malaikat juga, lantaran takut kepada-Nya, dan Dia kirim
halilintar dan Dia kenakannya kepada sesiapa yang Dia kehendaki…”.
(Surah ar-Ra’d, ayat 12 & 13). Satu hari wali Allah Yahya bin Mua’adh ar-
Razi ditanya, “Bagaimana mengenali Allah?’ Dia menjawab, “Melalui
gabungan yang bertentangan”.
Pertentangan termasuk pada, dan sebenarnya keperluan bagi, memahami
sifat-sifat Allah. Dengan menghadapkan diri kepada hakikat Ilahi seseorang
menjadi cermin yang membalikkan kebenaran itu, juga sifat Yang Maha
Perkasa dibalikkan. Dalam diri manusia terkandung seluruh alam maya.
Sebab itu dia dipanggil penggabung yang banyak. Allah menciptakan
manusia dengan dua tangan-Nya, tangan kemurahan-Nya dan tangan
keperkasaan-Nya, keperkasaan dan kekuasaan. Jadi, manusia adalah
cermin yang menunjukkan kedua-dua belah, yang kasar serta tebal dan
yang halus serta indah.
Semua nama-nama Ilahi menyata pada manusia. Semua makhluk yang lain
hanya sebelah sahaja. Allah menciptakan iblis dan keturunannya dengan
sifat kekerasan-Nya. Dia ciptakan malaikat dengan sifat kemurahan-Nya.
Nilai-nilai kesucian dan kebaktian yang berterusan terkandung dalam
kejadian malaikat, sementara iblis dan keturunannya yang diciptakan
dengan sifat kekerasan-Nya, mempunyai nilai kejahatan, kerana itu iblis
menjadi takabur, dan bila Allah perintahkan sujud kepada Adam dia
ingkar.
Oleh kerana manusia mempunyai kedua-dua ciri alam tinggi dan rendah,
dan Allah telah memilih utusan-utusan dan wali-wali-Nya dari kalangan
manusia, mereka tidak bebas daripada kesilapan. Nabi-nabi dipelihara
dari dosa-dosa besar tetapi kesilapan kecil harus berlaku pada mereka.
Wali-wali pula tidak terjamin dipelihara daripada dosa tetapi adalah
dikatakan wali-wali itu hampir dengan Tuhan, mencapai makam
kesempurnaan, mereka masuk ke bawah perlindungan Tuhan daripada
dosa-dosa besar.
Syaqiq al-Baqi berkata, “Terdapat lima tanda kebenaran: perangai yang
lemah lembut dan lembut hati, menangis kerana menyesal, mengasingkan
diri dan tidak peduli tentang dunia, tidak bercita-cita tinggi, dan memiliki
rasa hati (gerak hati atau intuisi). Tanda-tanda pendosa juga lima ; keras
hati, mempunyai mata yang tidak pernah menangis, mencintai dunia dan
kesenangannya, bercita-cita tinggi, tidak bermalu dan tidak ada rasa atau
gerak hati”.
Nabi s.a.w meletakkan empat nilai pada orang yang baik-baik, “Boleh
dipercayai dan menjaga apa yang diamanahkan kepadanya dan
mengembalikannya. Menepati janji. Bercakap benar, tidak berbohong.
Tidak kasar dalam perbincangan dan tidak menyakitkan hati orang lain”.
Baginda s.a.w juga memberitahu empat tanda pendosa, “Tidak boleh
dipercayai dan merosakkan amanah yang diberikan kepadanya, mungkir
janji, menipu, suka bertengkar, memaki apabila berbincang dan
menyakitkan hati orang lain” . Seterusnya pendosa tidak dapat memaafkan
kawan-kawannya. Ini tanda tiada iman kerana kemaafan menjadi tanda
utama orang beriman. Allah memerintahkan rasul-Nya: “Berilah maaf, dan
suruhlah mereka (manusia) berbuat kebaikan, dan berpalinglah daripada
orang-orang yang bodoh”. (Surah A’raaf, ayat 199).
Perintah ‘maafkanlah’ bukan hanya tertuju kepada Rasulullah s.a.w
seorang sahaja. Ia mengenai semua orang dan tentu sahaja termasuk
mereka yang beriman dengan Rasulullah s.a.w. Perkataan ‘maafkanlah’
bermakna jadikan tabiat memafkan, jadikan sifat atau peribadi. Sesiapa
yang ada sifat pemaaf menerima satu daripada nama-nama Allah – ar-Rauf
– Yang Memaafkan. “Barangsiapa memaafkan dan membereskan maka
ganjarannya (adalah) atas (tanggungan) Allah”. (Surah Syura, ayat 40).
Ketahuilah ketaatan kepada Allah bertukar menjadi ingkar, kejahatan dan
dosa menjadi kebaikan, tidak berlaku dengan sendiri, tetapi dengan
rangsangan, pengaruh, tindakan serta usaha diri sendiri. Nabi s.a.w
bersabda, “Semua anak dilahirkan muslim. Ibu bapanya yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Setiap orang ada bakat untuk
menjadi baik atau jahat, boleh memiliki sifat-sifat baik dan buruk dalam
masa yang sama. Jadi, adalah salah menghukum seseorang atau sesuatu
sebagai sepenuhnya baik atau buruk. Tetapi benar jika dikatakan seseorang
itu lebih banyak kebaikannya daripada kejahatannya ataupun sebaliknya.
Ini bukan bermakna manusia masuk syurga tanpa amalan baik, juga bukan
dia dihantar ke neraka tanpa amalan buruk. Berfikir cara demikian
bertentangan dengan prinsip Islam. Allah menjanjikan syurga kepada
hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal salih dan diancam-Nya
orang-orang yang berdosa dengan azab neraka. “Barangsiapa berbuat baik
maka (adalah) untuk kebaikan dirinya dan barangsiapa berbuat jahat maka
untuk dirinya. Kemudian kepada Tuhan kamulah kamu akan
dikembalikan”. (Surah Jaasiaah, ayat 15).
“Di hari ini dibalas setiap jiwa dengan apa yang dia telah usahakan. Tidak
ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat menghitung”.
(Surah Mukmin, ayat 17).
“Kerana apa juga amal yang baik yang kamu sediakan untuk diri kamu
nanti kamu dapati (ganjaran)nya di sisi Allah”. (Surah Baqaraah, ayat 110).

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR ( SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RA ) BAG-1

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM….

index(2)

Terjemah kitab SIRRUL ASROR ( Syeikh Abdul Qadir Jailani Ra ) Bag-1 terdiri dari 7 bab awal, yang mana kitab ini terdiri dari 24 bab. Sejujurnya, artikel ini adalah hasil copas dari blog TQNMARGADANA.BLOGSPOT.COM Saya copas artikel ini tidak lain hanya bertujuan agar saya dapat mempelajarinya, serta terus berharap kepada-Nya agar memberi manfaat dunia akhirat, bagi siapa saja yang membaca, mempelajari serta mengamalkan isi dari kitab ini. Dan menurut saya pribadi, kitab seperti ini sangat langka, sehingga saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada keluarga besar TQN MARGADANA.BLOGSPOT.COM yang telah memposting terjemah kitab tersebut. Semoga Alloh Swt selalu melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua, memudahkan jalan kita dalam memahami serta mengamalkan apa-apa yang telah ditulis oleh beliau baginda SYEKH ABDUL QODIR JAILANI RA dalam kitab SIRRUL ASROR…AMIN…!!!

1: UCAPAN UNTUK PARA PEMBACA

(Petikan surat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani)

Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin
yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran
yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk
memancarkan cahaya rahsia-rahsia Ilahi.
Bila cahaya dari “ Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi… ”
mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu
hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang
berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak
panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan
mengeluarkan daripada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat,
dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya
ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia
“memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian
lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana
mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia Allah menyinarinya?
Sekiranya cahaya rahasia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada
rahsia-rahsia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang “…dan
berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu)…” . Bukanlah
bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah “…
menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang”. Sekiranya
lampu rahsia-rahsia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain
akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur.
Sebahagiannya kamu telah ketahui sebahagian yang lain akan kami
beritahu di sini. Baca, dengar, cuba fahamkan. Langit ketidaksedaran
(kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan
kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk
langit memancarkan “cahaya di atas cahaya” berterusan meninggi di
langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah
tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di
tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. “(Aku bersumpah)
demi malam apabila ia senyap sepi…dengan cuaca pagi yang cemerlang…”
malam ketidaksedaran kamu akan melihat terangnya hari siang.
Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan “bertaubat di
awal pagi” terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu
yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung
bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata:
Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka
memohon keampunan Allah Allah bimbangkan kepada cahaya-Nya sesiapa
yang Dia kehendaki.
Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari
ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu
adalah “yang Allah beri petunjuk” dan kamu “berada pada jalan yang
benar” dan bukan “mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan”. Dan
kamu akan memahami rahsia:
Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam
mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing).
Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan “perumpamaan yang Allah
adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu”, dan tabir-tabir
akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah
pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya.
Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya
rahsia-rahsia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan
bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya.
2: PENGENALAN
Segala puji dan puja untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang Dia yang mengumpul segala pengetahuan di dalam Zat-Nya dan
Dia jualah Pencipta segala pengetahuan dengan keabadian. Segala
kewujudan bersumberkan Wujud-Nya. Segala puji bagi Allah lantaran Dia
menghantarkan Quran yang mulia yang mengandungi di dalamnya sebab-
sebab ia diturunkan iaitu untuk memperingatkan manusia tentang Allah.
Dihantarkan-Nya kepada pembimbing yang memandu manusia pada jalan
yang benar dengan yang paling Perkasa di antara agama-agama.
Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad s.a.w yang tidak diajar oleh
makhluk tetapi diajar oleh-Nya sendiri. Baginda s.a.w adalah nabi-Nya
yang terakhir, penyambung terakhir pada rantaian kenabian yang diutus
kepada dunia yang sedang hanyut di dalam huru hara, yang paling mulia
di kalangan nabi-nabi-Nya, dimuliakan dengan kitab suci yang paling suci
dan paling mulia. Keturunan baginda s.a.w adalah pembimbing bagi
orang-orang yang mencari. Sahabat-sahabat baginda s.a.w adalah pilihan
dari kalangan orang yang baik-baik dan murah hati. Semoga kesejahteraan
dan keberkatan yang melimpah-limpah dikurniakan kepada ruh-ruh
mereka.
Tentu sekali yang paling berharga di antara yang berharga, paling tinggi,
permata yang tidak ternilai, barang perniagaan yang paling
menguntungkan manusia, adalah ilmu pengetahuan. Hanya dengan hikmah
kebijaksanaan kita boleh mencapai keesaan Allah, Tuhan sekalian alam.
Hanya dengan hikmah kebijaksanaan kita boleh mengikuti rasul-rasul-Nya
dan nabi-nabi-Nya. Orang yang berpengetahuan, yang bijaksana, adalah
hamba-hamba Allah yang tulen yang Dia pilih untuk menerima perutusan
Ilahi. Dia lebihkan mereka daripada yang lain semata-mata dengan
kebaikan rahmat-Nya yang Dia curahkan kepada mereka. Mereka adalah
pewaris nabi-nabi, pembantu-pembantu mereka, yang dipilih oleh rasul-
rasul-Nya untuk menjadi khalifah kepada sekalian manusia. Mereka
berhubungan dengan nabi-nabi dengan perasaan yang amat seni dan
kebijaksanaan yang sangat tinggi.
Allah Yang Maha Tinggi memuji orang-orang yang memiliki hikmah
kebijaksanaan:
“Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada mereka yang Kami pilih
daripada hamba-hamba Kami, tetapi sebahagian daripada mereka
menganiayai diri mereka sendiri, dan sebahagian daripada mereka cermat,
dan sebahagian daripada mereka ke hadapan dalam kebajikan-kebajikan
dengan izin Allah, yang demikian adalah kurniaan yang besar”. ( Surah
Fatir, ayat 32).
Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Pemegang hikmah kebijaksanaan adalah
pewaris nabi-nabi. Penduduk langit mengasihi mereka dan di atas muka
bumi ini ikan-ikan di laut bertasbih untuk mereka hingga kepada hari
kiamat”.
Dalam ayat lain Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Tidak takut kepada Allah daripada hamba-hamba-Nya melainkan orang-
orang yang berilmu Pengetahuan” (Surah Fatir, ayat 28).
Nabi Muhammad s.a.w bersabda, “Pada hari pembalasan, Allah akan
mengumpulkan sekalian manusia, kemudian mengasingkan yang berilmu
di antara mereka dan berkata kepada mereka: ‘Wahai orang-orang yang
berilmu. Aku kurniakan kepada kamu ilmu-Ku kerana Aku mengenali
kamu. Tidak aku kurniakan hikmah kebijaksanaan kepada kamu untuk Aku
hukumkan kamu pada hari ini. Masuklah ke dalam syurga-syurga-Ku. Aku
telah ampunkan kamu’ ”.
Segala puji milik Allah, Tuhan sekalian alam lantaran Dia kurniakan
makam yang tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan memelihara
mereka daripada dosa dan menyelamatkan mereka daripada diseksa. Dia
berkati ahlul hikmah dengan menghampiri mereka.
Sebahagian daripada murid-murid kami meminta supaya kami sediakan
sebuah buku yang memadai buat mereka. Sesuai dengan permintaan dan
keperluan mereka kami siapkan buku yang ringkas ini Semoga ia dapat
mengubati dan memuaskan mereka serta yang lain juga. Kami namakan
buku ini “ Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar ” atau “rahasia dalam
rahasia-rahasia yang Kebenarannya sangat diperlukan”. Dalam pekerjaan
ini kenyataan di dalam kepercayaan dan perjalanan kami dibukakan.
Setiap orang memerlukannya.
Dalam menyampaikan hasil kerja ini kami bahagikannya kepada 24 bab
kerana terdapat 24 huruf di dalam pengakuan suci “La ilaha illah Llah,
Muhammadun rasulu Llah” dan juga terdapat 24 jam dalam satu hari.
3: PERMULAAN PENCIPTAAN
Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan
kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperolehi keredaan-Nya.
Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku
katakan.
Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya
Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia
berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.
Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya:
“Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya
sebagai ruh suci”.
“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan akal”.
Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan
hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad
yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan
nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi
di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab
yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)
Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) kerana dia telah melihat
dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam kerana dia
menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-
huruf.
Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan
dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan
sabdanya, “Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku” . Allah
Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda
s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling
baik. ‘Muhammad’ adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam
alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan
segala-galanya.
Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan
arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain
daripada arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat
penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan
badan.
“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah” .
(Surah Tin, ayat 15)
Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam lahut,
iaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak,
kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal
asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan
roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan ‘roh
pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam
malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’. Kemudian Dia arahkan
mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan
angin dan mereka menjadi ‘roh manusia’. Kemudian daripada dunia ini
Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.
“Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan
dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi”. (Surah Ta Ha, ayat
55)
Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya
memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.
“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-
Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)
Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan
daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka
lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya
kepada mereka: “Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya,
bahkan!.”
Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka,
lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi
Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala
keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia
mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul
kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.
“Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami
(sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari
kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah”.
(Surah Ibrahim, ayat 5)
Yaitu ‘ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah
dengan Allah’.
Ramai rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka
dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa
kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari
kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali
kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi
semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.
Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul
roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang
menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang
Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka mata manusia iaitu
membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia
dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan
keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah
berfirman:
“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku
kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)”. (Surah Yusuf, ayat
108).
Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam
menunjukkan tujuan kita telah bersabda, “Sahabat-sahabatku adalah
umpama bintang di langit. Sesiapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu
akan temui jalan yang benar”.
Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata
ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah,
yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan
mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan
pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi
pengetahuan yang mengalir daripada kesedaran Ilahi.
“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu
laduni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).
Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai
pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta
perangsang daripada orang yang seperti ini adalah perlu. Guru yang
demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang
yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak.
Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah
dan bertaubatlah kerana melalui taubat kamu akan memohon kepada
Tuhan agar dikurniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan
berjuanglah. Allah memerintahkan:
“Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang
lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang
berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan
marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang
berbuat kebajikan”. (Surah Imraan, ayat 133 & 134).
Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian
untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut
tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi.
Kita tidak datang ke bumi ini untuk merosakkan dunia ini. Kita dihantar ke
mari bukan untuk makan, minum dan berak. Roh penghulu kita
menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu.
Baginda s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari
apabila baginda s.a.w bersabda, “Dukacitaku adalah untuk umat yang aku
kasihi yang akan datang kemudian”.
Apa sahaja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu
bentuk, secara nyata atau tersembunyi; nyata dalam bentuk peraturan
syarikat dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau
makrifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya
mensejahterakan zahir kita dengan mematuhi peraturan syarikat dan
meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan
memperolehi hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Bila zahir dan batin
kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau makrifat dengan
peraturan agama (syarikat) bersatu, seseorang itu sampai kepada makam
yang sebenarnya (hakikat).
“Dia alirkan dua laut, padahal kedua-duanya bertemu. Antara dua itu ada
dinding yang kedua-duanya tidak mampu melewatinya”. (Surah Imraan,
ayat 19 & 20).
Kedua-duanya mesti menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan
diperolehi dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera
dan deria-deria tentang alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak
mungkin mencapai matlamat, sumber, iaitu Zat. Ibadat dan penyembahan
memerlukan kedua-duanya iaitu peraturan syarikat dan makrifat. Allah
berfirman tentang ibadat:
“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan
diri kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).
Dalam lain perkataan, ‘mereka diciptakan supaya mengenali Daku’ . Jika
seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia boleh memuji-Nya dengan
sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya?
Makrifat yang diperlukan bagi mengenali-Nya boleh dicapai dengan
menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang,
menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya.
Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar
pada rahasia cermin hati.
Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya:
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu
Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.
Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah,
memperolehi makrifat.
Ada dua peringkat makrifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-
sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau penzahiran bagi
sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali
sifat-sifat Allah manusia secara zahirnya dapat menikmati kedua-duanya
iaitu dunia dan akhirat. Makrifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak
diperolehi dengan diri zahir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci
manusia yang berada di dalam dirinya yang zahir ini.
“Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah,
ayat 87).
Orang yang mengenali Zat Allah menemui kuasa ini melalui roh kudus
(suci) yang dikurniakan kepada mereka.
Kedua-dua makrifat tersebut diperolehi dengan hikmah kebijaksanaan
yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di
dalam dan pengetahuan zahir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya
diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda,
“Pengetahuan ada dua bahagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil
tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang
diperlukan bagi melaksanakan harapan kita”.
Pada peringkat permulaannya seseorang itu memerlukan pengetahuan
syarikat. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar
tentang Zat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama
ini. Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan
kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam
bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat).
Pada peringkat yang pertama seseorang itu mestilah meninggalkan segala-
galanya yang tidak dipersetujui oleh syariat malah, kesilapan di dalam
melakukan perbuatan yang baik mestilah dihapuskan. Perbuatan yang baik
mestilah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada
jalan sufi. Keadaan ini boleh dicapai dengan melatihkan diri dengan
melakukan perkara-perkara yang tidak dipersetujui oleh ego diri sendiri
dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu.
Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk
dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain.
Semuanya mestilah dilakukan semata-mata kerana Allah, demi mencari
keredaan-Nya. Allah berfirman:
“Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan
amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah
dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).
Apa yang dihuraikan sebagai daerah makrifat itu adalah tahap
penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan
merupakan rumah yang setiap orang kembali ke sana . Di samalah roh suci
dijadikan. Apa yang dimaksudkan dengan roh suci adalah roh insan. Ia
dijadikan dalam bentuk yang paling baik.
Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati
sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan
dengan selamat. Ia bangkit dan menyata melalui taubat yang sungguh-
sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan
memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingati Allah terus
menerus, mengulangi kalimah “La ilaha illah Llah” . Pada mulanya kalimah
ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam,
dengan hati.
Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan
menganggapnya sebagai bayi, iaitu bayi yang lahir di dalam hati, dibela
dan dibesarkan di sana . Hati memainkan peranan seperti ibu,
melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika
anak-anak diajarkan kepakaran keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati
pula diajarkan makrifat rohani. Sebagaimana kanak-kanak bersih daripada
dosa, bayi hati adalah tulen, bebas daripada kelalaian, ego dan ragu-ragu.
Kesucian bayi biasanya menyata dalam bentuk zahir yang cantik. Dalam
mimpi, kesucian dan ketulenan bayi hati muncul dalam rupa malaikat.
Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada
perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari syurga
didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati.
“Dalam kebun-kebun kenikmatan…melayani mereka anak-anak muda yang
tidak berubah keadaan mereka”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).
“Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang
tersimpan”. (Surah Tur, ayat 24).
Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada
sufi, dipanggil anak-anak kerana keelokan dan ketulenan mereka.
Keindahan dan ketulenan mereka menyata dalam kewujudan zahir, dalam
darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh kerana keelokan dan
kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah
manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan
kerana dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil
sebenar kemanusiaan. Di dalam kesedarannya tidak ada sesuatu malah dia
tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tiada hijab, tiada halangan di antara
kewujudannya dengan Zat Allah.
Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana
sabda baginda s.a.w, “ Ada masa aku dengan Allah di mana tiada malaikat
yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus”. Maksud ‘nabi’ di sini ialah
kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri. Malaikat
yang paling hampir dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w,
kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat
hampir dengan Allah sehingga wujud zahirnya dan rohnya tidak
berkesempatan menghijabkannya dengan Allah. Baginda s.a.w
menggambarkan lagi suasana demikian, “ Ada syurga Allah yang tidak ada
mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di
dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci” .
Allah s.w.t berfirman: “Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannya dia memandang”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).
Pada suasana atau makam tersebut jika seseorang makhluk termasuklah
malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu.
Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya:
“Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang
sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh
pandangan-Ku”.
Jibrail yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila
sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu
langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu.
4: MANUSIA KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN, KEPADA ASAL USUL /
PERMULAAN MEREKA
Manusia dipandang daripada dua sudut; wujud lahiriah dan wujud rohani.
Dalam segi kewujudan lahiriah keadaan kebanyakan manusia adalah
berlebih kurang saja di antara satu sama lain. Oleh yang demikian
peraturan kemanusiaan yang umum boleh digunakan untuk sekalian
manusia bagi urusan lahiriah mereka. Dalam sudut kewujudan rohani
yang tersembunyi di sebalik wujud lahiriah, setiap manusia adalah
berbeda. Jadi, peraturan yang khusus mengenai diri masing-masing
diperlukan.
Manusia boleh kembali kepada asalnya dengan mengikuti peraturan umum,
dengan mengambil langkah-langkah tertentu. Dia mestilah mengambil
peraturan agama yang jelas dan mematuhinya. Dengan demikian dia boleh
maju ke hadapan. Dia boleh meningkat dari satu peringkat kepada
peringkat yang lebih tinggi sehingga dia sampai dan memasuki jalan atau
peringkat kerohanian, masuk ke daerah makrifat. Peringkat ini sangat
tinggi dan dipuji oleh Rasulullah s.a.w, “ Ada suasana yang semua dan
segala-galanya berkumpul di sana dan ia adalah makrifat yang murni”.
Untuk sampai ke peringkat tersebut Perlulah dibuang kepura-puraan dan
kepalsuan yang melakukan kebaikan kerana menunjuk-nunjuk. Kemudian
dia perlu menetapkan tiga matlamat. Tiga matlamat tersebut sebenarnya
adalah tiga jenis syurga. Yang pertama dinamakan Ma’wa – syurga tempat
kediaman yang aman. Ia adalah syurga duniawi. Kedua, Na’im – taman
keredaan Allah dan kurniaan-Nya kepada makhluk-Nya. Ia adalah syurga
di dalam alam malaikat.
Ketiga dinamakan Firdaus – syurga alam tinggi. Ia adalah syurga pada alam
kesatuan akal asbab, rumah kediaman bagi roh-roh, medan bagi nama-
nama dan sifat-sifat. Kesemua ini adalah balasan yang baik, keelokan Allah
yang manusia berjasad akan nikmati dalam usahanya sepanjang tiga
peringkat ilmu pengetahuan yang berturut-turut; usaha mematuhi
peraturan syariat; usaha menghapuskan yang berbilang-bilang pada
dirinya, melawan penyebab yang menimbulkan suasana berbilang-bilang
itu, iaitu ego diri sendiri, bagi mencapai peringkat penyatuan dan
kehampiran dengan Pencipta; akhirnya usaha untuk mencapai makrifat, di
mana dia mengenali Tuhannya. Peringkat pertama dinamakan syariat,
kedua tarekat dan ketiga makrifat.
Nabi Muhammad s.a.w menyimpulkan keadaan-keadaan tersebut dengan
sabda baginda s.a.w, “ Ada suasana di mana semua dan segala-galanya
dikumpulkan dan ia adalah hikmah kebijaksanaan (makrifat)”. Baginda
s.a.w juga bersabda, “Dengannya seseorang mengetahui kebenaran
(hakikat), yang berkumpul di dalamnya sebab-sebab dan semua kebaikan.
Kemudian seseorang itu mesti bertindak atas kebenaran (hakikat) tersebut.
Dia juga perlu mengenali kepalsuan dan bertindak ke atasnya dengan
meninggalkan segala yang demikian”. Baginda s.a.w mendoakan, “Ya
Allah, tunjukkan kepada kami yang benar dan jadikan pilihan kami
mengikuti yang benar itu. Dan juga tunjukkan kepada kami yang tidak
benar dan permudahkan kami meninggalkannya”. Orang yang kenal
dirinya dan menentang keinginannya yang salah dengan segala
kekuatannya akan sampai kepada mengenali Tuhannya dan akan menjadi
taat kepada kehendak-Nya.
Semua ini adalah peraturan umum yang mengenai diri zahir manusia.
Kemudian ada pula aspek diri rohani atau diri batin manusia yang
merupakan insan yang tulen, suci bersih dan murni. Maksud dan tujuan
diri ini hanya satu iaitu kehampiran secara keseluruhan kepada Allah
s.w.t. Satu cara sahaja untuk mencapai suasana yang demikian, iaitu
pengetahuan tentang yang sebenarnya (hakikat). Di dalam daerah wujud
penyatuan mutlak, pengetahuan ini dinamakan kesatuan atau keesaan.
Matlamat pada jalan tersebut harus diperolehi di dalam kehidupan ini. Di
dalam suasana itu tiada beza di antara tidur dengan jaga kerana di dalam
tidur roh berkesempatan membebaskan dirinya untuk kembali kepada
asalnya, alam arwah, dan dari sana kembali semula ke sini dengan
membawa berita-berita dari alam ghaib. Fenomena ini dinamakan mimpi.
Dalam keadaan mimpi ia berlaku secara sebahagian-bahagian. Ia juga
boleh berlaku secara menyeluruh seperti israk dan mikraj Rasulullah s.a.w.
Allah berfirman: “Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan yang tidak
mati, dalam tidurnya, lalu Dia tahan yang dihukumkan mati atasnya dan
Dia lepaskan yang lain”. (Surah Zumaar, ayat 42).
Nabi s.a.w bersabda, “Tidur orang alim lebih baik daripada ibadat orang
jahil” . Orang alim adalah orang yang telah memperolehi pengetahuan
tentang hakikat atau yang sebenar, yang tidak berhuruf, tidak bersuara.
Pengetahuan demikian diperolehi dengan terus menerus berzikir nama
keesaan Yang Maha Suci dengan lidah rahsia. Orang alim adalah orang
yang zat dirinya ditukarkan kepada cahaya suci oleh cahaya keesaan. Allah
berfirman melalui rasul-Nya: “Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya.
Pengetahuan batin tentang hakikat roh adalah rahsia kepada rahsia-rahsia-
Ku. Aku campakkan ke dalam hati hamba-hamba-Ku yang baik-baik dan
tiada siapa tahu Keadaannya melainkan Aku.”
“Aku adalah sebagaimana hamba-Ku mengenali Daku. Bila dia mencari-Ku
dan ingat kepada-Ku, Aku besertanya. Jika dia mencari-Ku di dalam, Aku
mendapatkannya dengan Zat-Ku. Jika dia ingat dan menyebut-Ku di dalam
jemaah yang baik, Aku ingat dan menyebutnya di dalam jemaah yang lebih
baik”.
Segala yang dikatakan di sini jika berhasrat mencapainya perlulah
melakukan tafakur – cara mendapatkaan pengetahuan yang demikian
jarang digunakan oleh orang ramai. Nabi s.a.w bersabda, “Satu saat
bertafakur lebih bernilai daripada satu tahun beribadat”. “Satu saat
bertafakur lebih bernilai daripada tujuh puluh tahun beribadat”. “Satu saat
bertafakur lebih bernilai daripada seribu tahun beribadat”.
Nilai sesuatu amalan itu tersembunyi di dalam hakikat kepada yang
sebenarnya. Perbuatan bertafakur di sini nampaknya mempunyai nilai
yang berbeda.
Sesiapa merenungi sesuatu perkara dan mencari penyebabnya dia akan
mendapati setiap bahagian mempunyai bahagian-bahagian sendiri dan dia
juga mendapati setiap satu itu menjadi penyebab kepada berbagai-bagai
perkara lain. Renungan begini bernilai satu tahun ibadat.
Sesiapa merenungi kepada pengabdiannya dan mencari penyebab dan
alasan dan dia dapat mengetahui yang demikian, renungannya bernilai
lebih daripada tujuh puluh tahun ibadat.
Sesiapa merenungkan hikmah kebijaksanaan Ilahi dan bidang makrifat
dengan segala kesungguhannya untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi,
renungannya bernilai lebih daripada seribu tahun ibadat kerana ini adalah
ilmu pengetahuan yang sebenarnya.
Pengetahuan yang sebenarnya adalah suasana keesaan. Orang arif yang
menyintai menyatu dengan yang dicintainya. Daripada alam kebendaan
terbang dengan sayap kerohanian meninggi hingga kepada puncak
pencapaian. Bagi ahli ibadat berjalan di dalam syurga, sementara orang
arif terbang kepada kedudukan berhampiran dengan Tuhannya. Para
pencinta mempunyai mata pada hati mereka mereka memandang
sementara yang lain terpejam sayap yang mereka miliki tanpa daging
tanpa darah mereka terbang ke arah malaikat Tuhan jualah yang dicari!
Penerbangan ini terjadi di dalam alam kerohanian orang arif. Para
arifbillah mendapat penghormatan dipanggil insan sejati, menjadi kekasih
Allah, sahabat-Nya yang akrab, pengantin-Nya. Bayazid al-Bustami berkata,
“Para Pemegang makrifat adalah pengantin Allah Yang Maha Tinggi”.
Hanya pemilik-pemilik ‘pengantin yang pengasih’ mengenali mereka
dengan dekat dan secara mesra..
Orang-orang arif yang menjadi sahabat akrab Allah, walaupun sangat
cantik, tetapi ditutupi oleh keadaan luaran yang sangat sederhana, seperti
manusia biasa. Allah berfirman melalui rasul-Nya: “ Para sahabat-Ku
tersembunyi di bawah kubah-Ku. Tiada yang mengenali mereka kecuali
Aku”.
Kubah yang di bawahnya Allah sembunyikan sahabat-sahabat akrab-Nya
adalah keadaan mereka yang tidak terkenal, rupa yang biasa sahaja,
sederhana dalam segala hal. Bila melihat kepada pengantin yang ditutupi
oleh tabir perkahwinan, apakah yang dapat dilihat kecuali tabir itu?
Yahya bin Muadh al-Razi berkata, “ Para kekasih Allah adalah air wangi
Allah di dalam dunia. Tetapi hanya orang-orang yang beriman yang benar
dan jujur sahaja dapat menciumnya”. Mereka mencium keharuman baunya
lalu mereka mengikuti bau itu. Keharuman itu mengwujudkan kerinduan
terhadap Allah dalam hati mereka. Masing-masing dengan cara tersendiri
mempercepatkan langkahnya, menambahkan usaha dan ketaatannya.
Darjah kerinduannya, keinginannya dan kelajuan perjalanannya
bergantung kepada berapa ringan beban yang dibawanya, sejauh mana dia
telah melepaskan diri kebendaan dan keduniaannya. Semakin banyak
seseorang itu menanggalkan pakaian dunia yang kasar ini semakin dia
merasakan kehangatan. Penciptanya dan semakin hampirlah kepada
permukaan akan muncul diri rohaninya. Kehampiran dengan yang
sebenar (hakikat) bergantung kepada sejauh mana seseorang itu
melepaskan kebendaan dan keduniaan yang menipu daya.
Penanggalan aspek yang berbilang-bilang pada diri membawa seseorang
hampir dengan satu-satunya kebenaran. Orang yang akrab dengan Allah
adalah orang yang telah membawa dirinya kepada keadaan kekosongan.
Hanya selepas itu baharulah dia dapat melihat kewujudan yang sebenarnya
(hakikat). Tidak ada lagi kehendak pada dirinya untuk dia membuat
sebarang pilihan. Tiada lagi ‘aku’ yang tinggal, kecuali kewujudan satu-
satunya iaitu yang sebenarnya (hakikat). Walaupun berbagai-bagai
kekeramatan yang muncul melalui dirinya sebagai membuktikan
kedudukannya, dia tidak ada kena mengena dengan semua itu. Di dalam
suasananya tidak ada pembukaan terhadap rahsia-rahsia kerana membuka
rahsia Ilahi adalah kekufuran.
Di dalam buku yang bertajuk “Mirsad” ada dituliskan, ‘Semua orang yang
kekeramatan zahir melalui mereka adalah ditutup daripadanya dan tidak
memperdulikan keadaan tersebut. Bagi mereka masa kekeramatan muncul
melalui mereka dianggap sebagai masa perempuan keluar darah haid.
Wali-wali yang hampir dengan Allah perlu mengembara sekurang-
kurangnya seribu peringkat, yang pertamanya ialah pintu kekeramatan.
Hanya mereka yang dapat melepasi pintu ini tanpa dicederakan akan
meningkat kepada peringkat-peringkat lain yang lebih tinggi. Jika mereka
leka mereka tidak akan sampai ke mana-mana.
5: PENURUNAN MANUSIA KE PERINGKAT RENDAH YANG PALING BAWAH
Allah Yang Maha Tinggi menciptakan roh suci sebagai ciptaan yang paling
sempurna , yang pertama diciptakan, di dalam alam kewujudan mutlak
bagi Zat-Nya. Kemudian Dia berkehendak menghantarkannya kepada alam
rendah. Tujuan Dia berbuat demikian ialah bagi mengajar roh suci mencari
jalan kembali kepada yang sebenar di tahap Maha Kuasa, mencari
kedudukannya yang dahulu yang hampir dan akrab dengan Allah.
Dihantarkan-Nya roh suci kepada perhentian utusan-utusan-Nya, wali-wali-
Nya, kekasih-kekasih dan sahabat-sahabat-Nya.
Dalam perjalanannya, Allah menghantarkannya mula-mula kepada
kedudukan akal asbab bagi keesaan, bagi roh universal, alam nama-nama
dan sifat-sifat Ilahi, alam hakikat kepada Muhammad s.a.w. Roh suci
memiliki dan membawa bersama-samanya benih kesatuan. Apabila
melalui alam ini ia dipakaikan cahaya suci dan dinamakan ‘roh sultan’.
Apaabila melalui alam malaikat yang menjadi perantaraan kepada mimpi-
mimpi, ia mendapat nama ‘roh perpindahan’. Bila akhirnya ia turun
kepada dunia kebendaan ini ia dibaluti dengan daging yang Allah ciptakan
untuk kesesuaian makhluk-Nya. Ia dibaluti oleh jirim yang kasar bagi
menyelamatkan dunia ini kerana dunia kebendaan jika berhubung secara
langsung dengan roh suci maka dunia kebendaan akan terbakar menjadi
abu. Dalam hubungannya dengan dunia ini ia dikenali sebagai kehidupan,
roh manusia.
Tujuan roh suci dihantar ke tempat ciptaan yang paling rendah ini ialah
supaya ia mencari jalan kembali kepada kedudukannya yang asal, makam
kehampiran, ketika ia masih di dalam bentuk berdaging dan bertulang ini.
Ia sepatutnya datang ke alam benda yang kasar ini, dan dengan melalui
hatinya yang berada di dalam mayat ini, menanamkan benih kesatuan dan
menunbuhkan pokok keesaan di dalam dunia ini. Akar pokok masih berada
pada tempat asalnya. Dahannya memenuhi ruang kebahagiaan, dan di sana
demi keredaan Allah, mengeluarkan buah kesatuan. Kemudian di dalam
bumi hati roh itu menanamkan benih agama dan bercita-cita
menumbuhkan pokok agama agar diperolehi buahnya, tiap satunya akan
menaikkannya kepada peringkat yang lebih hampir dengan Allah.
Allah membuatkan jasad-jasad atau tubuh-tubuh untuk dimasuki oleh roh-
roh dan bagi roh-roh ini masing-masing mempunyai nama yang berbeza-
beza. Dia bena ruang penyesuaian di dalam tubuh. Diletakkan-Nya roh
manusia, roh kehidupan di antara daging dan darah. Diletakkan-Nya roh
suci di tengah-tengah hati, di mana dibena ruang bagi jirim yang sangat
seni untuk menyimpan rahasia di antara Allah dengan hamba-Nya. Roh-
roh ini berada pada tempat yang berbeda-beda dalam tubuh, dengan tugas
yang berbeda, urusan yang berbeda, masing-masing umpama membeli dan
menjual barang yang berlainan, mendapat faedah yang berbeda.
Perniagaan mereka sentiasa membawakan kepada mereka banyak manfaat
dalam bentuk nikmati dan rahmat Allah. “Daripada apa yang Kami berikan
kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terang, (mereka)
mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi”. (Surah Fatir, ayat 29).
Layaklah bagi setiap manusia mengetahui urusannya di dalam alam
kewujudan dirinya sendiri dan memahami tujuannya. Dia mestilah faham
bahawa dia tidak boleh meminda apa yang telah dihukumkan sebagai
benar untuknya dan digantungkan dilehernya. Bagi orang yang mahu
meminda apa yang telah dihukumkan untuknya, yang terikat dengan cita-
cita dan dunia ini Allah berkata: “Tidaklah (mahu) dia ketahui (bagaimana
keadaan) apabila dibongkarkan apa-apa yang di dalam kubur? Dan
dizahirkan apa-apa yang di dalam dada?” (Surah ‘Aadiyat, ayat 9). “Dan
tiap-tiap manusia Kami gantungkan (catatan) amalannya pada
tengkuknya…” (Surah Bani Israil, ayat 13).
6: TEMPAT ROH-ROH DI DALAM BADAN
Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat
ini berhubung dengan pancaindera dan deria-deria. Urusan atau
bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah .
Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia
nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bertindak menurut
kewajipan yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya
sebagai perbuatannya sendiri kerana dia tidak berpisah dengan Allah.
Perbuatannya daripada Allah; tidak ada perpisahan di antara ‘aku’ dengan
Allah di dalam tindakan dan ketaatannya. “Barangsiapa percaya akan
pertemuan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal salih dan janganlah ia
sekutukan sesuatu dalam ibadat kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat
110).
Allah adalah esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mahu
semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai
pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak
dikongsikan dengan apa sahaja. Jadi, seseorang tidak memerlukan
kelulusan atau halangan daripada sesiapa pun di dalam pengabdiannya
kepada Tuhannya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi.
Semuanya semata-mata kerana Allah. Suasana yang dihasilkan oleh
petunjuk Ilahi seperti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam
alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak,
hakikat di sebalik yang nyata, kehampiran dengan Pencipta, semuanya
adalah ganjaran bagi amalan kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa
mementingkan diri sendiri. Namun, semuanya itu di dalam taklukan alam
benda, daripada bumi yang di bawah tapak kaki kita sehinggalah kepada
langit-langit. Termasuk juga di dalam taklukan alam dunia ialah
kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air,
terbang di udara, berjalan dengan pantas, mendengar suara dan melihat
gambaran dari tempat yang jauh atau boleh membaca fikiran yang
tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amalan yang baik manusia juga
diberikan nikmati di akhirat seperti syurga, khadam-khadam, bidadari,
susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati syurga
tingkat pertama, syurga dunia.
Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ ialah di dalam hati.
Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait
dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah.
Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak
termasuk di dalam sempadan suara dan huruf. Jadi, ia tidak boleh disebut.
Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Dan bagi Allah jualah nama-nama yang baik, jadi serulah Dia dengan
nama-nama tersebut”. (Surah A’raaf, ayat 180).
Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah
mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang.
Jika mampu memperolehi pengetahuan yang demikian dia akan sampai
kepada makam makrifat. Di samalah pengetahuan tentang nama keesaan
sempurna.
Nabi s.a.w bersabda, “ Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh
sembilan nama, siapa mempelajarinya akan masuk syurga” . Baginda s.a.w
juga bersabda, “Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya
seribu” . Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar
sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya.
Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lengkungan sumber
pengakuan tauhid “La ilaha illa Llah” . Tiap satunya adalah satu daripada
dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi
mengurniakan nama masing-masing bagi setiap huruf di dalam
perkembangan hati. Setiap satu daripada empat alam yang dilalui oleh roh
terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara
ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya.
Firman-Nya: “Allah tetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan
yang tetap di Penghidupan dunia dan akhirat”. (Surah Ibrahim, ayat 27).
Kemudian dikurniakan kepada mereka kehampiran-Nya. Dia sediakan
pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada
tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan
meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah
berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah adakan misal,
satu kalimah yang baik seperti pohon yang baik, pangkalnya tetap dan
cabangnya ke langit . (Surah Ibrahim, ayat 24).
Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ adalah di dalam nyawa
kepada hati. Alam malaikat berterusan di dalam penyaksiannya. Ia boleh
melihat syurga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat
di dalamnya. Kalam ‘roh peralihan’ adalah bahasa alam batin, tanpa huruf
tanpa suara. Perhatiannya berterusan menyentuh soal-soal rahsia-rahsia
maksud yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah
syurga Na’im, taman kegembiraan kurniaan Allah.
Tempat ‘roh sultan’ di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati,
jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah
mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi
semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi
s.a.w bersabda, “Ilmu ada dua bahagian. Satu pada lidah, yang
membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu
bagi menyedarkan tujuan seseorang”. Ilmu yang sebenar-benarnya
bermanfaat berada di dalam sempadan kegiatan hati. Nabi s.a.w bersabda,
“Quran yang mulia mempunyai makna zahir dan makna batin” . Allah
Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang
tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada
yang sebelumnya kerana ia semakin hampir dengan sumber yang
sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah umpama dua
belas mata air yang memancar dari batu apabila Nabi Musa a.s
menghentamkan batu itu dengan tongkatnya.
“Dan (ingatlah) tatkala Musa mintakan air bagi kaumnya, maka Kami
berkata, ‘Pukullah batu itu dengan tingkat kamu’. Lantas terpancar
daripadanya dua belas mata air yang sesungguhnya setiap golongan itu
mengetahui tempat minumnya”. (Surah Baqarah, ayat 60) .
Pengetahuan zahir adalah umpama air hujan yang datang dan pergi
sementara pengetahuan batin umpama mata air yang tidak pernah kering.
“Dan satu tanda untuk mereka, ialah bumi yang mati (lalu) Kami
hidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, lalu mereka
memakannya”. (Surah Yaa Sin, ayat 33).
Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan
kepada kehaiwanan di dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih
di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan,
makanan roh. Bijian itu dijiruskan dengan air dari sumber hikmah. Nabi
s.a.w bersabda, “Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam
keikhlasan dan kesucian sumber hikmah akan memancar dari hatinya
kepada lidahnya”.
Nikmat bagi ‘roh sultan ialah kelazatan dan kecintaan yang dinikmatinya
dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan
Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah: “Dia telah diajar oleh yang
bersangatan kekuatannya, yang berupa bagus, lalu ia menjelma dengan
sempurnanya padahal ia di pehak atas yang paling tinggi. Kemudian ia
mendekati rapat (kepadanya), maka adalah (rapatnya) itu kadar dua busur
panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Ia wahyukan kepada hamba-Nya apa
yang Ia mahu wahyukan. Hatinya tidak mendusta apa yang dia lihat”.
(Surah Najmi, ayat 5 – 11).
Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, “Yang
beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang
sejahtera)” . Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang
yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah
yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain daripada
Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam
Quran sebagai Yang Mensejahterakan. “Dia jualah Allah yang tiada Tuhan
melainkan Dia…Yang Mensejahterakan (Pemelihara iman), Pemelihara
segala-galanya” . (Surah Hasyr, ayat 23).
Kediaman ‘roh sultan’ di akhirat ialah syurga Firdaus, syurga yang tinggi.
Setesen di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahsia yang Allah buatkan
untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahsia-Nya
(Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh
Allah melalui pesuruh-Nya:
“Insan adalah rahsia-Ku dan Aku rahsianya”.
Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperolehi dengan mencapai
keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak
kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama
keesaan di dalam bahasa rahsia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi
di luar.
“Dan jika engkau nyaringkan perkataan, maka Sesungguhnya Dia
mengetahui rahsia dan yang lebih tersembunyi”. (Surah Ta Ha, ayat 7)
Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui
keadaannya.
Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama.
Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian
rahsia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada
perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikanya.
Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai esa
dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya.
Bila manusia temui matlamatnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal
asbab, pertimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan
tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat,
lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut
kerana Allah tidak menyerupai sesuatu.
Bila apa yang diperkatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu,
mula-mula cubalah memahami tahap pengetahuan sendiri. Tumpukan
perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang
sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum
mencari peringkat baharu, semoga mereka memperolehi pengetahuan
tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi. Semoga mereka tidak menafikan apa
yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat,
kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan.
7: ILMU PENGETAHUAN DAN PERKEMBANGAN KEROHANIAN
Ilmu pengetahuan zahir mengenai benda-benda yang nyata dibahagikan
kepada dua belas bahagian dan ilmu pengetahuan batin juga dibahagikan
kepada dua belas bahagian. Bahagian-bahagian tersebut dibahagikan di
kalangan orang awam dan orang khusus, hamba-hamba Allah yang sejati,
menurut kadar keupayaan dan kebolehan mereka.
Bagi tujuan yang berkaitan dengan kita pembicaraan ilmiah mengenai ini
dibuat dalam empat bahagian. Bahagian pertama melibatkan peraturan
agama , mengenai kewajipan dan larangan berhubung dengan perkara-
perkara dan peraturan-peraturan di dalam dunia ini. Kedua menyentuh
soal pengertian atau maksud dalaman serta tujuan kepada peraturan-
peraturan tersebut dan bahagian ini dinamakan bidang kerohanian yaitu
pengetahuan mengenai perkara-perkara yang tidak nyata. Ketiga mengenai
hakikat kerohanian yang tersembunyi yang dinamakan kearifan. Keempat
mengenai hakikat dalaman kepada hakikat yaitu mengenai kebenaran yang
sebenar-benarnya. Manusia yang sempurna perlu mempelajari semua
bidang atau bahagian tersebut dan mencari jalan ke arahnya.
Nabi s.a.w bersabda, “Agama ialah pokok, kerohanian adalah dahannya,
kearifan (makrifat) adalah daunnya, kebenaran (hakikat) adalah buahnya.
Quran dengan ulasannya, keterangannya, terjemahannya dan ibarat-
ibaratnya mengandungi semuanya itu” . Di dalam buku al-Najma
perkataan-perkataan tafsir, ulasan dan takwil serta terjemahan melalui
ibarat dimengertikan sebagai: ulasan terhadap Quran adalah keterangan
dan perincian bagi faedah kefahaman orang awam, sementara terjemahan
melalui ibarat adalah keterangan tentang maksud yang tersirat yang boleh
diselami melalui tafakur yang mendalam serta memperolehi ilham
sebagaimana yang dialami oleh orang-orang beriman yang sejati.
Terjemahan yang demikian adalah untuk hamba-hamba Allah yang khusus
lagi teguh, berterusan di dalam suasana kerohanian mereka dan teguh
dengan pengetahuan yang membolehkan mereka membuat pertimbangan
yang benar. Kaki mereka teguh berpijak di atas bumi sementara hati dan
fikiran mereka menjulang kepada ilmu ketuhanan. Dengan rahmat Allah
keadaan berterusan begini yang tidak bercampur dengan keraguan di
tempatkan di tengah-tengah hati mereka. Hati yang teguh dalam suasana
ini bersesuaian dengan bahagian kalimah tauhid “La ilaha illa Llah” ,
pengakuan terakhir keesaan.
“Dia jualah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Sebahagiannya adalah
ayat-ayat yang menghukum, yaitu ibu-ibu bagi Kitab, dan (sebahagian)
yang lain adalah ayat-ayat yang perlukan takwil. Adapun orang-orang yang
di hati mereka ada kesesatan mencari-cari apa yang ditakwil daripadanya
kerana hendak membuat fitnah dan kerana hendak membuat takwilnya
sendiri padahal tidak mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-
orang yang teguh kuat di dalam ilmu berkata, ‘Kami beriman kepadanya
(kerana) semua itu daripada Tuhan kami’, dan tidak mengerti melainkan
orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Surah Imraan, ayat 7)
Jika pintu kepada ayat ini terbuka akan terbuka juga semua pintu-pintu
kepada alam rahasia batin.
Hamba Allah yang sejati berkewajipan melaksanakan perintah-perintah-
Nya dan menjauhkan diri daripada larangan-Nya. Dia juga perlu
menentang ego dirinya dan membendung kecenderungan jasad yang tidak
sehat. Asas penentangan ego terhadap agama adalah dalam bentuk
khayalan dan gambaran yang bercanggah dengan kenyataan. Pada
peringkat kerohanian ego yang khianat itu menggalakkan seseorang supaya
memperakui dan mengikuti sebab-sebab dan rangsangan yang hanya
hampir dengan kebenaran (bukan kebenaran yang sejati), walaupun ianya
risalat nabi dan fatwa wali yang telah diubah, juga mengikuti guru yang
pendapatnya salah. Pada peringkat makrifat ego cuba menggalakkan
seseorang supaya memperakui kewalian dirinya sendiri malah ego juga
mengheret seseorang kepada mengakui ketuhanannya – dosa paling besar
menganggapkan diri sendiri sebagai bersekutu dengan Allah. Allah
berfirman: “Tidakkah engkau perhatikan orang yang mengambil hawa
nafsunya sebagai tuhan..” (Surah Furqaan, ayat 43).
Tetapi peringkat kebenaran sejati adalah berbeda. Ego dan iblis tidak boleh
sampai ke sana . Malah malaikat juga tidak sampai ke sana . Sesiapa sahaja
kecuali Allah jika sampai ke sana pasti terbakar. Jibrail berkata kepada
Nabi Muhamamd s.a.w pada sempadan peringkat ini, “Jika aku mara satu
langkah lagi aku akan terbakar menjadi abu”.
Hamba Allah yang sejati bebas daripada perlawanan egonya dan iblis
kerana dia dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian.
“Ia (iblis) berkata: Oleh itu demi kemuliaan-Mu, aku akan sesatkan mereka
semuanya, kecuali di antara mereka hamba-hamba-Mu yang dibersihkan” .
(Surah Shad, ayat 82 & 83).
Manusia tidak dapat mencapai hakikat kecuali dia suci murni kerana sifat-
sifat keduniaannya tidak akan meninggalkannya sehinggalah hakikat
menyata dalam dirinya. Ini adalah keikhlasan sejati. Kejahilannya hanya
akan meninggalkannya bila dia menerima pengetahuan tentang Zat Allah.
Ini tidak dapat dicapai dengan pelajaran; hanya Allah tanpa pengantaraan
boleh mengajarnya. Bila Allah Yang Maha Tinggi sendiri yang menjadi
Guru, Dia kurniakan ilmu yang daripada-Nya sebagaimana Dia lakukan
kepada Khaidhir. Kemudian manusia dengan kesedaran yang
diperolehinya sampai kepada peringkat makrifat di mana dia mengenali
Tuhannya dan menyembah-Nya yang dia kenal.
Orang yang sampai kepada suasana ini memiliki penyaksian roh suci dan
dapat melihat kekasih Allah, Nabi Muhamamd s.a.w. Dia boleh bercakap
dengan baginda s.a.w mengenai segala perkara daripada awal hingga ke
akhirnya dan semua nabi-nabi yang lain memberikannya khabar gembira
tentang janji penyatuan dengan yang dikasihi. Allah menggambarkan
suasana ini: “Kerana Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka
mereka beserta orang-orang yang diberi nikmat daripada nabi-nabi,
siddiqin, syuhada dan salihin dan Alangkah baiknya mereka ini sebagai
sahabat rapat”. (Surah Nisaa’ ,ayat 69).
Orang yang tidak boleh menemui pengetahuan ini di dalam dirinya tidak
akan menjadi arif walaupun dia membaca seribu buah buku. Nikmat yang
boleh diharapkan oleh orang yang mempelajari ilmu zahir ialah syurga; di
sana semua yang dapat dilihat adalah kenyataan sifat-sifat Ilahi dalam
bentuk cahaya. Tidak kira bagaimana sempurna pengetahuannya tentang
perkara nyata yang boleh dilihat dan dipercayai, ia tidak membantu
seseorang untuk masuk kepada suasana kesucian dan mulia, iaitu
kehampiran dengan Allah, kerana seseorang itu perlu terbang ke tempat
tersebut dan untuk terbang perlu kepada dua sayap. Hamba Allah yang
sejati adalah yang terbang ke sana dengan menggunakan dua sayap, iaitu
pengetahuan zahir dan pengetahuan batin, tidak pernah berhenti di tengah
jalan, tidak tertarik dengan apa sahaja yang ditemui dalam perjalanannya.
Allah berfirman melalui rasul-Nya: “Hamba-Ku, jika kamu ingin masuk
kepada kesucian berhampiran dengan-Ku jangan pedulikan dunia ini
ataupun alam tinggi para malaikat, tidak juga yang lebih tinggi di mana
kamu boleh menerima sifat-sifat-Ku yang suci”.
Dunia kebendaan ini menjadi godaan dan tipu daya syaitan kepada orang
yang berilmu. Alam malaikat menjadi rangsangan kepada orang yang
bermakrifat dan suasana sifat-sifat Ilahi menjadi godaan kepada orang
yang memiliki kesedaran terhadap hakikat. Sesiapa yang berpuas hati
dengan salah satu daripada yang demikian akan terhalang daripada
kurniaan Allah yang membawanya hampir dengan Zat-Nya. Jika mereka
tertarik dengan godaan dan rangsangan tersebut mereka akan berhenti,
mereka tidak boleh maju ke hadapan, mereka tidak boleh terbang lebih
tinggi. Walaupun matlamat mereka adalah kehampiran dengan Pencipta
mereka tidak lagi boleh sampai ke sana . Mereka telah terpedaya, mereka
hanya memiliki satu sayap.
Orang yang mencapai kesedaran tentang hakikat yang sebenar, menerima
rahmat dan kurniaan dari Allah yang tidak pernah mata melihatnya dan
tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah hati mengetahui
namanya. Inilah syurga kehampiran dan keakraban dengan Allah. Di sana
tidak ada mahligai permata juga tidak ada bidadari yang cantik sebagai
pasangan. Semoga manusia mengetahui nilai dirinya dan tidak
berkehendak, tidak menuntut apa yang tidak layak baginya. Saidina Ali r.a
berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui harga dirinya,
yang tahu menjaga diri agar berada di dalam sempadannya, yang
memelihara lidahnya, yang tidak menghabiskan masanya dan umurnya di
dalam sia-sia”.
Orang yang berilmu mestilah menyedari bahawa bayi roh yang lahir dalam
hatinya adalah pengenalan mengenai kemanusiaan yang sebenar, iaitu
insan yang sejati. Dia patut mendidik bayi hati, ajarkan keesaan melalui
berterusan menyedari tentang keesaan – tinggalkan keduniaan kebendaan
ini yang berbilang-bilang, cari alam kerohanian, alam rahsia di mana tiada
yang lain kecuali Zat Allah. Dalam kenyataannya di sana bukan tempat, ia
tidak ada permulaan dan tidak ada penghujung. Bayi hati terbang melepasi
padang yang tiada berkesudahan itu, menyaksikan perkara-perkara yang
tidak pernah dilihat mata sebelumnya, tiada sesiapa bercerita
mengenainya, tiada sesiapa boleh menggambarkannya.
Tempat yang menjadi rumah kediaman bagi mereka yang meninggalkan
diri mereka dan menemui keesaan dengan Tuhan mereka, mereka yang
memandang dengan pandangan yang sama dengan Tuhan mereka,
pandangan keesaan. Bila mereka menyaksikan keindahan dan kemuliaan
Tuhan mereka tidak ada apa lagi yang tinggal dengan mereka. Bila dia
melihat matahari dia tidak dapat melihat yang lain, dia juga tidak dapat
melihat dirinya sendiri. Bila keindahan dan kemurahan Allah menjadi
nyata apa lagi yang tinggal dengan seseorang? Tidak ada apa-apa!
Nabi s.a.w bersabda, “Seseorang perlu dilahirkan dua kali untuk sampai
kepada alam malaikat”. Ia adalah kelahiran maksud daripada perbuatan
dan kelahiran rohani daripada jasad. Kemungkinan yang demikian ada
dengan manusia. Ini adalah keanehan rahsia manusia. Ia lahir daripada
percampuran pengetahuan tentang agama dan kesedaran terhadap hakikat,
sebagaimana bayi lahir hasil daripada percampuran dua titik air.
“Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia daripada setitik (mani) yang
bergiliran, yang Kami berikan percubaan kepada mereka, iaitu Kami
jadikan dia mendengar dan melihat”. (Surah Insaan, ayat 2).
Bila maksud menjadi nyata dalam kewujudan ia menjadi mudah untuk
melepasi bahagian yang cetek dan masuk ke dalam laut penciptaan dan
membenamkan dirinya ke dasar hukum-hukum peraturan Allah. Sekalian
alam kebendaan ini hanyalah satu titik jika dibandingkan dengan alam
kerohanian. Hanya bila semua ini difahamkan maka kuasa kerohanian dan
cahaya keajaiban yang bersifat ketuhanan, hakikat yang sebenar-
benarnya, memancar ke dalam dunia tanpa perkataan tanpa suara.

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAG-2

TERJEMAHKITAB SIRRUL ASRROR BAG-3

TERJEMAH KITAB SIRRUL ASROR BAG-4